Belle, Simbol Kekuatan dan Ketulusan Perempuan

Cover Novel Beauty And The Beast

Judul               : Beauty And The Beast
Penulis           : Madame de Villeneuve
Penerbit         : Qanita
Tahun            : Cet. 1 Februari 2017
Tebal              : 244 halaman
ISBN               : 978-602-402-054-5

Tahun ini, tepatnya tanggal 17 Maret 2017 kemarin, Walt Disney baru saja merilis versi live-action dari Beauty And The Beast setelah sebelumnya merilis film animasinya pada tahun 1991. Kisah klasik yang sudah ada sejak 400 tahun lalu ini menyimpan daya pikat yang seakan tak pernah luntur. Meski sudah berkali-kali diadaptasi ke dalam pelbagai pertunjukan opera, serial televisi, maupun film layar lebar, kisah yang ditulis Gabrielle-Suzanne Barbot de Villeneuve ini masih saja menarik untuk kembali dihadirkan sampai saat ini.

Novel Beauty And The Beast sendiri menghadirkan kisah menakjubkan tentang ketulusan hati, cinta, pengorbanan, dendam, juga pelbagai misteri yang tersimpan di dalamnya. Kisah ini digerakkan tokoh utama, seorang perempuan bernama Belle. Ia adalah perempuan cantik yang berbudi baik, berhati mulia, yang hidup bersama seorang ayah dan saudara perempuan dan laki-lakinya. Suatu ketika, sang ayah, seorang saudagar kaya, mengalami bangkrut dan membuat hidupnya beserta anak-anaknya jatuh dalam kemiskinan.

Tidak seperti saudara perempuan lain yang mengeluhkan kondisi, Belle menjadi satu-satunya anak perempuan yang memberi dukungan dan perhatian pada sang ayah saat terpuruk. Bahkan, kelak Belle pula yang menyelamatkan ayahnya ketika ia harus menyerahkan diri pada raksasa buruk rupa bernama Beast, untuk menebus kesalahan sang ayah terhadap raksasa tersebut. Sang ayah tentu tak tega mengorbankan anaknya untuk menyelamatkan nyawanya sendiri. Namun, Belle membulatkan tekad dan mempertaruhkan nyawanya dengan mendatangi sang raksasa.

Di istana ajaib yang hanya dihuni Beast, sang raksasa, kita diajak merasakan kegalauan Belle. Kekhawatiran tak terbukti. Meskipun kesepian karena di istana hanya ada ia dan sang raksasa, Belle mendapat pelayanan terbaik lewat hal-hal ajaib yang terjadi; makanan enak yang selalu tersedia, tempat tidur mewah, layar pertunjukan ajaib di jendela istana, dan kelinci dan burung-burung yang menemaninya di halaman istana. Semua disediakan sang raksasa Beast. Meski kata-katanya kasar dan kaku, Beast tak pernah menyakiti Belle.

Sampai suatu ketika, Beast, sang raksasa menyatakan niatnya untuk menikahi Belle. Inilah awal kegalauan Belle. Belle tak bisa begitu saja melupakan segala kebaikan raksasa tersebut. Namun, ia juga berpikir betapa mengerikan menikah dengan raksasa buruk rupa. Di satu sisi, selama hidup di istana itu, Belle terus bermimpi bertemu seorang lelaki misterus yang memikat hatinya. Lelaki itu begitu nyata di pikiran Belle, sampai-sampai ia mencarinya di sekeliling istana ketika terbangun.

Kita akan melihat bagaimana Belle mengambil keputusan-keputusan penting dalam hidupnya—yang sekaligus menentukan jalannya cerita. Di tengah kegalauan ajakan menikah dari Beast, serta bayangan lelaki misterius pujaan hati yang terus hadir dalam mimpinya, Belle harus menentukan sikap. Ketika akhirnya raksasa Beast mengalami sekarat saat Belle tak kunjung kembali ke istana setelah diizinkan pulang ke rumah menemui keluarganya selama beberapa waktu, Belle begitu tersentuh dan yakin bahwa Beast, raksasa itu tulus mencintainya. Belle akhirnya bersedia menikah dengan sang raksasa.

Belle yang berani menerima ajakan menikah sang raksasa kemudian membuka misteri demi misteri di balik istana tersebut. Secara mengejutkan, Beast, raksasa buruk rupa itu berubah menjadi seorang lelaki tampan. Ternyata, Beast adalah pangeran yang dikutuk peri jahat menjadi raksasa buruk rupa. Kutukan itu menghilang setelah ia berhasil mendapatkan seorang perempuan cantik; Belle. Belle belakangan menyadari bahwa lelaki misterius yang selalu datang di mimpinya adalah orang yang sama dengan sang pangeran tersebut; Beast; raksasa itu sendiri.

Perempuan spesial

Bellle berhasil mengesampingkan egonya (berharap pada lelaki misterius) dan mengutamakan kebaikan nyata dari sang raksasa, yang akhirnya membawanya mendapatkan apa yang ia angan-angankan (lelaki misterius dalam mimpinya). Seiring misteri yang tersingkap, datang seorang Ratu didampingi peri. Sang Ratu tak lain adalah ibu dari Beast yang sudah lama menunggu putranya terbebas dari kutukan. Namun, Ratu tak merestui pernikahan putranya dengan Belle, sebab Belle berasal dari keturunan rendah. Sang Peri menjelaskan bahwa kebaikan hati dan segala pengorbanan Belle jauh lebih berharga daripada sekadar garis keturunan bangsawan.

Tokoh Belle menjadi spesial. Sebagaimana dikatakan Andityas Prabantoro, penerjemah novel ini, tokoh Belle berbeda dengan tokoh perempuan dalam dongeng-dongeng umumnya yang butuh pertolongan. Misalnya di cerita Cinderella, Putri Salju, Putri Tidur, dll. Sebaliknya Belle, di novel ini tampil sebagai tokoh sentral yang menentukan jalannya kisah. Belle menjadi penyelamat ayahnya, juga pangeran dari kutukan mengerikan. Dari sana, lanjut Andityas, novel ini sarat dengan ide-ide emansipasi perempuan yang tergolong maju untuk zamannya. Segala kebaikan, ketulusan, dan pengorbanan Belle akhirnya mengetuk hati Sang Ratu sehingga merestuinya untuk menikah dengan anaknya, sang pangeran.

Beauty and the Beast telah berhasil menghadirkan sosok perempuan luar biasa bernama Belle. Ia  menjadi simbol perempuan yang selalu menjaga ketulusan hati dan sikap baik kepada siapa saja, meski terus mendapat kejadian-kajadian mengejutkan, menyakitkan, dan berat untuk dihadapi, bahkan tak bisa diterima akal sehat. Dengan teguh, Belle menghadapinya dengan keikhlasan, kejujuran, dan ketulusan, sehingga ia akhirnya mendapatkan segala kebaikan yang telah ia tanam.

Advertisements

Perang dan Cinta

Seumpama Matahari

Judul               : Seumpama Matahari
Penulis           : Arafat Nur
Penerbit         : Diva Press
Cetakan          : 1, Mei 2017
Tebal               : 144 halaman
ISBN                 : 978-602-391-415-9

Peperangan kadang dipandang hitam dan putih: kebaikan melawan keburukan. Padahal, dalam setiap peristiwa selalu ada kompleksitas, ada kisah-kisah lain yang juga harus diihat secara komprehensif agar kita tak mudah menghakimi. Kisah-kisah lain inilah yang jarang tercatat sejarah. Di sinilah, sastra bisa hadir untuk menyuarakannya. Novel berjudul Seumpama Matahari mengisahkan Asrul, seorang pemuda pejuang kemerdekaan Aceh. Jika selama ini kita mungkin memandang perang di Aceh hanya tentang tentara Indonesia yang bertempur mengamankan para pemberontak dari Gerakan Aceh Merdeka (GAM), novel ini mengajak kita melihatnya dengan perspektif lain, yakni sudut pandang pelakunya.

Sebagai pejuang, Asrul selalu hidup dalam kewaspadaan. Bersama kelompoknya, Asrul sering bergerilya di hutan dan bertempur melawan tentara nasional. Di mata Asrul, tentara telah berlaku semena-mena terhadap penduduk. “Mereka bebas membunuh siapa saja, tak soal salah benar. Lagipula, negara sudah melindungi mereka, memberikan payung hukum untuk membunuh siapa saja,” ucapnya (hlm 74). Itulah yang mendorong Asrul bergerak melawan dan bergabung bersama barisan pejuang.

Setelah beberapa waktu berjuang di Aceh, suatu ketika Asrul harus bersembunyi ke Riau karena terdesak keadaan. Di Riau, ia tinggal di kos-kosan selama dua bulan sampai akhirnya uangnya habis dan memaksanya menjadi gelandangan. Asrul tak mungkin pulang karena kondisi masih berbahaya. Dalam keadaan sulit tersebut, ia bertemu dua orang gadis bernama Putri dan Ana. Ternyata, Putri dan Ana juga berasal dari Aceh dan juga merupakan korban perang. Mereka kehilangan orang tua karena menjadi korban peluru kesasar tentara gerilya.

Berbeda dengan Asrul yang memilih terus melawan dengan menjadi pejuang, kedua gadis tersebut seakan telah merelakan segala yang mereka alami. Ketimbang terbelenggu dalam peperangan tak kunjung usai, Putri dan Ana memilih menyingkir dari Aceh. Mereka memilih fokus sekolah dan bekerja agar bisa mandiri, sampai akhirnya punya rumah sendiri di Pekanbaru.

Pertemuan tersebut membawa babak baru dalam hidup dan pemikiran Asrul. Pejuang itu tak bisa menolak tawaran untuk tinggal di rumah Putri dan Ana. Sebagai lelaki, Asrul sebenarnya malu dengan dirinya sendiri. Namun, kondisi membuatnya tak punya pilihan lain. Ia masih dalam bahaya untuk kembali ke Aceh, sedangkan ia sudah tak memiliki apa-apa lagi untuk hidup di pelarian. Selama menumpang di rumah tersebut, Asrul sudah berusaha agar tak terlalu membebani dengan bekerja sebagai buruh kasar pengangkut barang di pasar.

Kebaikan kedua gadis bersaudara tersebut, terutama Putri, membuat Asrul terpikat. Akhirnya tumbuh benih-benih cinta di hati Asrul pada Putri. Lambat laun, hidup bersama dua gadis yang lembut membuat jiwa pemberontak-pejuang dalam diri Asrul pelan-pelan menyusut. Namun, suatu ketika, Zen teman seperjuangannya menelpon dan memintanya pulang dan bergabung kembali bersama pasukan. Di sinilah terjadi dilema. Asrul ingin bisa bergabung bersama pejuang lain melawan pasukan tentara. Namun di sisi lain ia berat meninggalkan Putri, perempuan yang ia cintai sekaligus berjasa besar dalam hidupnya.

Asrul tetap memutuskan untuk pulang. Namun, ia pulang tanpa membawa amarah dan dendam pada tentara. Pertemuan dengan Putri dan Ana telah menyadarkannya bahwa perang tak akan membawa apa-apa kecuali penderitaan. “Aku juga ingin hidupku menjadi normal. Rasanya lebih indah daripada terus-menerus diburu-buru musuh,” kata Asrul (hlm 100). Baru semalam di kampung, Asrul langsung ditangkap tentara. Namun, ia menyerahkan diri dengan tenang. Ketika diinterogasi, Asrul mengungkapkan segala perasaannya.

Asrul bercerita, mulanya bergabung bersama pejuang karena terus dipanas-panasi lewat kisah kejahatan sebagian tentara yang telah membunuh bapaknya. Kejujuran Asrul membuat tentara memperlakukannya dengan baik. Bahkan, ia dibebaskan. Namun, Asrul harus berjanji tak akan kembali menjadi pemberontak. “Kupegang janjimu. Kalau kutemukan kau bersama pemberontak, langsung kutembak!” ucap komandan tentara (hlm 113). Pernikahan Asrul dengan Putri dan kabar kematian Zen menjadi penutup kisah ini.

Karya Arafat Nur, penulis peraih Khatulistiwa Literary Award ini telah menghadirkan sudut pandang berbeda dalam memandang perang. Pemikiran, hasrat, dan perasaan tokoh Asrul sebagai pejuang telah menghadirkan simpati pembaca. Kita pun mengerti, ia melawan karena perilaku semena-mena sebagian tentara. Selalu ada alasan di balik setiap perlawanan. Di samping itu, bagian ketika tentara membebaskan Asrul karena telah jujur dan berjanji kembali ke pangkuan negara, juga memberi gambaran bahwa tak semua tentara bertindak semena-mena. Pendeknya, novel ini menyadarkan kita agar tak mudah menggeneralisasi dan menghakimi.

(Tayang di Koran Sindo, edisi Minggu 6 Agustus 2017)

Kampung Indonesia dalam Lensa

Buku Kampungku Indonesia
Judul              : Kampungku Indonesia
Penulis          : Stevano Romano
Penerbit        : Mizan Pustaka
Tahun           : Cetakan 1: 2016
Tebal              : 172 halaman
ISBN               : 978-979-433-945-9

Sering kita mendengar adanya orang luar negeri yang sangat mencintai Indonesia karena keindahan alam dan kekayaan budayanya. Bahkan, saking cintanya, mereka sampai hidup bertahun-tahun, bahkan menetap di Indonesia untuk mempelajari budaya kita. Sementara itu, generasi muda kita sendiri semakin hari semakin keranjingan budaya luar negeri. Kita belum sadar dengan kelebihan yang kita miliki. Hal tersebut merupakan satu dari banyak kesadaran yang muncul setelah melihat foto-foto dalam buku Kampungku Indonesia ini.

Adalah Stevano Romano, seorang fotografer kelahiran Roma yang mengabadikan suasan kampung-kampung di Indonesia. Melalui foto-foto hasil jepretan kameranya, Stevano menggambarkan bagian-bagian dari wajah kampung: wajah alami anak-anak kampung yang penuh gelak tawa, senyum hangat ibu-ibu dan perempuan kampung, sampai pemandangan sederhana di teras-teras rumah, dapur, pasar tradisional, hingga persawahan, sekolah, dan tempat-tempat ibadah.

Setiap objek yang dibidik Stevano menggambarkan kecintaannya pada suasana sosial masyarakat kita, terutama masyarakat kampung. Bahkan, sejak pertama kali mengunjungi tanah Sunda tahun 2011 dan mendengar lagu Sunda, lelaki kelahiran Roma yang telah menikah dengan perempuan Indonesia ini merasa bahwa dulunya adalah orang Sunda. “Terkadang, saya merasa bahwa dalam kehidupan terdahulu, saya adalah seorang anak kecil yang berlarian di sawah di salah satu kota yang pernah saya kunjungi, mungkin Bandung, Banten, atau Kawarang,” tulisnya.

Kita tak akan melihat gambar atau potret gemerlap kehidupan dari wajah-wajah penuh make-up dengan mode pakaian terkini–sebagaimana sering kita lihat di layar kaca. Sebaliknya, kita diajak melihat wajah alami manusia dari kampung. Tak ada kepalsuan, serba alami dan jujur. Memandang dan meresapi tiap foto di buku ini, membuat kita sadar akan banyak hal. Selain tentang kesederhanaan, pikiran kita juga akan sampai pada nilai-nilai atau kearifan hidup yang tersirat di setiap potret tentang kampung. Potret wajah orang kampung, senyum bocah, ketekunan para petani di sawah, sampai pedagang di pasar, pada gilirannya mengantarkan alam pikir kita pada kehidupan yang sarat kesederhanaan, kejujuran, dan kedamaian.

Memandangi foto terasa lebih mengesankan. Sebab ada waktu meresapi momen-momen tertentu yang diabadikan dalam gambar. Hal yang sulit dirasakan ketika memandang secara langsung, di mana momen-momen berkelebat cepat tanpa bisa benar-benar kita resapi. Di buku ini, hanya ada satu-dua kalimat yang menjelaskan gambar. Dominasi gambar ketimbang teks seperti mengajak kita lebih “melihat” ketimbang “membaca”. Kita diajak lebih dalam meresapi setiap gambar sehingga sampai pada permenungan tentang kehidupan kampung yang memancarkan kehangatan dan kemanusiaan.

Menyimpan makna

Foto-foto Stevano tak sekadar mendokumentasikan suasana. Ada pesan tersampaikan dari setiap potret yang dihasilkan. Saat melihat suasana penuh kebersamaan antar ibu-ibu di teras rumah di kampung, kita seperti diajak untuk melihat lebih dari sekadar kebersamaan. Seorang ibu yang menggendong anaknya sembari duduk dan berbincang dengan tetangga, atau seorang ibu yang mencari kutu rambut seorang nenek, merupakan pemandangan kampung tradisional yang tak sekadar berbicara tentang kebersamaan dan keakraban.

Lebih jauh, suasana tersebut mencerminkan adanya sikap saling mengerti, kejujuran, dan kepedulian antar warga kampung, yang pada gilirannya membentuk kehidupan yang nyaman, tentram, dan bahagia. Kita mungkin sulit menemukan suasana tersebut di kota-kota besar, apartemen, atau perumahan mewah. Tak hanya hubungan antar manusia, Stevano dalam foto-foto karyanya juga seperti berusaha menangkap dan menyiratkan hubungan manusia dengan alam lewat foto-foto para petani yang sedang menanam padi di sawah atau ibu-ibu yang mencuci baju di sungai.

Ketika memotret suasana pasar tradisional dengan bermacam sayuran dan berbagai jenis buah segar dan warna-warni yang dijajakan pedagang, Stevano seperti ingin menggambarkan keterkaitan atau bagaimana hubungan manusia dengan alam yang tak terpisahkan–saling bergantung. “Salah satu hal yang paling menarik perhatian di kampung ialah banyaknya perempuan menjual buah-buahan, yang memperlambangkan hubungan dengan bumi, warna, dan kandungan gizinya,” tulisnya (hlm 31).

Tak berhenti di sana, di bagian akhir, Stevano menghimpun potret suasana di tempat-tempat ibadah, seperti masjid dan madrasah dalam bab “Cahaya Manis dari Kampung”. Selain hubungan antar manusia dan manusia dengan alam,  Stevano juga seperti berusaha merekam hubungan manusia (kampung) dengan Tuhan lewat suasana hikmat ibadah di masjid, pengajian, dan anak-anak yang belajar mengaji di madrasah di kampung-kampung.

Ketika pembangunan gedung bertingkat semakin pesat, terutama di kota-kota besar, apa yang disuguhkan Stevano di buku ini menjadi sangat bermakna. Sebab kita tak pernah tahu bagaimana nasib kampung-kampung tersebut di masa mendatang. Tak hanya soal fisik, dalam konteks budaya modern yang serba materialis, nilai-nilai kehidupan tradisional masyarakat kampung yang penuh kearifan penting untuk kembali dihayati. “Saya telah melihat bagaimana Jakarta berubah dengan cepat, saya khawatir beberapa tradisi lama akan lenyap dengan segera,” tulisnya.

(Tayang di Harian Singgalang, edisi 30 Juli 2017)

Kata-Kata Penyembuh Luka

Luka Dalam Bara
Judul               : Luka Dalam Bara
Penulis           : Bernard Batubara
Penerbit         : Noura Books
Tahun             : Cetakan 1, Maret 2017
Tebal               : 108 halaman

Menulis bisa menjadi medium menyampaikan segala kegelisahan yang berkecamuk dalam relung hati terdalam. Apa-apa yang tak bisa atau tak sanggup tersampaikan lewat suara atau ucapan, kadang bisa tersampaikan lewat tulisan. Seperti yang dirasakan Bernard Batubara. Penulis kelahiran Pontianak ini mengaku bahwa saat ia marah, takut, gelisah, patah hati, cemas, cemburu, kadang ia tak bisa mengungkapkannya bahkan pada orang terdekatnya. Satu-satunya cara mengungkapkannya adalah lewat tulisan. Dari sana, jadilah kumpulan tulisan yang terhimpun dalam buku ini.

Kita akan melihat tulisan-tulisan pendek seperti biasa ditulis di buku catatan harian tentang perasaan dalam suasana tertentu atau di waktu tertentu atau di tempat tertentu. Tulisan-tulisan terdiri dari beragam bentuk. Ada yang berbentuk seperti sajak-sajak, cerita pendek, dialog, bahkan surat. Namun, penulis mengaku tak pernah menamai tulisan-tulisan tersebut. “Mereka bukan puisi, dan jelas bukan novel maupun cerita pendek,” tulisnya. Bara mengaku buku ini berisi penggalan kecemasan dan kesedihan yang ia rasakan, fragmen-fragmen perasaan aktual yang ia rasa harus segera dituangkan agar tak tinggal terlalu lama dalam hatinya.

Sebab, Bara berharap setelah menulis satu tulisan, kecemasan dan kesedihannya akan berkurang dan akhirnya sembuh. Ini menjadi alasan lain mengapa ia menulis. “Untuk menyembuhkan diri saya dari perasaan-perasaan yang tak ingin saya miliki, dari luka yang tidak ingin saya peram,” ungkap Bara (hlm 2). Ini bisa menjadi titik tolak kita dalam menikmati tulisan di buku ini. Motivasi “menyembuhkan diri” dari penulis tersebut begitu terasa lewat tulisan-tulisan yang tak sekadar menuturkan kesedihan, kekhawatiran, kecemasan–dan berbagai emosi “negatif” lainnya.

Lebih jauh, ada penerimaan, keikhlasan, bahkan motivasi untuk bangkit dan sembuh dari keadaan menyakitkan tersebut. Purnamaku tahu, semangatku memudar seketika, hasratku melemah begitu saja, binar di jiwaku meredup, saat ditinggalkan olehnya. Aku berdoa semoga sepasang sepatu merah itu bahagia dengan sepasang kaki baru yang dia topang. Semoga pemiliknya kelak mengerti bagaimana memori dan emosi dapat sangat terikat pada suatu benda (hlm 26).

Di samping itu, terlihat kelihaian Bara dalam merangkai kata menjadi kalimat-kalimat yang mengalir indah. Tak sekadar indah, kandungan makna yang tersimpan di dalamnya juga menjadi mudah tersampaikan lewat perumpamaan-perumpamaan apik dan unik. Fragmen berjudul “Melangkah”, menggambarkan kelihaian Bara dalam membahasakan makna cinta tanpa terjebak dalam haru-biru rasa yang berlebihan. Cinta dibahasakan dengan apa adanya, realistis, namun tak kehilangan keindahannya. Cinta bukan sekadar persoalan bagaimana melangkah bersama, tetapi juga tentang mempertahankan langkah pada saat salah satu mulai lelah, agar tetap mampu berjalan/Cinta bukan tentang berlari kencang mencapai tujuan, tetapi tentang menikmati perjalanan, langkah demi langkah, tidak penting gegas atau lambat (hlm 14).

Meski merupakan ungkapan perasaan yang dituangkan secara bebas laiknya di buku catatan harian, buku ini tetap menyimpan hal-hal yang layak diresapi dan direnungkan. Mulai tentang percintaan, relationship, dunia penulis, buku, bahkan sampai kritik terhadap pemerintah. Dalam sebuah tulisan berjudul “Surat-Surat untuk J (#3)” kita diajak merasakan kegelisahan penulis karena keadaan kota “Y” yang padat dan macet karena gencarnya pembangunan. Pembangunan dan kemajuan yang terus digenjot menyimpan dilema karena di saat bersamaan menyebabkan berbagai persoalan, termasuk ketidaknyamanan yang dirasakan orang karena padatnya kota.

Lagi, dalam fragmen berjudul “Surat-Surat untuk J (#6)” kita diajak merasakan suasana sebuah kota yang gersang dan diselimuti kabut asap yang menghalangi pandangan. Tulisan tersebut diberi tanda “Kota P, 2 Agustus 2014; 5:59 WIB/Kamar”. Kita menduga kota yang dimaksud adalah kota Pontianak tempat kelahirannya yang sering kali dilingkupi kabut asap akibat pembakaran hutan yang biasa terjadi: Kami terbiasa hidup dengan asap/Kabut yang setiap hari menghalangi pandangan kami di jalanan dan mengadang udara segar masuk ke paru-paru itu bukan kabut dingin seperti di pegunungan, melainkan kabut asap yang gerah da menyesakkan (hlm 52)

Bagi penulis, hal yang sering mengisi pikiran berkaitan dengan menulis itu sendiri; proses kreatif menciptakan tulisan, hingga suka-duka-problema yang dirasakan penulis. Dalam fragmen berbentuk dialog berjudul “Menulis dan Mencintai”, tergambar bagaimana dilema dialami penulis yang awalnya murni berkarya karena kesenangan, kemudian harus menghadapi masa-masa di mana ia sudah dewasa dengan tanggungjawab yang menyertainya, sehingga tak bisa lagi berkarya sesuai kesenangan. Seorang penulis seakan harus bisa bernegosiasi dengan idealismenya sendiri untuk bisa bertahan hidup: Kamu harus membuat dunia yang orang-orang lain sukai padahal kamu tidak begitu menyenanginya. Semua demi mencari uang dan menggulirkan roda hidupmu (hlm 68).

Buku tipis yang tampil elegan dengan hard cover ini akan mengajak pembaca merasakan perasaan-perasaan intim yang dirasakan penulisnya. Meski bersifat personal, pembaca akan mendapatkan renungan-renungan reflektif yang bisa mengasah perasaan dan pikiran agar lebih terbuka sehingga bisa mengatasi segala problem perasaan seperti sakit hati, rindu, kecemasan, dan kekhawatiran.

(Pernah tayang di Jawa Pos Radar Mojokerto, edisi Minggu 16 Juli 2017)

Di Balik Diamnya Seorang Introver

Cover Novel Introver

Judul              : Introver
Penulis          : MF. Hazim
Penerbit        : Pustaka Alvabet
Cetakan         : 1, Februari 2017
Tebal               : 276 halaman
ISBN               : 978-602-6577-00-9

Menurut sebuah riset, sekitar 25% dari total jumlah manusia di bumi memiliki kepribadian introver. Kepribadian tertutup dan sulit bersosialisasi dengan orang lain. Mereka menjadi “minoritas” di tengah kebanyakan manusia ekstrover. Mereka terdiam dan membisu di tengah riuh-rendah orang-orang ekstrover yang gemar berbicara dan berinteraksi dengan sesama. Namun, bukan berarti para introver tak memiliki perhatian pada sekelilingnya. Justru, mereka memiliki perhatian mendalam tentang banyak hal, namun tersimpan dalam pikiran mereka sendiri.

Orang introver juga memiliki potensi besar yang jika disalurkan dengan tepat akan membawa pada kesuksesan hidup dan kemanfaatan banyak orang. Banyak tokoh-tokoh besar yang ternyata berkepribadian introver. Sebut saja penulis kenamaan JK Rowling, triliuner Bill Gates, Warren Buffet, sampai mantan presiden AS Abraham Lincoln. Maka, mengenal dan mendalami kepribadian seorang introver menjadi penting. Dari sana, kita akan mengenal karakteristik mereka, sehingga jika diperlukan, bisa membantu mereka untuk aktualisasi diri dan keluar dari kurungan yang menyulitkan mereka dalam berinteraksi dengan orang lain.

Melalui novel karya MF. Hazim ini, kita diajak mengenal dan mendalami kepribadian dan kehidupan seorang introver. Adalah lelaki bernama Nawawi, anak pendiam yang nyaris tak punya teman di sekolah. Baik sejak SMP maupun setelah menginjak SMA. Di kelas, ia melihat siswa-siswa lain yang sering berisik dan gemar berbincang sebagai orang-orang yang hanya membuang-buang waktu untuk hal tak berguna. Terlebih, ketika mendengar teman perempuan yang sering membicarakan model pakaian, tas, atau sepatu terbaru, atau keranjingan berforo selfie. “Sesekali, seharusnya kalian membicarakan perdamaian dunia, global warming, masalah sosial, dan para koruptor itu,” batin Nawawi.

Kehidupan Nawawi hanya berkutat di rumah, sekolah, dan perpustakaan. Ia bahkan tak ingin keluar rumah di masa libuan sekolah seperti yang dilakukan kebanyakan teman-temannya. Ia gemar menghabiskan hari dengan membaca buku, mendengarkan musik, dan bermain game di rumah. Untuk refreshing, ia memilih bersepeda sendirian menyusuri jalan di sekitar daerahnya. Itu pun dilakukan pada malam hari agar terhindar dari tatapan orang-orang sepanjang jalan.

Seorang introver tak tertarik dengan kehidupan populer yang digemari remaja umumnya. Ia memiliki idealisme tinggi dan perhatian pada hal-hal besar. Nawawi bahkan memiliki gagasan tentang konsep dunia yang ideal. Menurutnya, dunia saat ini tak adil terhadap orang-orang introver seperti dirinya. Sebab, banyak sistem dan tata nilai yang dibuat berdasarkan standar orang-orang ekstrover. Orang pendiam dianggap “tidak normal” dan harus berubah menjadi seperti orang ekstrover. “Sistem yang mereka buat hanya akan memaksa orang-orang introver melakukan hal-hal menakutkan dan tertekan” (hlm 210).

Pemikiran besar dan perhatian pada pelbagai persoalan penting kehidupan yang didapatkan dari membaca buku dan berita-berita di media, membuat Nawawi memiliki semacam kebanggaan pada idealisme dalam dirinya. Hal yang tak dimiliki kebanyakan remaja yang lebih disibukkan oleh kesenangan dan hal-hal material. Namun, pada saat-saat tertentu Nawawai mengaku kesepian. Jauh dalam hatinya, ia berharap bisa mendapatkan teman yang mengerti dirinya dan bisa diajak berbicara. Ia kemudian bertekad untuk belajar berbicara dan ramah terhadap orang lain.

Ambiver yang menjembatani

Pada kenyataannya, mendapatkan seorang teman bukan perkara mudah bagi seorang introver. Egoisme dan rasa sungkan beramah-tamah dan basa-basai pada orang lain mempersulit mendapatkan teman. Sampai kemudian, Nawawi bertemu seseorang yang berbeda. Seorang gadis yang mengerti pemikirannya, sehingga memancingnya untuk berbicara panjang lebar—hal yang belum pernah ia lakukan seumur hidup. Gadis itu bertanya padanya soal hal-hal filosofis yang mendalam; arti kehidupan, penderitaan, sampai buku-buku karya penulis besar. “Seolah ia bisa menjadi pemintal benang. Ia menarik bagian dari diriku yang menggumpal, lalu menata dan menggulungnya ulang dengan lebih rapi,” batin Nawawi (hlm 244).

Gadis tersebut ternyata seorang ambiver, campuran antara introver dan ekstrover. Kepribadian yang membuat seseorang bisa menempatkan diri menjadi introver maupun ekstrover. Gadis tersebut kemudian menjadi teman dekat Nawawi. Tak sekadar menerima kapribadiannya, ia juga telah membuat Nawawi bisa membuka pintu-pintu dalam dirinya yang selama ini tertutup, sehingga bisa lebih ramah terhadap dunia di sekitarnya. “Dia menjadi jembatan bagiku untuk mengenal dunia. Membawaku dari satu titik ke titik lainnya” (hlm 251)

Membaca kisah ini membuat kita menyadari bahwa tak ada seorang pun yang bisa hidup sendiri. Meskipun memiliki gagasan besar dan pengetahuan yang luas, seorang introver tetap membutuhkan orang lian. Orang yang bisa menghubungkan alam ide dan gagasan-gagasan dalam pikirannya dengan realistis kehidupan, agar ide tersebut bisa tertuang, terwujud, dan berbuah kemanfaatan. Orang diciptakan berbeda-beda untuk saling mengenal dan melengkapi satu sama lain, untuk bersama-sama mengupayakan kehidupan yang lebih baik.

(Dimuat di Harian Blora)

 

Perjalanan yang Mengubah Segalanya

Cover Novel Panggilan Hati
Judul                  : Panggilan Hati
Penulis              : Priya Kumar
Penerjemah    : Nadya Andwiani
Penerbit           : Baca
Tahun               : Cetakan 1, Maret 2017
Tebal                 : 228 halaman
ISBN                   : 978-602-6486-08-0

Masalah hidup sering membuat orang mengarahkan telunjuk pada orang lain untuk disalahkan. Kita jarang berkaca dan evaluasi diri. Padahal, segala yang kita dapatkan tak pernah lepas dari apa yang kita lakukan sebelumnya. Inilah yang tersirat dari novel karya penulis berbakat asal India ini. Novel berjudul asli The Calling; Unleash Your True Self ini mengisahkan perjalanan Arjun, lelaki yang hidupnya berantakan. Rumah tangganya di ujung tanduk dan karirnya sebagai pemimpin pemasaran mandek.

Di tengah persoalan itu, Arjun mendapat semacam panggilan untuk melakukan perjalanan di gunung Himalaya, menuju ke Hemkund Sahib. Siapa sangka, perjalanan tersebut menjadi awal perubahan besar dalam diri Arjun. Arjun ditemani anak muda bernama Chandu sebagai kuli angkutnya. Arjun dan Chandu masing-masing menunggang keledai dan melakukan perjalanan menembus jantung Himalaya yang penuh salju. Setelah perjalanan panjang, mereka bertemu seorang sadhu yang melakukan Sadhna di atas sebongkah batu.

Anehnya, sadhu mengaku tugasnya telah selesai dan kedatangan Arjun adalah untuk menggantikannya dan membebaskannya. Arjun tentu keberatan karena ingin melanjutkan perjalanannya sendiri. Setelah berdebat, sadhu memberi solusi untuk memberi Arjun sebuah tes. Jika Arjun berhasil, ia boleh pergi. Jika gagal, Arjun harus menggantikannya melakukan Sadhna di atas batu. Arjun hanya perlu lolos satu tes saja dari tiga tes yang diberikan. Sadhu mulai mencabut batang tanaman dan membuat garis melingkar di tanah selebar enam puluh meter, kemudian ia pergi. Arjun, Candhu, dan kedua keledai mereka harus berada di dalam lingkaran, tak boleh keluar sampai sadhu kembali datang.

Dari tiga tes yang diberikan, tak satu pun Arjun berhasil melewatinya. Pada tes pertama, Arjun gagal karena tak melakukan apa-apa dalam lingkaran selama ditinggal sadhu. Arjun hanya bertahan di lingkaran itu. Padahal, banyak kejadian terjadi. Ada bau busuk dari bangkai anak rusa, keledai yang terus meringkik gelisah, tanah gersang dan rumput yang mengering. “Duduk diam di ruang dan duniamu, lalu tak melakukan apa-apa merupakan aib bagi kecerdasan yang dianugerahkan padamu,” kata sadhu (hlm 131). Ini menjadi simbol bahwa setiap orang harus aktif berkontribusi bagi dunianya; keluarga, pekerjaan, lingkungan sekitar. Tak sekadar bertahan hidup tanpa melakukan apa-apa.

Arjun tertegun dan menyadari kebodohannya. Tak ingin mengulangi kesalahan, ketika tes kedua, Arjun segera mengubur bangkai anak rusa, membebat luka keledai dengan kain sehingga hewan itu berhenti meringkik, mencabuti rumput kering dan mengolah tanah sehingga rumput baru tumbuh bersemi. Sempat bangga dan merasa dirinya berguna, Arjun tetap dinyatakan gagal oleh sadhu. Sebab, ia tidak mengikutsertakan Candhu dalam tindakannya. “Setiap orang di dunia memiliki peran penting dalam tujuan kita, terutama orang yang merupakan bagian dari perjalanan kita,” kata sadhu (hlm 152). Arjun sadar, ia menyepelekan kehadiran Chandu yang telah menemaninya sepanjang perjalanan.

Pengalaman tes pertama dan kedua membuka banyak pemahaman baru bagi Arjun. Ia tak ingin gagal di tes terakhir yang sangat menentukan. Di tes ketiga, sadhu meminta Arjun agar tidak membiarkan perubahan apa pun terjadi. Arjun pun frustasi dan pesimis dengan tantangan tersebut. Ia berpikir, setiap orang tentu tak punya kuasa atas segala perubahan di sekitarnya. Sadhu pun datang dan menjelaskan bahwa Arjun lagi-lagi telah gagal. Sebab Arjun kembali mengeluh dan tak semangat. Artinya ia telah berubah, padahal tantangannya adalah tidak membiarkan perubahan apa pun terjadi. “Satu-satunya kekuatan yang kau miliki adalah terhadap keadaanmu sendiri,” tegas sadhu (hlm 170).

Kata-kata sadhu membuat Arjun merenungkan hidupannya. Tentang istrinya yang ingin berpisah, juga kariernya yang mandek. Ia sadar bahwa semua itu karena kesalahannya sendiri. Arjun merasa rendah diri sebagai suami dan di saat bersamaan terus mencari kesalahan istrinya, sehingga rumah tangganya hancur. Tentang karirnya, Arjun sadar ia telah berbohong tentang bakat, pendidikan, dan kemampuannya saat melamar kerja. “Aku telah melukis gambaran yang lebih besar daripada diriku yang sebenarnya” (hlm 192). Ketika akhirnya tak bisa menjalankan tugas dengan baik, Arjun menyalahkan rekan kerjanya sehingga pekerjaanya banyak masalah.

Arjun harus menjalankan Sadhna-nya dengan duduk diam di atas sebongkah batu sampai waktu yang tak ditentukan. Namun, perjalanan Arjun telah mengubah segalanya. Arjun yang pengeluh, pesimis, dan selalu menyalahkan orang lain telah berubah menjadi sosok percaya diri, berpikir positif dan ingin selalu menebarkan kebaikan dan manfaat pada orang lain. Novel ini mengajak kita menyadarkan siapa diri kita, mengapa kita diciptakan dan apa yang harus kita lakukan selama hidup di dunia.

(Naskah ini pernah tayang di Koran Jakarta, edisi 3 Mei 2017)

Iman, Identitas, dan Modernitas

Generation M

Judul               : Generation M
Penulis             : Shelina Janmohamed
Penerbit           : Bentang Pustaka
Tahun              : Cetakan 1, Maret 2017
Tebal               : 378 halaman
ISBN               : 978-602-291-366-5

Menurut Pusat Riset Agama dan Kehidupan Sosial Pew, jumlah Muslim diperkirakan meningkat 73%, dari 1,6 miliar pada 2010 menjadi 2,8 miliar pada 2050. Sedangkan, dua pertiga populasi Muslim dunia pada tahun 2010, atau sekitar 63%, berusia di bawah 30 tahun. Gelombang generasi muda Muslim di seluruh dunia ini mulai bergerak, menunjukkan eksistensinya lewat perilaku dan sikap yang menciptakan tren-tren baru di pelbagai aspek dalam kehidupan global. Inilah yang dikupas Shelia Janmohamed, penulis sekaligus pengamat tren sosial dan religius Islam ternama, di buku ini.

Shelia merekam pelbagai kisah dan sikap generasi muda Muslim di penjuru dunia dalam menghadapi kehidupan modern. Ketika kebanyakan analisis tentang perilaku Muslim fokus pada peran kepercayaan Islam dan ideologi politik yang mendasarinya, Shelia hadir dengan kajian berbeda. Wakil presiden Ogilvy Noor–sebuah konsultan branding Islam berskala global pertama di dunia–ini menyuarakan warna-warni identitas baru yang selama ini terus ia temukan di seluruh dunia; generasi muda muslim (Generasi M). Tak semua Muslim adalah Generasi M. Shelina berfokus pada sebagian kecil dari 1,6 miliar Muslim yang memiliki kesamaan karakteristik: percaya akan iman sekaligus modernitas.

Setiap bab di buku ini membahas aspek-aspek berbeda dari sikap dan perilaku Generasi M di pelbagai negara di dunia: budaya baru yang mereka ciptakan serta pelbagai tren yang mereka rintis untuk membentuk dunia; media, fesyen, makanan, keuangan, musik, sampai soal bahasa. Penulis mengisahkan perempuan-perempuan muda modis di Istanbul yang lebih memilih majalah fesyen Ala ketimbang majalah global populer macam Vogue dan Elle, kemunculan Aquila Style majalah digital Muslimah modern di Singapura, serta Baba Ali di Chicago yang memunculkan Muslim Quarterly, majalah pria Muslim yang tampil “berani” namun didesain agar sepenuhnya halal sesuai ajaran Islam.

Penulis menilai munculnya pelbagai media Muslim modern tersebut sebagai geliat Generasi M yang mulai menunjukkan eksistensi, dunianya, sekaligus pengaruhnya. Generasi yang melihat iman sebagai alat untuk terlibat dengan modernitas. Mereka membentuk dunia mereka sendiri dengan berpegang ajaran Islam sembari berpikir futuristik terus menyesuaikan dengan modernitas. Dari sana terbentuklah dunia baru generasi muda Muslim yang dinamis. “Mereka tak menolak modernitas, mereka “membentuknya”, tulis Shelia (hlm 34).

Identitas

Bagi Generasi M, keimanan adalah segalanya. Mereka memiliki hasrat untuk taat pada ajaran agamanya. Namun, apa yang membedakan mereka dengan non-Muslim sebaya mereka? Pembedanya, mereka tidak diam. Mereka ingin dunia mengetahui eksistensi mereka. Generasi M percaya bahwa dengan berlandaskan iman, mereka bisa membuat dunia menjadi lebih baik. Di tengah pelbagai teror bersimbol agama yang membentuk stigma negatif terhadap Muslim di mata dunia, Generasi M gigih meyakinkan bahwa mereka bisa berkontribusi untuk kehidupan yang lebih baik. “Mereka mengenakan kaus bertuliskan, ‘Tak perlu panik, saya Islam’,” tulis Shelina (hlm 36).

Generasi M bergerak kreatif, berani, optimis, sekaligus gigih memegang identitas Islam di tengah modernisme. Identitas yang ditunjukkan tersebut bisa dibaca dari perilaku konsumsi mereka. Penulis melihat bagaimana Generasi M terus menginiasiasi dan mendorong pelbagai produk halal. Di Singapura ada Muslimah yang mendirikan situs Halal Food Hunt, di Prancis wirausahawan Tawfik Mathlouthi mendirikan Mecca Cola pada 2003 yang berhasil menjual lebih dari 2 juta botol dan mendapat pesanan sampai 16 juta botol lagi setelahnya. Selain itu, muncul pula merek Ummah Cola, serta Zamzam Cola.

Konsumsi menjadi cara menyatakan jati diri. Kelas menengah Muslim kini semakin sadar kekuatan konsumen kolektif mereka dan menegaskannya. Ini sudah berlangsung dan diperkirakan terus berkembang. Shelina mencatat, sektor makanan dan minuman halal pada 2014 diperkirakan telah bernilai lebih dari $1,1 triliun. Industri fesyen Muslim diperkirakan sebesar $230 miliar. Pariwisata Islami bernilai $142 miliar. Sementara kosmetik dan perawatan tubuh Muslim bernilai $54 miliar. Angka tak sedikit tersebut di saat bersamaan juga menggambarkan bahwa hiburan dan ekspresi diri menjadi etos hidup utama Generasi M (hlm 92).

Meruskan

Di samping menunjukkan identitasnya, Generasi M juga gigih meluruskan pelbagai stigma negatif yang ditujukan pada Muslim lewat pelbagai kampanye dan karya. Pada 2013, Ahmed Rehab meluncurkan kampanye edukasi “My Jihad” melalui video yang diputar di bus kereta, dan pelbagai media sosial. Ahmed berbagi makna jihad yang lebih utama sebagai perjuangan menjadi pribadi yang lebih baik—yang bagi Generasi M makna ini telah hilang dalam diskursus Barat, bahkan disimpangkan semata-mata sebagai “perang”.

Masih tentang jihad, Shakeel Ahmad, menulis komedi romantis My Jihad untuk BBC yang tayang di Inggris pada Maret 2014. Lewat kisah tersebut, Shakeel mengembalikan jihad ke bentuk asalnya; sesuatu yang lebih kuat, pribadi, dan spiritual; membersihkan diri dari sifat buruk dan mengisi dengan sifat baik. Di tahun yang sama, blog Muslim anonim di Inggris Honestly Policy menciptakan video #HappyBritishMuslims yang menggambarkan Muslim Inggris bahagia, nyaman dengan identitas mereka sebagai umat yang taat sekaligus modern, serta bisa tertarik pada hal-hal populer pada umumnya, sebagai upaya agar bisa menghentikan kebencian pada Muslim yang meningkat saat itu. Video tersebut kemudian memicu munculnya video-video serupa dari dunia Muslim (hlm 106).

Selama risetnya bersama Ogilvy Noor, Shelina menemukan bahwa Generasi M merupakan segmen populasi Muslim global paling berpengaruh. Ide-ide mereka menjadi pionir, baik di antara Muslim maupun masyarakat secara luas. Mereka, tulis Shelina, akan terus membentuk dan mengarahkan masa depan populasi Muslim secara lebih luas. Lebih jauh, Generasi M akan memberi dampak signifikan di tataran global.

 (Naskah ini pernah tayang di Lampung Post, edisi 5 Mei 2017)

Puisi, Kata, Kritik

Cover Buku Silsilah Kata

Judul               : Silsilah Kata
Penulis             : Alexander Robert Nainggolan
Penerbit           : Basabasi
Cetakan           : 1, Desember 2016
Tebal               : 124 halaman
ISBN               : 978-602-391-331-2

Dunia baru saja merayakan Hari Puisi Internasional atau World Poetry Day, pada tanggal 21 Maret kemarin. Peringatan Hari Puisi Dunia bermula pada penyelenggaraan pertemuan UNESCO ke-30 di Paris yang berlangsung pada bulan Oktober-November tahun 1999. Organisasi pendidikan, keilmuan, dan kebudayaan PBB tersebut mengungkapkan bahwa manusia memiliki kebutuhan atas estetika. Dan puisi dapat memenuhi kebutuhan tersebut.

Namun, pada dasarnya puisi tak sekadar menawarkan estetika melalui keindahan diksi atau kata-kata di dalamnya.  Puisi juga sering menjadi media menyuarakan apa saja yang tak tersuarakan di setiap kejadian dalam kehiduoan. Di tengah kehidupan modern yang serba sibuk dilindas rutinitas dan waktu yang terasa begitu mahal, puisi ibarat bening kolam di tengah padang pasir yang gersang. Membaca puisi seakan membuat kita berhenti sejenak; memberi jeda pada putaran roda kehidupan; memberi tanda dan arti pada setiap jejak kejadian, sehingga kemudian kita berpikir dan merenungi tiap kejadian dengan bening kolam renungan kata agar mampu berkaca.

Meski buku puisi bukan jenis buku favorit yang dicari kebanyakan pembaca, terutama di Indonesia, namun kenyataannya para penyair terus berkarya dan buku-buku puisi terus lahir. Seperti yang terlihat dari penyair Alexander Robert Nainggolan lewat buku puisi terbarunya yang bertajuk Silsilah Kata (Basabasi: Desember 2016). Alex menulis puisi dengan tema beragam. Tentang hujan, keluarga, kota, perempuan, acara televisi, dan, terutama, tentang puisi itu sendiri.

Setiap puisi menyimpan kisahnya sendiri; mengingatkan pada suasana sedih, riang, dalam sepi dan keramaian—yang menjadi rekam kejadian yang dialami penulisnya. “Menulis puisi adalah sebuah upaya untuk merawat ingatan,” tulis Alex dalam pengantarnya.

Puisi tentang puisi
Menariknya, banyak puisi-puisi Alex yang mencoba memuisikan puisi itu sendiri. Beberapa judul puisi terlihat menjadikan puisi sebagai bahan menggarap puisi. Seperti dalam puisi Kronologi Puisi, Langkah Puisi, Sedalam Puisi, dan Di Dalam Puisi. Melalui puisi-puisi tentang puisi tersebut, penyair seperti mencoba menggambarkan proses kreatif penciptaan sebuah puisi, sifat-sifat puisi, kedalaman puisi, sekaligus menarasikan bagaimana puisi-puisi itu kemudian ditangkap pembacanya dan mendapatkan nasibnya sendiri-sendiri.

Membaca puisi berjudul Kronologi Puisi, kita bisa merasakan bagaimana penulis mencoba menjelaskan puisi itu tercipta–secara kronologis. Berawal kegelisahan yang muncul dari renungan yang jauh di alam batin, kemudian menyeruak, namun kadang sulit dituangkan dengan serta-merta; mulanya ia sehamparan sunyi/mungkin di sebuah sabana/hijau yang berebut/terkadang enggan masuk/.

Kelahiran sebuah puisi tak kemudian membawa bahagia. Puisi harus menunggu; melewati jalan panjang sebelum sampai ke pembaca. Namun, bagi seorang penyair, penantian itu merupakan bagian dari perjalanan kreatif yang menghadirkan kepuasan batin, sehingga tak ternilai; mungkin seperti ibu/yang menanti jabang bayi/perih luka kelahiran/yang tak bisa ditebus oleh lebat hujan/.

Idealisme puisi yang tak lelah menyimpan makna dan mengajak penikmatnya untuk melakukan permenungan dan selalu mengedepankan kebijaksanaan, seringkali membuatnya (puisi) bernasib nahas, lelah, dan tersingkir dari hingar-bingar kehidupan. Langkah puisi adalah langkah kesunyian. Kita simak puisi berjudul Langkah Puisi berikut; Kau adalah langkah puisi/yang menghilang dari sepi ke sepi/saat hujan rindang rebah di halaman rumah/tak sempat berbenah/hanya getar kata yang lelah/seharian capek mengantar makna/kau adalah langkah puisi/yang berjalan di sudut kota/sekadar mengingat sejumlah tempat/di mana masih ada getar kenangan di sana.

Alex bahkan tak hanya menggambarkan proses terciptanya puisi lewat puisi-puisinya. Bahkan, lebih jauh, ia juga mengisahkan sejarah atau silsilah bahan baku puisi itu sendiri; kata. Dalam puisi berjudul Silsilah Kata—yang dijadikan judul buku ini, terlihat Alex menggambarkan bagaimana kata-kata itu pada mulanya telah ada sejak Nabi Adam mulai bercakap, kemudian berkembang seiring laju sejarah peradaban manusia. Bukankah ia telah lebih dahulu ada?/saat adam mulai bercakap/menghimpun pengap kerumunan manusia/dari tulang yang meriang/liat tanah yang cokelat/

Kata kemudian terus dieja, meski manusia tak pernah benar-benar mampu menuliskannya secara utuh setiap apa yang dirasa dalam bentuk kata-kata. Kata-kata terus berkembang, terus bermunculan seiring rupa kejadian kehidupan di dunia, yang bermula dari diturunkannya Nabi Adam dari surga ke bumi karena dosa telah memakan buah khuldi. Meski bertahun-tahun engkau belajar menulis puisi/bertahun-tahun engkau belajar mengucapkan segala yang mungkin ada/hanya khuldi yang menjeratnya, seperti adam, jauh sebelum kata pertama mulai berpijar.

Kritik
Tak semua puisi Alex R Nainggolan di buku Silsilah Kata membicarakan tentang puisi. Banyak pula puisi-puisi yang merekam kejadian-kejadian keseharian, seperti suasana kota, sungai, hujan, sampai suasana dalam rumah atau keluarga. Di samping itu, beberapa puisi terlihat menggambarkan kegelisahan sekaligus kritik penyair tentang pelbagai realitas mutakhir.

Misalnya, tayangan acara televisi saat ini yang banyak diisi acara-acara kurang mendidik. Kita simak puisi berjudul Wajah Televisi berikut; Berjejalan masuk ke kotak televisi/menelusup ke dalam kerumun yang beku/wajah tersenyum/atau airmata sinetron yang diawetkan/layaknya makanan siap saji. Banyak tayangan televisi saat ini hanya mengejar rating yang bergantung selera pasar, yang kemudian membawa dampak buruk bagi penonton yang terlanjur keranjingan.

Acara-acara lebih memilih menjual kesenangan dan hiburan ketimbang sebuah tontonan yang mendidik dan mendewasakan. Di sana tubuh kita setara dengan nominal angka/kejar tayang bersama hari/atau peringkat tontonan yang paling banyak/lalu menjelma menjadi busa-busa celoteh/bersama nyanyian erotis/atau pinggul yang bergoyang/layaknya kecubung mekar/maka hiruplah setiap jejalan candu/sampai tandas dan engkau menggelepar.

Buku puisi Silsilah Kata menawarkan pengalaman berbeda dalam menikmati puisi. Sebab, penulis seperti tak langsung berpuisi, namun—lewat puisi-puisi tentang puisi—seperti mengenalkan terlebih dahulu bagaimana puisi—bahkan kata–itu pertama-tama muncul, hingga kemudian berkembang dan bisa kita eja dan nikmati hingga sekarang ini. Kemudian dari sana, kita baru diajak bertualang menyelami kejadian demi kejadian, kritik kehidupan, maupun rekam pelbagai peristiwa keseharian. Baik yang menyenangkan, menyedihkan, sepi, senyap, maupun yang hingar-bingar.

/Al-Mahfud

 

Han Kang dan Kisah Getir yang Mencekam

cover novel VEGETARIAN

Judul             : Vegetarian
Penulis          : Han Kang
Penerbit        : Baca
Tahun            : Cetakan 1, Februari 2017
Tebal              : 222 halaman
ISBN               : 978-602-6486-07-3

Perubahan hidup bisa datang tiba-tiba dan membawa seseorang pada kondisi yang sulit. Bahkan, suatu perubahan bisa membawa berbagai gejolak kehidupan yang kompleks. Inilah yang tergambar di novel berjudul Vegetarian ini. Sebuah karya Han Kang, penulis perempuan Korea yang juga seorang guru besar di jurusan Penulisan Kreatif Institut Seni Seoul. Novel ini telah menyisihkan karya-karya pengarang terkemuka dunia seperti karya Orhan Pamuk, Kenzaburo Oe, hingga Eka Kurniawan dari Indonesia, sehingga membawanya meraih Man Booker International Prize 2016, sebuah penghargaan internasional bergengsi.

Vegetarian menyuguhkan kisah mencekam, gejolak jiwa yang ganjil, dan kehidupan yang memilukan dan mengharukan. Kita diajak menjelajahi alam pikiran sekaligus hasrat-hasrat terdalam manusia yang terasa kelam, tak lazim, namun kadang terasa indah. Novel ini terbagi dalam tiga bagian dan masing-masing bagian dikisahkan dengan perspektif tokoh berbeda. Di bagian pertama, kita dibawa pada kehidupan seorang lelaki yang menuturkan cerita tentang kehidupannya bersama istrinya yang bernama Young Hye. Suatu hari, Young Hye, sang istri, memutuskan menjadi vegetarian setelah mimpi buruk dalam tidurnya.

Mimpi Young Hye tergambar sangat mencekam dan mengerikan. Suatu pengalaman aneh yang membuatnya merasa jijik dan begitu membenci daging. Kulihat ratusan bongkahan daging kemerahan digantung di tongkat bambu panjang. Darah merah yang masih belum kering menetes dari sebongkah daging. Mimpi itu sering datang, begitu nyata di benak Young Hye, sehingga membuatnya semakin membenci daging. Keinginan Yong Hye untuk berhenti makan daging sebenarnya tak terlalu menjadi masalah bagi suaminya. Masalahnya, sejak menjadi vegetarian, Young Hye mengalami berbagai perubahan yang mengkhawatirkan.

Selain menjadi pendiam dan lemas, mimpi buruk yang terus muncul membawa Young Hye pada kondisi memprihatinkan. Ujungnya, perempuan itu tak ingin makan apa pun dan tak bicara sama sekali. Tubuhnya semakin kurus seperti kehilangan daya hidup. Di sebuah pertemuan keluarga, ayah Young Hye menjejalkan potongan daging ke mulutnya karena tak tahan dengan sikap anaknya tersebut. Young Hye memberontak dan memuntahkan daging tersebut kemudian mengambil pisau dapur dan menyayat pergelangan tangannya. Dalam kondisi darurat tersebut, suami In Hye, kakak kandung Young Hye, menggendong Young Hye ke rumah sakit. Lelaki tersebut kemudian menjadi penutur cerita di bagian kedua novel ini.

Lelaki itu merupakan seorang seniman visual yang gemar melukis tubuh dan merekamnya. Ternyata, ia menyimpan hasrat terpendam terhadap Young Hye. Ia memiliki obsesi pada tanda lahir yang ada di tubuh Young Hye. Sepulang dari rumah sakit, Young Hye semakin dicampakkan suaminya sehingga mereka bercerai. Hasrat lelaki tersebut akhirnya terlampiaskan ketika berhasil merekam dan melukis di tubuh telanjang Young Hye. Anehnya, Young Hye senang dengan gambar bunga yang dilukis kakak iparnya tersebut, sebab mimpi buruknya berhenti. “Aku tak mandi karena tak ingin menghapusnya. Aku tak mimpi lagi karena ini. Kuharap, Kakak bisa menggambarnya lagi setelah yang ini terhapus,” kata Young Hye pada suami kakaknya itu (hlm 116).

Sejak menjadi vegan, Young Hye sangat terobsesi dengan tumbuhan. Di rumah sakit, ia tak mau makan, tak bicara, dan kadang membuka baju dan berjemur di terik matahari, seolah-lah ia adalah tanaman yang berfotosintesis. Ia merasa dirinya bukan manusia, namun pohon. Sementara lelaki tersebut, sebagai seniman, ia menyimpan obsesi artistik pada tanda lahir di tubuh Houng Hye yang di matanya nampak bagai kelopak bunga biru yang indah. Keduanya obsesi tersebut melebur menjadi satu kejadian yang indah namun kelam. Didorong hasrat aneh masing-masing, mereka melakukan hubungan terlarang. Petaka datang ketika rekaman kejadian tersebut dilihat In Hye, kakak Young Hye. In Hye sangat terpukul melihat apa yang dilakukan suaminya dengan adik kandungnya sendiri. Penuturan In Hye pun menjadi bagian ketiga (terakhir) dari novel ini.

Bagian ketiga seperti memutar ulang berbagai kejadian getir dalam hidup In Hye. Mulai tentang adiknya yang tiba-tiba berubah sejak menjadi vegetarian, masuk rumah sakit setelah mencoba bunuh diri, bercerai dengan suaminya, sampai kejadian laknat yang dilakukan suaminya terhadap adiknya yang malang tersebut, semua harus dipikul sendirian oleh In Hye. Belum lagi, setelah suaminya dipenjara, In Hye masih harus memberi perhatian pada Young Hye yang ia masukkan ke rumah sakit jiwa karena kondisinya terus memburuk dan mengenaskan. “Aku tak perlu makan nasi. Aku bisa hidup. Asal ada cahaya matahari,” ucap Young Hye.

Meskipun menjadi tokoh utama, namun Young Hye sama sekali tak mendapatkan tempat bertutur di novel ini. Karakternya justru terbangun dari penuturan suaminya di bagian pertama, kakak iparnya (lelaki seniman) di bagian kedua, serta dari In Hye kakak kandungnya di bagian ketiga. Narator cerita seperti berestafet, dari satu tokoh ke tokoh lain. Namun setiap bagian tak meneruskan cerita sebelumnya begitu saja. Kadang ada bagian yang memutar ulang kejadian masa lalu yang kemudian menjawab selubung misteri yang awalnya dimunculkan penulis di awal cerita. Han Kang, lewat novel ini, telah menghadirkan kejadian-kejadian getir yang bisa dialami manusia, dengan narasi yang indah dan menggairahkan, dan kadang ganjil. Tentang mimpi, keindahan seni, hasrat terlarang, keganjilan yang getir, dan ketabahan yang mencekam. hasrat terlarang, keganjilan yang getir, dan ketabahan yang mencekam.

(Pernah Tayang di koran Haluan Padang, edisi 2 April 2017)
Resensi novel VEGETARIAN, KORAN HALUAN-Minggu2April2017

Kisah Penyekapan dan Pertanyaan tentang Dunia Luar

ROOM; Emma Donoghue
Judul               : Room
Penulis             : Emma Donoghue
Penerbit           : Noura Books
Tahun              : Cetakan 1, Agustus 2016
Tebal               : 420 halaman
ISBN               : 978-602-385-136-2

Penculikan dan penyekapan menjadi salah satu bentuk kejahatan paling kejam yang menggambarkan sisi gelap manusia. Telah banyak kasus terjadi di berbagai belahan dunia tentang bagaimana seseorang diculik kemudian disekap atau dikurung bertahun-tahun hingga terpisah dengan dunia luar. Lebih kejam, tak jarang penyekapan dibarengi tindakan kekerasan, penyiksaan, pemerkosaan, dan bentuk-bentuk tindakan tak berperikemanusiaan lainnya.

Emma Donoghue, dalam novel yang berujudul Room menyuguhkan kisah getir dan mengharukan yang dituturkan seorang anak berusia lima tahun bernama Jack. Bersama ibunya, yang ia panggil “Ma”, Jack dikurung lelaki yang ia sebut “Nick Tua” dalam ruangan tertutup atau “Kamar” berpengaman canggih selama tujuh tahun. Mulanya, Ma diculik Nick Tua saat berumur tujuh belas dan dikurung dalam Kamar tersebut. Selama dikurung, Ma dijadikan budak seks oleh Nick Tua. Hingga dua tahun kemudian, Jack lahir dan menemani Ma di dalamnya.

Seperti kabut yang perlahan memudar hingga menampakkan pemandangan di baliknya, pembaca awalnya dihadapkan pada penuturan spontan, aneh, dan abstrak seorang bocah lima tahun tentang kehidupan di dalam Kamar, sebelum pelan-pelan menemukan arah cerita. Bagi Ma, kurungan tersebut tentu menyiksa dan menyedihkan. Namun bagi Jack, kehidupan dalam Kamar tak menjadi “masalah” karena ia tak tahu jika di luar sana ada dunia yang utuh—dunia sesungguhnya yang luas. Selama tujuh tahun mereka bertahan hidup dengan kiriman makanan mingguan dari Nick Tua. Jack menyebutnya “Traktiran Minggu”.

Pilihan Emma menjadikan Jack sebagai penutur cerita memungkinkan kita merasakan hal-hal serba tak pasti, keterangan-keterangan tak utuh sejak awal cerita, yang justru memantik rasa penasaran sehingga ingin terus menelusuri lembar-lembar cerita. Pikiran polos bocah lima tahun yang secara psikologis dalam tahap perkembangan; penuh pertanyaan (rasa ingin tahu), melihat suatu pekerjaan dari “menyenangkan atau tak menyenangkan” atau “enak tak enak”, dll., menjadikan penuturan terasa lebih memikat untuk disimak ketimbang, misalnya, menjadikan Ma sebagai penutur ceria. Bisa jadi, cerita akan sekadar berisi narasi kesedihkan–dengan standar kehidupan orang dewasa yang sebelumnya pernah merasakan kehidupan bebas di dunia luar.

Konsepsi dunia dalam pikiran Jack hanya terbatas di dalam Kamar. Ia memang memiliki pengetahuan lain dari menonton TV dan buku. Ia melihat orang-orang dan rumah-rumah di TV, tapi Ma mengatakan semua itu tak nyata. Tapi kadang Jack bisa melihat benda secara langsung dan itu membuatnya bingung. “Rumput ada di TV, juga api, tapi bisa datang ke Kamar jika aku memanaskan buncis” (hlm 78). Setelah Jack berusia lima tahun, Ma akhirnya menjelaskan yang sebenarnya: di luar ada dunia yang luas dan semua yang dilihat Jack di TV adalah nyata. Nick Tua adalah orang jahat yang menculik Ma ketika sembilan belas tahun dan mengurungnya di Kamar dan kemudian Jack lahir. Mereka berdua sedang dikurung, jadi harus keluar dari Kamar tersebut.

Ma punya ide gila untuk melarikan diri; Jack harus pura-pura mati, digulung dalam karpet agar Nick Tua membawanya keluar dan menguburnya. Mati-Truk-Menggeliat keluar-Lompat-Lari-Seseorang-Pesan-Polisi-Obor Las, Jack harus mengingat urutan langkah pelarian yang diajarkan Ma. Jelas ia sangat takut, itu belum pernah ia lakukan sebelumnya. Meski tak berjalan mulus, akhirnya aksi pelarian berhasil. Saat truk Nick Tua berhenti di lampu merah, Jack menggeliat keluar dari karpet dan melompat turun. Meski sempat tepergok Nick Tua, Jack berhasil bertemu seseorang yang kemudian memanggil polisi. Nick Tua sempat kabur namun akhirnya berhasil ditangkap. Polisi datang ke lokasi Kamar dan Ma diselamatkan. Apakah kisah kemudian berakhir? Tidak.

Kasus penculikan dan penyekapan Jack dan Ma menjadi berita yang tersebar luas. Televisi dan koran-koran gencar memberitakannya. Orang-orang menaruh simpati dan melihat Jack sebagai bocah pemberani. Namun, Jack masih terguncang. Ia harus menghadapi dunia baru yang sama sekali berbeda dengan yang ia ketahui. Jack merasa ketakutan, keterkucilan, bahkan kadang merindukan kehidupan dalam Kamar. “Aku aman di dalam Kamar, dan Luar itu menakutkan”. Sembari didampingi Ma, berkenalan dengan Nenek, Paman, Bibi, Jack belajar banyak hal di dunia luar: sopan santun, istilah-istilah, benda-benda baru, dan segala penyesuaian sosial yang tak pernah dipikirkan sebelumnya. “Ada terlalu banyak aturan yang harus kuingat,” kata Jack.

Di bagian ketika Jack dan Ma telah berada di dunia luar inilah, kita dihadapkan pada hal-hal yang kadang ironis dan memantik refleksi tentang kehidupan. Jack banyak menuturkan kalimat yang menunjukkan pertentangan dalam pikirannya. Bangunan pengetahuan yang ia dapat selama di Kamar sering berbeda dengan yang terjadi di dunia luar. Tentang waktu, “Di Luar, waktu bercampur, Ma terus mengatakan, ‘Pelan-pelan, Jack,’ dan ‘Tunggu’ dan ‘Selesaikan sekarang’ dan ‘Cepat Jack” (hal 244). Saat hendak mandi di rumah Nenek, Jack berpikir, “Dalam Kamar kami kadang-kadang telanjang dan kadang berpakaian, kami tidak pernah memikirkan itu” (hal 354). Tentang orang-orang di dunia yang selalu sibuk; “Dalam dunia aku memperhatikan orang-orang hampir selalu tertekan dan tak memiliki waktu….Dalam Kamar, aku dan Ma punya waktu untuk segalanya” (hal 360).

Novel yang menjadi buku terbaik versi New York Times 2010 dan telah diterjemahkan dalam 35 bahasa ini pada bagian-bagian tertentu seperti menggambarkan bahwa kurungan tak selalu tak bisa memberi kebebasan. Kehidupan dalam Kamar bagi Jack, serba teratur, jelas, kadang juga bebas—lepas dari keterikatan dengan siapa pun, selain Ma. Sementara di dunia luar, dalam banyak hal dipenuhi aturan yang tak membebaskan dan penuh ketidakpastian. Pembaca, di saat bersamaan seperti diajak melihat (mempertanyakan?) hal-hal pakem dalam sistem kehidupan–lewat pikiran polos dan spontan seorang bocah yang menghabiskan lima tahun pertama hidupnya dalam Kamar yang terisolasi dari dunia luar.

Lebih jauh, pembaca biasa jadi akan sampai pada pertanyaan-pertanyaan seperti: benarkah kehidupan di alam bebas ini benar-benar lebih bebas, atau—dalam pengertian tertentu, lebih menarik, dan–lebih jauh–lebih manusiawi, ketimbang dunia tertutup dalam kurungan? Mungkin ini beberapa di antara hal yang dimaksud Audrey Niffenegger dalam ungkapannya tentang novel ini, “Buku yang bahkan ketika selesai dibaca masih menyisakan pemikiran-pemikiran yang terus bermunculan”. Emma tak mengisahkan fantasi, sebab kasus penculikan dan penyekapan yang dialami seseorang sampai bertahun-tahun memang ada dan terjadi di dunia nyata. Kenyataan tersebut semakin memperkuat kekuatan kisah dalam novel yang menjadi Finalis Man Booker Prize 2010 ini, seolah-olah penulis sedang mengisahkan kejadian nyata. Dengan cerdas,  terampil, dan masuk akal, Emma memperlihatkan betapa besar dampak yang diakibatkan dari penyekapan, kurungan, dan pengasingan, terlebih bagi seorang anak.

(Tayang di koran Haluan Padang, Minggu 5 Maret 2017)
Resensi ROOM Haluan