Menelusuri Perjalanan Hidup Kak Seto (Resensi Buku Kakak Batik)

cover buku kakak batik

Judul   : Kakak Batik
Penulis   : Kak Seto
Penerbit  : Bentang Belia (Anggota Bentang Pustaka)
Terbit   : I, April 2014
Tebal   : 274 halaman
ISBN   : 978-602-1383-01-8

Dunia anak Indonesua tentu tidak asing dengan nama Seto Mulyadi. Psikolog anak yang juga menjabat sebagai ketua Komisi Nasional Perlindungan Anak ini kerap muncul di media ketika marak kasus-kasus kekerasan yang berhubungan dengan anak-anak. Sebagai ketua lembaga yang menaungi perlindungan anak-anak Indonesia, beliau banyak dimintai keterangan, penilaian, dan kontribusinya terhadap berbagai fenomena tentang anak yang terjadi di masyarakat.

Meskipun buku ini berupa novel, namun dengan menelusuri tiap halaman demi halaman di dalamnya, kita akan mendapatkan bagaimana gambaran perjuangan seorang Seto Mulyadi. Dengan nama tokoh Adi Witjaksono, perjalanan hidup Kak Seto diuraikan dengan alur yang menarik untuk ditelisik. Ternyata, sejak awal lulus SMA, Adi muda tidak pernah gemar, bahkan sama sekali tidak pernah berminat dengan dunia anak. Adi muda lebih berkeinginan masuk Fakultas Kedokteran di Universitas Bima Sakti Surabaya (hlm 4).

Tetapi kenyataan berbicara lain. Keinginan masuk Fakultas Kedokteran kandas karena ia gagal lolos. Namun kegagalan itu tidak serta merta membuat Adi putus asa. Ia ingin mencoba mendaftar lagi di tahun berikutnya. Adi muda pun memutar otak. Kegagalan membuatnya memutuskan untuk pergi ke Jakarta. Kepergiannya ke Ibu Kota itu pun tanpa sepengetahuan
orang tuanya. Dan ia bertekat untuk pulang dalam keadaan sukses. Dengan menulis surat, dia berjanji kepada ibunya bahwa kelak ia akan kembali dengan membawa kesuksesan.

Diceritakan bahwa selama di Jakarta, Adi menginap di rumah Mas Tirta, teman seperjalanannya ketika di kereta (hlm 17). Hidup di Ibu Kota tentu tidak mudah karena kebutuhan hidup lebih tinggi. Maka Adi pun menghadapi tantangan yang makin berat. Namun, niatnya untuk bekerja demi usahanya untuk mendaftar di fakultas impiannya telah memberinya tekat yang kuat untuk bertahan. “Nilai tambah dari orang-orang yang pernah mengalami kegagalan adalah kekuatannya untuk selalu bertahan pada keadaan apa pun untuk tidak mudah menyerah dalam upaya merebut keberhasilan di masa depan” (hal. 22).

Bermacam pekerjaan pun ia jalani. Mulai dari tukang parkir, penulis lepas, buruh panggul, sampai buruh bangunan. Watak untuk kerja keras dan hidup dengan prihatin memang sudah tertanam dalam dirinya semenjak duduk di SMA. Ketika itu ia terbiasa berjalan kaki tidak kurang dari empat kilo meter untuk berjualan. Baginya, pekerjaan apa pun tidak menjadi soal asalkan ia peroleh atas usahanya sendiri dan dari jalan yang halal (hlm 26).

Di samping menjalani berbagai pekerjaan kasar, Adi juga mengajar di taman kanak-kanak milik Pak Dibyo. Lama bersinggungan dengan dunia anak-anak ketika mengajar di taman kanak-kanak tersebut, membuat Adi merasakan bahwa kebersamaan dengan anak-anak begitu indah dan menyenangkan. Dengan perasaan yang sudah tertanam dekat dengan dunia anak-anak, ditambah dengan masukan dari Pak Dibyo, akhirnya Adi memutuskan untuk mengubah haluan dengan mendaftar jurusan Psikologi. Dan apa yang terjadi? Ya, Adi diterima.

Semenjak diterima di jurusan psikologi, Adi mulai menjalani hari-hari kuliahnya. Kesehariannya ia habiskan dengan kuliah, bekerja, dan mengajar. Perjuangan yang sebenarnya baru dimulai di sini. Ia benar-benar harus bekerja keras dengan berbagai kesibukannya itu. Perjalanan kuliahnya pun tidak mulus. Dia juga sempat mengulang satu semester. Dan di tengah kesulitannya itulah ia mulai dekat dengan seorang gadis cantik bernama Inna. Inna selalu menemaninya dalam kesulitan.

Hingga timbul perasaan dalam hari Adi untuk memilikinya.Namun tidak semudah itu ia bisa mendapatkan gadis idamannya, karena gadis itu telah dijodohkan dengan lelaki bernama Dhika. Dan dengan begitu, perjalanan percintaannya pun tidak berjalan dengan mudah. Ia terus ditempa dengan berbagai persoalan hidup yang terus datang.Namun di tengah berbagai kesulitan yang dihadapi itu, Adi mampu bertahan dan membuktikan tekatnya untuk meraih kesuksesan. Keseharian dengan anak-anak yang dilandasi dengan kasih sayang dan ketulusan, membuat Adi semakin digemari anak-anak. “Kakak Batik” adalah julukan yang diberikan anak-anak padanya karena ia selalu memakai stelan batik dalam berbagaikesempatan. Baginya, batik harus menjadi kebanggaan karena telah ada sejak zaman Majapahit (hlm 109).

Perjuangannya dalam hidup dan keteguhannya menggeluti dunia anak-anak itu pun akhirnya terbayar. Ia meraih Penghargaan Anak Muda Berprestasi dan Kreatif dari Pemerintah. Berkat penghargaan ini, kondisi ekonominya yang waktu itu serba keterbatasan menjadi lebih terbantu. Namun penghargaan itu ia buktikan tidak menjadikannya lalai dan mengendorkan perjuangannya dalam dunia anak-anak. Hal ini dibuktikannya dengan dedikasinya selama ini yang terus konsen dalam memberikan konribusinya lewat lembaga Komisi Nasional Perlindungan Anak.

Novel ini telah menyuguhkan perjalanan hidup Kak Seto yang penuh liku dan perjuangan.Tekat, semangat, dan komitmen untuk terus belajar dan berusaha yang akhirnya membawa pada kesuksesan menjadi hikmah yang dapat kita petik dari perjalanannya. Di samping itu, kita juga diingatkan bahwa jalan kesuksesan seseorang tidak selalu sama dengan apa yang kita impikan di awal. Keterbukaan menatap masa depan dengan semangat yang terus ada, merupakan kunci yang akan berbuah kesuksesan.

Tayang di Koran Muria, Minggu 23 November 2014

fd

Iklan