Membuka Ruang Baca di Berbagai Belahan Dunia

cover buku membangun ruang baca
Judul Buku   
: Mengembangkan Ruang Baca
Judul Asli       : Creating Room to Read
Penulis            : John Wood
Penerjemah    : Adi Toha
Penerbut        : Pustaka Alfabet
Tahun             : Cetakan 1, 2014
T
ebal              : 466 halaman

            Membaca adalah jalan membuka jendela dunia. Maka menjadi penting bagi manusia di belahan bumi manapun untuk memiliki akses yang cukup pada buku, untuk membaca. Dengan demikian, ruang baca yang representatif dibutuhkan di berbagai wilayah. Hal inilah yang menjadi penggerak bagi John Wood untuk berupaya menyediakan ruang baca di berbagai tempat di dunia. Melalui buku ini, mantan pejabat Microsoft itu mengisahkan perjalanan jatuh-bangun dalam menyediakan perpustakaan-perpustakaan di pelosok-pelosok desa dan sekolah-sekolah di pedalaman.

Menyediakan ruang baca di tempat-tempat tertinggal tentu bukan hal yang mudah. Dibutuhkan tekad yang kuat dan konsistensi menghadapi berbagai kesulitan dan risiko. Ini disadari sepenuhnya oleh John Wood. Dalam sebuah wawancara, ketika ditanya mengenai apa yang sebenarnya ia inginkan ketika merintis Room to Read ia menyatakan, “tujuan saya, agar anak-anak di mana pun punya akses terhadap literasi dalam bahasa ibu mereka sejak usia dini” (hlm 2). Lebih lanjut, ia menyatakan bahwa tujuan jangka panjangnya adalah mematahkan anggapan bahwa anak-anak yang mana pun dapat diberi tahu bahwa mereka “lahir di tempat yang salah, dari orang tua yang salah” dan karenanya tidak akan mendapatkan pendidikan (hlm 11).

Niat yang kuat tersebut kemudian terlihat dari kisah-kisah selanjutnya yang dijelaskan dalam buku ini. Salah satu hal yang menjadi strategi Room to Read dalam mendorong orang-orang untuk mau membaca adalah model hibah-tantangan (hlm 51). Di sekolah, misalnya hal tersebut dilakukan dengan model investasi bersama. Dalam arti pihak sekolah yang dibantu coba dipahamkan bahwa upaya itu adalah untuk mereka, dan oleh karena itu mereka harus peduli dengan keberlanjutannya. Strategi ini terbukti ampuh, bahwa dengan komunikasi yang mengedepankan kebersamaan dan saling pengertian, pihak-pihak manapun akan menjadi terbuka dengan apa-apa yang datang padanya asal itu jelas demi kebaikan mereka sendiri.

Upaya mengembangkan ruang baca tak hanya soal bagaimana “membujuk” pihak-pihak sekolah, pemerintah, atau berbagai lembaga untuk diajak bekerjasama. Yang jauh lebih urgen dan menjadi inti dari upaya itu adalah bagaimana menumbuhkan minat baca pada anak-anak yang menjadi sasaran utamanya. Dalam salah satu bab, disinggung mengenai sebuah strategi tentang hal tersebut. Strategi itu bernama “Baca dan Lari” (hlm 352). Kegiatan “baca dan lari” yang diaplikasikan di suatu daerah di Bangladesh dengan menggabungkan energi yang dimiliki oleh anak-anak untuk bermain di luar rumah dengan kesenangan membaca.

Terkait strategi “Baca dan Lari” ini, langkah singkatnya adalah; siswa bersiap-siap di garis start, dan peluit dibunyikan, dan dalam sekejap siswa berlarian melintasi lapangan berbatu yang berfungsi sebagai taman bermain sekolah. Setelah lima puluh meter, mereka masing-masing berhenti di titik singgah, di sana salah seorang guru sekolah menyerahkan sebuah buku. Kemudian siswa menunjukkan kepada guru bahwa mereka telah membaca dua halaman buku tersebut dan mereka diberikan sebuah pertanyaan. Jika mereka menjawab benar, mereka boleh lari ke pos baca berikutnya. Jika tidak, mereka harus membaca lagi halaman buku tersebut dan melakukan upaya kedua untuk menjawab. Kegiatan tersebut selain menguji daya tahan fisik, juga sangat bermanfaat untuk mengasah daya ingat mereka.

Selain hal-hal tersebut, masih banyak upaya-upaya lain yang menarik untuk di simak. Dalam upaya mengembangkan ruang baca bagi anak-anak di berbagai daerah di dunia, John Wood dan rekan-rekannya melalui Room to Read juga telah mendapatkan berbagai penghargaan dan bantuan. Diantaranya dari UNESCO untuk program penerbitan Bahasa Lokal, program perpustakaan dianugerahi Presidential Citation oleh Asosiasi Perpustakaan Amerika, Departemen Luar Negeri AS menanam investasi dalam Room to Read senilai lebih dari satu juta dolar, dan masih banyak lagi pencapaian-pencapaian lainnya (hlm 398).

Pada akhirnya, apa yang dilakukan oleh John Wood dan kelompoknya di Room to Read seharusnya dapat menginspirasii dan memotovasi kita. Paling tidak untuk lebih peduli dengan budaya membaca di kalangan anak-anak. Hal tersebut dapat dilakukan dengan hal-hal sederhana di sekitar kita. Misalnya dengan membuka perpustakaan di rumah untuk anak-anak di lingkungan sekitar. Bagaimanapun, hal-hal besar selalu berawal dari hal-hal kecil.

Dimuat di rubrik Perada, Koran Jakarta edisi Rabu 24 Desember 2014
Koran Jakarta - Membuka Ruang Baca di Mancanegara.htm_20141226193551

Iklan