Tatkala Guru Bermain Teater-Wacana Lokal Suara Merdeka

Tatkala Guru Bermain Teater

oleh Al Mahfud

Rabu malam (24/9) aku menonton sebuah pertunjukan teater yang digelar di gedung Auditorium Universitas Muria Kudus (UMK). Tepat pukul 19;30 aku sampai di sana, bersama seorang kawanku. Aku dan seorang temanku mengisi daftar hadir di depan pintu masuk yang dijaga oleh beberapa panitia peggelar acara. Aku mengisi nama, asal, dan tanda tangan. Salah seorang panitia memberi saya selembar kertas berisi sinopsis pagelaran teater malam itu. Setelah menerimanya, aku masuk ke dalam lokasi pementasan.

Suasana seketika gelap. Sebagaimana suasana panggung teater pada umumnya, hanya ada beberapa lampu panggung yang warna warni, selebihnya; gelap. Penonton tampak bergerombol di berbagai tempat. Di depann panggung, tampak dekorasi panggung yang terdiri dari sebuah kapal, rumah bambu, dan di tengahnya ada tiang bendera; merah putih.

Tak lama berselang, pembawa acara yang merupakan tim dari Forum Apresiasi Sastra dan Budaya Kudus (FASBuK) itu mulai membuka gelaran malam itu dengan teriakan-teriakan pembakar semangat penonton. “Salam Budaya!”, “Salam!”, aku ikut bersemangat, “Salam!”.  Setelah itu, pembawa acara mulai memanggil penonton dengan menyebut nama komunitas masing-masing. Saat itu aku baru tahu jika para penonton yang mendominasi adalah dari kalangan berbagai komunitas teater yang ada di sekitar Kudus. Aku mencadi ciut, aku bukan dari komunias mana pun, hanya aku suka dengan seni.

Di sini aku tidak akan terlalu banyak membahas tentang jalannya cerita, atau bagaimana penampilan dari para pemeran di atas panggung. Yang hendak saya bicarakan adalah, latar belakang para pemeran teater. Aku sempat mendengar, kelompok teater GARUDA, yang tampil mementaskan terater berjudul “Darah Penghianat”, ternyata beranggotakan para guru yang ada di sekolah-sekolah di Kecamatan Dawe Kudus. Aku terkejut, heran, dan juga, bangga.

Belakangan aku baru tahu jika GARUDA merupakan singkatan dari “Gerakan Guru Dawe”. Untuk mengetahui lebih jauh tentang orang-orang dalam teater ini, aku putuskan untuk mengikuti acara ini sampai selesai, karena menurut panitia, akan ada sedikit bincang dan diskusi kecil yang digelar antara pemain teater dengan para penonton. Aku pun bertahan di lokasi pertunjukan ketika sebagian penonton memilih membubarkan diri ketika pementasan selesai.

Berbincang dengan para pemeran teater itu, aku menjadi semakin  bangga. Dari cerita yang dipaparkan oleh ketua kelompok teater itu, aku mendapat informasi jika teater itu baru terbentuk sekitar dua minggu yang lalu. Untuk umur yang masih sangat muda itu, pertunjukan yang mereka persembahkan tadi adalah hebat, pikirku.

Satu hal lagi yang membuatku tertarik sejak, sebagaimana ku ungkap di awal bahwa mereka adalah para guru yang mengajar di sekolah. Ketika salah seorang penonton bertanya tentang motiv mereka membuat kelompok teater, salah seorang perwakilan kelompok menjawab bahwa alasan yang mendasari mereka adalah, sebagai guru, mereka tidak hanya ingin mengajar, mereka ingin menunjukkan, memberi contoh tentang pendidikan karakter. Motiv yang bagus. Sebagai pelaku seni yang meskipun masih belajar, mereka menunjukkan bahwa mereka benar-benar bergerak, untuk berkarya, melalui seni teater.

Mendengar penjelasan demi penjelasan yang diutarakan para pemain teater GARUDA, aku menjadi menemukan semacam titik cerah tentang guru. Aku merasa telah menemukan para guru yang melakukan gerakan kesenian. Menurutkuku, jiwa seni dalam laku mendidik adalah penting. Telah banyak ahli pendidikan yang menganggap bahwa mendidik merupakan pekerjaan yang membutuhkan seni. Seni menurut pandangan Ki Hajar Dewantara, diyakini dapat menggerakan jiwa perasaan manusia sehingga sangat dibutuhkan dalam membentuk kepribadian peserta didik sehingga diharapkan menjadi manusia yang memiliki kepribadian yang utuh (berkarakter) di kemudian hari.

Mendidik, yang tidak lain adalah berhadapan dengan anak-anak yang hendak dituntun menuju kedewasaan berfikir, bersikap, dan bertindak, tidak hanya membutuhkan seperangkat prosedur dan hal-hal teknis lainnya. Lebih dari itu adalah seni. Ya, seni akan menghubungkan jiwa guru dan muridnya dalam relasi kemanusiaan yang tidak bisa digantikan oleh apapun.

Menumbuhkan

Apa yang telah dilakukan oleh kelompok guru di Kecamatan Dawe Kudus patut diapresiasi. Dengan membentuk kelompok teater, mereka menunjukkan upaya untuk belajar berkesenian. Ketika para guru belajar bermain seni, maka dengan demikian mereka juga telah berupaya menumbuhkan jiwa seni yang ada dalam diri mereka masing-masing. Dan bagi guru, jiwa seni akan sangat membantu mereka dalam laku mendidik

Tayang di Wacana Lokal SUARA MERDEKA, Edisi 6 Oktober 2014
2014_10_0607

Iklan