Membaca Fenomena Meme (Dimuat di rubrik Ragam Suara Merdeka)

oleh: Al Mahfud

Belakangan, kala Jakarta dilanda banjir, publik di media sosial asyik membincang tentang gambar meme yang dikatakan sebagai balasan dari warga Bekasi. Meme itu menunjukkan sindiran akan kondisi Jakarta yang kembali tergenang banjir beberapa waktu yang lalu. Sebelumnya, beberapa bulan lalu saat musim kemarau, Bekasi lebih dulu di-bully karena daerahnya yang gersang dengan sebuah meme yang memperlihatkan bahwa wilayah Bekasi seolah-olah sebuah planet tersendiri dan terpisah yang berada di antara matahari dan bumi. Fenomena tersebut kian menyebar dan menjadi topik hangat seiring dengan banyaknya media yang memberitakan.

Meme telah menjadi bagian yang menyertai era percepatan informasi atau internet. Keterbukaan informasi telah menghadirkan ruang yang luas untuk berkreasi. Orang berhak mengeluarkan pendapat dan mengekspresikan kegelisahannya lewat berbagai bentuk. Di saat orang-orang sudah terbiasa menggunakan media sosial dalam kesehariannya, meme turut hadir dan memberikan warna di dalamnya. Meme menjadi bahan perbincangan yang menarik, sekaligus menjadi alat untuk berbincang itu sendiri.

Awalnya, meme dibuat untuk mewakili perasaan, gagasan, ataupun kegelisahan pembuatnya (individu) akan kondisi sekelilingnya. Kemudian ketika dilempar ke publik di media sosial dan mendapatkan respon, meme akan mulai menyebar seiring dengan banyaknya perbincangkan menyangkut meme tersebut. Ketika sebuah meme terus diperbincangkan, ia akan semakin populer dan mudah dilihat dan diakses publik.

Istilah meme, sebagaimana tercantum dalam wikipedia, pertama kali dikenalkan oleh Dawkins melalui bukunya The Selfish Genre (1976). Istilah “meme” berasal dari bahasa Yunani mimeme (sesuatu yang menyerupai atau menirukan), dan terdengar serupa dengan gen (gene). Seiring berjalannya waktu, saat ini bentuk meme berkembang dan kian meluas. Tak lagi berbentuk barang dalam bentuk poster atau barang lainnya. Saat ini, meme yang paling populer adalah di internet, atau biasa dibincang dalam media sosial yang berbentuk gambar dan tulisan.

Meme di internet kebanyakan berbentuk gambar dan tulisan yang dibuat dan atau dirubah (diedit) dengan sedemikian rupa untuk menyampaikan sebuah gagasan atau ide tertentu pada publik. Biasanya, bahan (gambar/tuliasn) dasar yang dipakai sudah pupuler di kalangan masyarakat sebelumnya. Baik gambar berupa manusia maupun barang. Gambar seseorang biasanya dari tokoh penting, pejabat, atau selebriti. Sementara gambar barang, bisa berasal dari gambar atau foto barang-barang yang sedang marak diperbincangkan publik. Contoh barang yang digunakan sebagi bahan sebuah meme—yang sedang marak saat ini—adalah batu akik.

Tujuan seseorang membuat meme beragam. Tiap meme memiliki maksud yang berbeda-beda bergantung pada konteks gambar yang digunakan atau kejadian yang sedang terjadi di masyarakat. Ada yang dibuat untuk menyampaikan gagasan atau ide, ada yang digunakan untuk menyindir atau mengkritik seseorang atau realitas sosial, ada pula yang digunakan sebagai alat untuk menyerang pihak tertentu. Yang pertama dan kedua tidak terlalu menjadi soal, bahkan dalam batas tertentu menjadi media yang efektif untuk membuat publik menjadi lebih kratif dan kritis. Namun yang terakhir, lebih banyak memancing keresahan dan permusuhan.

Karena publik sudah tidak asing dengan gambar yang digunakan dalam sebuah meme, dan ditambah dengan banyaknya orang yang membincangnya, maka publik menjadi mudah menangkap maksud yang hendak disampaikan sebuah meme. Sebuah meme tidak perlu dijelaskan panjang lebar untuk memahami artinya. Seolah, dengan paduan gambar dan tulisan yang diatur sedemikian rupa, ia dengan sendirinya sudah bicara banyak hal dan membuat orang yang melihatnya tertarik dan langung paham maksudnya. Alhasil, meme menjadi ampuh dalam menyampaikan sebuah ide atau gagasan.

Menghibur

Di samping memuat ide atau gagasan tertentu, meme juga menghibur. Dengan gambar yang unik dan lucu, serta berbagai pesan yang terkandung di dalamnya, meme bisa dengan mudah membuat orang tergelitik dan tertawa lepas. Tak jarang, para pengguna media sosial mengunggah gambar meme yang menggelitik untuk sekadar mencari sensasi atau untuk merespon suatu persoalan yang sedang marak diberitakan. Bahkan, sebuah berita serius yang dibagikan oleh sebuah media lewat sosial media, kadang tak luput dari komentar-komentar lucu, sinis, acuh, dan santai melalui gambar meme. Tak ayal, hal tersebut juga membuat ketegangan yang kadang sempat terbentuk—dalam menanggapi sebuah berita—menjadi kembali cair.

Meme terbukti ampuh untuk mewakili berbagai pihak, baik individu, ataupun kelompok tertentu tanpa banyak bicara dan berkata-kata. Dengan paduan gambar yang mendukung ditambah dengan rangkaian kata yang tepat,  meme telah menjadi sebuah “produk” yang berhasil merepresentasikan dan menyuarakan kehendak dan pemikiran berbagai pihak. Meski awalnya merupakan produk individu yang mungkin berawal dari keisengan, banyak meme yang akhirnya populer di media sosial dan banyak diperbincangkan.

Kini jumlah meme kian bertambah dan  tak terhitung. Mereka berserak di internet dan mudah diakses publik di media sosial. Meme akan terus dibuat dan bermunculan seiring dengan berbagai kejadian dalam kehidupan. Orang-orang terus tergelitik dan tertarik dengan meme-meme yang ada di media sosial. Dan itu membuat para kreator meme juga semakin tergelitik untuk terus kreatif membuat meme-meme baru.

Meme bisa membuat kita mengkerutkan dahi, tersenyum, tertawa, bahkan sampai terpingkal-pingkal. Meme juga bisa membuat kita geram ketika ide atau gagasan di dalamnya tak sejalan dengan pikiran kita. Namun, di era keterbukaan informasi sekarang, ada baiknya kita tak terlalu mudah tersulut emosi dan terlalu reaktif dengan berbagai gambar, tulisan, dan berbagai konten dalam internet yang sering dibuat oknum-oknum tak bertanggungjawab.

Tayang di rubrik “RAGAM” Suara Merdeka edisi Jumat, 20 Februari 2015
RAGAM SM MEME 20-02-2015

Iklan