Meraup Hikmah dengan “Mendekati” Nabi (Review Buku “Mimpi Bertemu Nabi”)

cover buku (5)
Judul Buku          : Mimpi Bertemu Nabi
Penulis                 : Juman Rofarif
Penerbit               : Zaman
Tahun                    : Cet 1, Agustus 2014
Tebal                     : 260 halaman
ISBN                      : 978-602-1687-29-1

Mimpi bertemu Nabi. Barangkali mengucap kalimat ini langsung membuat kita membayangkan kisah-kisah orang yang mengaku bermimpi bertemu Nabi dan mengatakan berbagai sabda yang ia yakini datang dari Rasulullah SAW. Zaman sekarang, tidak sedikit orang-orang yang terjerumus dan kehilangan kendali dan kehilangan iman. Hingga tak jarang, memercayai hal-hal yang belum pasti kebenarannya. Meski begitu, bukan berarti bermimpi bertemu nabi adalah hal yang tidak mungkin.

Buku Mimpi Bertemu Nabi yang ditulis Juman Rofarif ini mendedahkan tentang bagaimana sosok Rasulullah dengan lebih dekat. Memberi wawasan terkait kepribadian Nabi secara lebih intim, Juman Rofarif mencoba mengulas ciri-ciri mimpi bertemu Nabi. Orang yang mengaku bermimpi bertemu Nabi biasanya mengaku mendapatkan sabda-sabda yang ia yakini merupakan sabda Nabi. Bahkan, dengan meyakini telah bertemu Nabi kerap dijadikan seseorang sebagai tolok ukur keimanannya sendiri.

Zaman dahulu, tepatnya pada masa generasi sahabat dan tabiin, ketika ada orang yang mengaku bermimpi bertemu Nabi, dua tokoh yakni Ibnu Abbas dan Ibn Sirin selalu meminta orang itu menjelaskan ciri-ciri sosok yang ditemui dalam mimpinya tersebut. Jika tidak sesuai dengan ciri-ciri Nabi, mereka, Ibnu Abbas dan Ibn Sirin akan menegaskan jika orang itu tidak bertemu Rasulullah. Jika orang yang mengaku bertemu Nabi tersebut mengingat sabda-sabda yang ia yakini dari Nabi, maka pegangan yang harus selalu digunakan untuk menganalisis atau sebagai ukuran kebenaran sabda tersebut adalah Al Quran dan Hadits.

Meski kalimat “Mimpi Bertemu Nabi” –yang menjadi judul buku—langsung membuat kita membayangkan berbagai kebenaran-kebenaran dan rahasia-rahasia yang bisa didapat ketika bermimpi bertemu Nabi, sebenarnya buku ini lebih mengarahkan pembaca untuk meresapi hikmah yang ada di balik tiap kejadian dan kisah yang didedahkan di dalamnya. Hikmah yang diharapkan dapat dipahami dan merasuk dalam sanubari pembaca ketika menelusuri berbagai kisah yang diulas dalam buku ini.

Kisah hidup Rasulullah dengan berbagai sikap, perilaku mulia, kearifan, bahkan juga “kekeliruan” beliau yang kemudian ditegur Allah, selalu menyimpan berbagai hikmah yang seakan tidak habis-habis untuk bisa diresapi dan direnungkan oleh umat sepanjang zaman. Membayangkan bertemu Nabi bisa dengan mendalami pelbagai akhlak Nabi yang diulas dalam buku ini. Selain kisah Nabi, disuguhkan juga berbagai kisah dari para sahabat dan keluarga beliau yang semakin melengkapi buku ini.

Secara umum, meski dengan bahasa yang ringan, referensi yang digunakan dalam buku ini cukup berbobot karena berasal dari kitab-kitab karya ulama terkenal zaman dahulu. Hal tersebut membuat buku yang lahir dari skripsi ini menjadi lebih bernilai. Jarang sekali, penulis (saat ini) yang mau berjibaku dengan literatur-literatur lawas, mencari sumber-sumber utama yang menunjang keabsahan data.

Mungkin buku yang mengulas tentang pribadi Nabi SAW sudah tak terhitung lagi jumlahnya. Namun sebuah buku yang lahir dari penelitian ilmiah—terlebih skripsi—selalu pantas untuk diapresiasi. Hal ini karena tidak banyak skripsi –yang menjadi tugas akhir memperoleh gelar S1—yang akhirnya bisa bertransformasi menjadi sebuah buku yang layak di baca publik seacara luas. Satu karya yang patut membuat bangga oleh penulisnya. Selamat membaca!

Tayang di Wasathon.com

Iklan