Berpuisi dalam Rutinitas Pekerjaan (Resensi Buku dimuat di Solopos)

Cover Buku Kumpulan Puisi Pelajaran Berlari

Judul               : Pelajaran Berlari
Penulis             : Didik Siswantono
Penerbit           : Kepustakaan Populer Gramedia (KPG)
Tahun              : Cetakan 1, Februari 2015
Tebal               : xx+100 halaman
ISBN                : 978-979-91-0822-7

Rutinitas pekerjaan kerap membuat hidup seseorang serba tergesa. Target yang dicanangkan, menjadikan orang larut dalam rutinitas demi ambisi mencapainya. Hidup dalam target adalah laku mengejar tiada henti. Saat satu target terpenuhi, selalu muncul target selanjutnya yang lebih tinggi. Alhasil, hidup menjadi melelahkan karena selalu berlari dan seakan tak pernah benar-benar sampai.

Sesekali, hidup perlu berhenti. Benar-benar berhenti dari rutinitas dan merenung mengendapkan harsat yang terus mencuat. Berhenti untuk melihat diri, menikmati waktu sebagai diri sendiri tanpa terikat oleh sistem dan mesin kehidupan. Didik Siswantono lewat buku kumpulan sajak Pelajaran Berlari mengajak kita mendalami makna kehidupan dengan rangkaian tema-tema keseharian dan pekerjaan. Latar belakang penulis yang juga merupakan seorang pekerja kantoran, menjadikan puisi-puisi di dalamnya begitu lekat dengan rutinitas pekerjaan.

Kegelisahan terkait rutinitas pekerjaan, dijadikan inspirasi mengolah imaji dan diksi. Sajak Kaum Berdasi (hlm 96) menggambarkan kehidupan orang-orang kantor yang diburu target. Bahkan tak jarang saling menyikut, demi keuntungan yang diharapkan tanpa peduli kerugian yang ditanggung kawan.  Sebuah Pagi; terjebak di antara pria-pria berdasi/menuhankan sebuah semoga/yang tak kunjung tiba/Ada seutas dasi/enggan kupakai pagi ini/Aku takut menjelma bagai mereka/yang rela melipat hati/demi sesuap simpati/aku pun pergi minum kopi.

Berlari

Hidup adalah tentang bagaimana terus berlari menyambung nafas demi nafas dari hari demi hari. Kebutuhan hidup yang seakan semakin besar, membuat orang harus bekerja keras. Dalam puisi berjudul Pelajaran Berlari (hlm 60) yang menjadi judul buku ini, Didik menggambarkan kerja keras yang harus ditempuh oleh “aku” karena kondisi keluarga. Kali ini pelajaran berlari amatlah menguras air mata/ Seminggu ini, kecepatanku tak lebih dari dua puluh lima ribu setiap hari. Setiap hari, seperti dituahkan Bapak dari mulutnya, yang merah jambu semua/Kecepatanku harus mencapai lima puluh ribu per hari/Ditakdirkan sebagai anak sulung beradik empat orang/aku harus kuat berlari sepanjang hari.

Berlari menjadi simbol kehidupan yang harus terus bergerak. Bergerak mencukupi hidup demi tanggungjawab hidup itu sendiri. Keluarga menjadi yang paling berpengaruh terhadap tanggungjawab seseorang akan ketercukupan hidup. Kecepatan berlari menjadi ukuran penghasilan. Seiring berjalannya waktu, kebutuhan terus bertambah dan dengan demikian, kecepatan berlari juga harus semakin kencang.

Dalam berlari—mengejar dan mencukupi kebutuhan—seseorang selalu dihadapkan berbagai rintangan. Sering kali seseorang menderita luka dan menanggung gelisah dunia. Puisi menjadi sarana menumpahkan emosi, rasa gelisah dan luka yang selalu datang menyapa. Mari simak puisi berjudul Pelajaran Berkicau (hlm 23) berikut; Menyembunyikan luka di kepala membuatku malas bertegur sapa/Luka terpaksa mengeram lebih lama dari yang kukira.

Pada kenyataannya, luka tak bisa dipendam begitu saja. Dibutuhkan sarana untuk–paling tidak—mengungkapkan, jika tak sampai menyembuhkan atau menyelesaikan. Meski sekadar mengungkapkan, namun itu penting untuk setidaknya meredam. Jika luka tidak terungkapkan, ia bisa membawa penderitaan yang tak tertanggungkan. Luka memang selalu ada, tinggal bagaimana kita berkicau semampunya/Agar surga menjadi taman bunga di kepala.

Ketika hidup adalah berlari, maka waktu terus bergerak dan melaju. Ketika hari-hari berisi berlari dan terus berlari, tak mudah menemukan kesunyian waktu dan berhenti untuk menikmati diri sendiri. Meminjam istilah Joko Pinurbo, sebagaimana tercantum dalam pengantar buku ini, dalam sajak-sajak Didik, si “aku” menciptakan sendiri kesunyian melalui pena; melalui keasyikan bersastra. Dengan pena itulah ia bisa bersakap-cakap dengan dirinya sendiri.

Sajak-sajak Didik Siswantono membahasakan kegelisahan akan rutinitas pekerjaan lewat hening puisi. Keheningan mengendapkan resah dan menghidupkan jiwa menjadi peka. Kalut pekerjaan coba diurai lewat jalinan rasa yang tumbuh dari deret kata dan imajinasi. Hal-hal sepele dalam keseharian, direkam dalam sajak-sajak yang mengundang keheningan. Dari keheningan itu, pembaca diajak menyelami makna tiap gerak dan tindakan.

Di samping itu, puisi-puisi dalam buku ini, jika dilihat secara keseluruhan isinya, seakan berupaya menggambarkan bagaimana harmoni kehidupan dibentuk. Di satu sisi, menyuarakan kerja keras yang harus ditempuh untuk mencukupi hidup. Namun di sisi lain, juga mengajak sejenak berhenti dari rutinitas, merenung mengisi dahaga batin. Satu puisi berjudul Pelajaran Hari Ini (hlm 27) barangkali paling tepat menjadi penutup karena mewakili gagasan puisi-puisi dalam buku ini secara keseluruhan. Hidup adalah pelajaran berlari tanpa henti/Kadang berhenti, mengatur hati/Lalu berlari lagi, dan berlari lagi/Sampai mati.

(Solopos, edisi Minggu 19 April 2015)
resensi di Solopos

Iklan