Menyibak Kehidupan Gepeng (Resensi dimuat di Riau Pos)

Cover BukuKomik Gelandangan Undercover
Judul Buku                  : Gepeng Undercover
Cerita dan gambar       : Gino Kasmyanto
Penerbit                       : Visimedia Pustaka
Tahun                          : Cetakan pertama, 2014
Tebal                           : iv+100 halaman
ISBN                           : 978-9789-065-229-3

Urbanisasi yang sulit dibendung, mengakibatkan kota menjadi riuh dengan pendatang. Orang-orang dari berbagai pelosok daerah datang berbondong-dondong. Celakanya, banyak diantara mereka yang datang tanpa tujuan yang jelas dan memiliki keahlian yang cukup untuk bekal hidup. Bisa dikatakan, mereka datang dengan hanya bermodalkan nekat. Akibatnya, di kota-kota besar, banyak di antara mereka yang hidupnya menjadi gelandangan dan pengemis.

Gelandangan dan pengemis, atau kerap disingkat gepeng, seakan sudah menjadi pemandangan yang biasa di kota-kota besar. Mereka ada di sudut-sudut kota, di jalan-jalan, dan berbagai tempat umum menjalankan aksinya meminta-minta. Tanggapan publik berbeda, ada yang menaruh rasa iba karena penampilan mereka, namun tak jarang yang merasa terganggu karena ulah mereka yang kerap memaksa orang untuk memberi.

Gino Kasmyanto, dengan kemampuan menggambar komiknya, berupaya menggambarkan kehidupan gepeng secara lebih gamblang dan menghibur. Dengan berbentuk komik, kisah keseharian gepeng menjadi lebih mengena karena pembaca tak hanya disuguhi teks, tapi juga gambar. Tampilan visual seorang gepeng dengan baju compang-camping, dan berbagai karakter yang lucu dan menggelikan, menghasilkan citra berbeda dalam mengimajinasikan gepeng.

Pandangan umum menganggap gepeng sebagai orang-orang yang hidup kesusahan dan harus dibantu. Namun dalam buku ini, gepeng—yang di dalam tampilannya di hadapan publik lebih menampakkan “wajah” kesusahan, coba dibongkar dengan menampilkan sisi lain yang kerap terlihat dari kehidupan sehari-harinya. Keseharian gepeng, mulai saat beraksi di jalan-jalan meminta-minta, sampai dengan kebiasaan berlari dan bersembunyi saat dikejar-kejar petugas ketertiban, menjadi suguhan cerita yang membuat pembaca menjadi kritis dalam menyikapi fenomena gepeng ini.

Tak hanya dalam dunia usaha, kreativitas juga dibutuhkan dalam “dunia” gepeng. Hasrat untuk menghasilkan banyak uang, membuat para gepeng memutar otak untuk bisa menarik simpati publik saat beraksi. Segala cara dilakukan agar bisa meraup uang sebanyak mungin. Alhasil, kini banyak dijumpai berbagai modus yang kerap dilakukan oleh para gepeng untuk “menipu” publik lewat tampilan mereka.

Dalam cerita berjudul “kerja siang malam” (hlm 6) terlihat bagaimana seorang pengemis telah membuat pemberinya geram. Karena ternyata, pengemis itu memiliki ponsel dan dengan santai mengangkat telefon dari temannya di hadapan si pemberi. Parahnya, dalam pembicaraan telefon tersebut, pemberi mendengar gepeng tersebut meminta-minta untuk membayar cicilan kredit sepeda motor. Mengemis bukan lagi soal kesusahan hidup, melainkan telah berubah menjadi sebuah pekerjaan yang menjanjikan.

Lain halnya dengan cerita berjudul “tidak bisa tidur” (hlm 40). Cerita tersebut mengisahkan para gepeng yang menjadikan kuburan di kota sebagai tempat tinggal. Berbagai aktifitas, mulai dari ngobrol, bermain kartu, menjemur pakaian, mendengarkan radio, makan, mengumpulkan sampah dan barang bekas, sampai anak-anak para gepeng yang bermin-main, telah menggangu para hantu penghuni kuburan dan membuat mereka tak bisa tidur. Hal ini tentu hanyalah gambaran betapa gepeng telah begitu membludak hingga mengganggu dan meresahkan lingkungan.

Sulit diubah

Dalam sebuah sketsa berjudul “sosialisasi penanganan gelandangan dan pengemis” (hlm 96) terlihat bagaimana aturan tentang gepeng selama ini hanya tinggal aturan. Ada jurang pemisah antara yang ideal dengan realitas. Berbagai hal yang ideal selalu digaungkan di mana-mana. Mulai dari Pak Usdaz yang menganjurkan bersedekah pada orang yang tepat, MUI yang melarang menjadikann pengemis menjadi profesi, sampai polisi yang mensosialisasikan undang-undang yang menyatakan bahwa gepeng harus dibina dan ditertibkan dan adanya hukuman bagi yang melanggar.

Namun kenyataannya, para gepeng tetap saja berkeliaran dan seakan tak pernah berkurang. Dengan berbagai dalih, mereka berkilah dan seakan sudah “nyaman” dengan pekerjaan tersebut. Berbagai alasan terlontar, mulai dari tidak terbiasa dengan pekerjaan lain, sampai pada pengakuan bahwa bekerja sebagai gelandangan sangat mudah karena tidak terikat waktu. Terlebih, mereka mengakui bahwa hasilnya lumayan. Tak ayal hal-hal tersebut pada akhirnya membuat mereka terus bertahan sebagai geladangan dan pengemis.

Meski berisi cerita-cerita ringan seputar kehidupan gelandangan, namun buku ini tetap menjadi dokumentasi menarik dalam memotret realitas dunia gepeng. Dengan gambar-gambar yang menarik dan balutan humor yang kental, membuat buku ini menjadi renyah untuk dinikmati. Namun, yang menjadi catatan adalah tema yang digarap menjadi terasa kurang mendalam karena justru meluas ke wilayah yang tidak lagi relevan. Banyak cerita tentang gepeng yang dibalut dengan berbagai hal—yang tak relevan dengan dunia gepeng—demi memunculkan kesan lucu.

Pada akhirnya, buku ini memberikan pesan bahwa perkembangan zaman telah mengubah imajinasi tentang gelandangan dan pengemis. Dari yang awalnya berisi kisah kesusahan hidup, menjadi sebuah rutinitas yang “menghanyutkan” orang, sehingga orang menjadi ketagihan untuk terus meminta-minta. Akhirnya orang malas beralih ke pekerjaan lain yang lebih pantas sebagai manusia yang dikaruniai akal untuk diberdayakan dalam menjalani hidup. Di sisi lain, buku ini juga menjadi wawasan tersendiri bagi pihak pemerintah, agar lebih memahami para gepeng secara lebih intens dari segi emosional, sehingga dapat memberikan kebijakan dan pembinaan yang dapat diterima dan mudah dijalankan oleh mereka.

(Naskah ini pernah dimuat di Riau Pos, edisi Minggu 22 Maret 2015)
Resensi Buku Riau Pos

Iklan