Balada Penulis dan Bukunya (Esai di Riau Pos)

AWAL Maret lalu, Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Paradigma STAIN Kudus, mengadakan Haflah Ilmiah (Perayaan Ilmiah). Ini Haflah ke-2, setelah tahun kemarin acara serupa mendapat sambutan positif dari berbagai kalangan, baik mahasiswa, pelajar, guru, dosen, maupun dari masyarakat umum di sekitar Kudus. Acara yang berlangsung lima hari itu diisi dengan diskusi keilmuan tiap harinya, mulai dari bedah buku, launching buku, sampai bedah majalah.

Yang hendak saya ceritakan di sini adalah, tentang seorang kakak, senior di lembaga pers kampus tersebut. Di salah satu acara itu, ia meluncurkan sebuah buku berjudul Tiada Tangan yang Bengkok Bayangannya Lurus (selanjutnya disingkat TTYBBL). Semenjak lulus kuliah, ia terus menulis, menulis buku. Dan setelah beberapa tahun, kini sudah ada tiga buku yang lahir dari tangannya, dan masih ada beberapa buku yang masih dalam “kandungannya”.

Yang menarik, semua ia lakukan sendiri. Ia menulis buku itu sendiri, menerbitkannya sendiri dan mencetaknya di sebuah percetakan dengan biaya sendiri, mempromosikan, dan memasarkannya sendiri. Di acara Haflah selama lima hari itu, di samping berisi diskusi, juga dimeriahkan bazar buku dari beberapa penerbit. Jadi, selain bisa mengikuti acara diskusi, para pengunjung juga bisa belanja buku. Selama lima hari itu juga, buku TTYBBL juga dipajang. Di samping itu, juga ada buku “Menghidupkan yang Mati” yang merupakan buku kumpulan esai dari rekan-rekan di LPM Paradigma yang juga diluncurkan dalam salah satu acara.

Kembali ke apa yang ingin kuceritakan; buku TTYBBL dan penulisnya. Ia, sepanjang acara melayani pengunjung yang mendatangi stan buku TTYBBL. Ia berbincang dengan pengunjung, meminta tanggapan tentang bukunya, dan tak jarang dimintai tanda tangan oleh pembeli—sebagaimana sering dilakukan pembeli buku ketika berkesempatan bertemu penulisnya langsung. Dalam beberapa kesempatan, saat memberi motivasi pada kami, adik-adiknya, ia kerap berbagi pengalaman; bagaimana ia mulai menulis, bagaimana ia menerbitkan bukunya, bagaimana ia bertemu pengunjung yang hendak membeli bukunya, juga tanggapan-tanggapan pembaca atas karyanya.

Dalam satu kesempatan, ia juga bercerita bahwa beberapa waktu setelah bukunya terbit, ia ditemui seseorang yang mengkritik bukunya, juga dirinya. Orang itu, mengatakan kepadanya, jika ingin jadi penulis besar, ajukanlah naskah buku ke penerbit-penerbit ternama, bukan menerbitkan sendiri seperti yang ia lakukannya. Dan bagaimana tanggapannya?

Saat bercerita pada kami, ia menanggapi kritikan tersebut (bukan di depan pengkritik itu, karena ia rasa itu tidak sopan) dengan mengatakan bahwa ia tidak ingin menjadikan penerbit-penerbit ternama itu sebagai “Tuhan” yang menentukan nasib sebuah naskah; layak terbit atau tidak (baca; layak dibaca publik atau tidak). Sebuah naskah, menurutnya, yang menentukan layak terbit atau tidak, adalah pembaca. Aku sempat merinding mendengarnya. Oleh karena itu, ia menyerahkan nasib naskahnya kepada pembaca, dan setelah dirasa responnya baik, ia memilih menerbitkannya sendiri dengan biaya sendiri di sebuah percetakan.

Tak hanya itu. Melihat harga bukunnya yang kutahu saat acara itu, aku kian kagum. Ia mematok harga, untuk sebuah buku yang sekitar dua ratus halaman itu 19.500 rupiah. Aku tidak tahu berapa keuntungan yang ia peroleh dari setiap eksemplar bukunya. Bahkan aku malah berfikir, apakah ia bisa mengembalikan modal mencetak bukunya? Yang jelas, dari sana aku melihat seorang penulis yang tidak memikirkan tentang keuntungan. Mungkin dipikirkan, tapi entah yang ke sekian.

Terkait harga ini, dalam satu kesempatan, ia pernah berkata kepadaku; harga sebuah buku jangan sampai memadamkan hasrat seorang pembaca untuk membeli. Apa jadinya, katanya, jika ada seseorang yang dengan penuh kesungguhan ingin memiliki dan membaca buku yang kita tulis, tapi karena uangnya tidak cukup, ia urungkan niatnya untuk membeli. Betapa menyesal seorang penulis. Ia telah kehilangan kesempatan mendapatkan pembaca yang datang dengan kesungguhan untuk membaca karyanya, hanya karena selisih harga beberapa ribu rupiah saja.

Kita kerap mengurungkan niat membeli sebuah buku karena selisih harga yang relatif tidak banyak. Kita kerap berangan-angan dalam hati; andai buku ini harganya diturunkan, pasti kubeli. Harga kerap menjadi alasan seseorang memutuskan membeli buku atau tidak. Dari sini, maka penulis TTYBBL itu, kemudian menetapkan harga bukunya berdasarkan rekomendasi dari pembaca; ia membuat semacam jajak pendapat untuk mengetahui kisaran harga yang pantas untuk bukunya, yang diinginkan pembaca. Dari angka yang didapat, ia menetapkan harga bukunya. Jadi, nyaris bisa dipastikan tak akan ada pembeli yang menganggap harga buku itu mahal. Karena angka (harga) itu dari mayoritas pembaca (pembeli) sendiri.

Tentu, aku juga menjadi salah satu pembaca karyanya; TTYBBL. Buku itu berisi kritikan terhadap orang tua, juga gagasan—yang menurutku menarik—tentang bagaimana membimbing anak menjadi pribadi yang beriman dan berbakti pada orang tua (birul walidain). Aku menemukan banyak hal baru tentang pendidikan anak dari buku itu. Dan aku berkesimpulan; naskah menarik dan cerdas akan tetap menjadi besar di mata pembaca, dari manapun ia diterbitkan.

Tentu saja, beberapa hal di atas, akan sulit dilakukan seorang penulis jika bukunya diterbitkan oleh penerbit ternama. Tidak bisa tidak, harga buku, ketika telah berurusan dengan penerbit, distributor, modern bookstore (toko buku) akan jauh melangit. Tentang harga buku yang tinggi, hal ini sudah menjadi kegelisahan para pembaca, penulis, bahkan penerbit dan percetakan sendiri di Indonesia—jadi jelas siapa yang bertanggungjawab. Dan ini, jelas berkontribusi terhadap rendahnya minat baca masyarakat kita.

Apa yang saya ungkapkan dalam tulisan ini hanyalah sebuah pengalaman. Mengenal seorang penulis yang berniat membagi ilmu dan kegelisahannya lewat tulisan, benar-benar menulis untuk pembaca. Tak ada kutemui penulis buku seperti itu sebelumnya. Bagaimana ia dengan susah payah mengurusi bukunya sendiri; menerbitkan, mempromosikan, memasarkan, dan dengan sabar melayani pembeli satu per satu, berbincang, dan berempati dengan pembeli (pembaca) sampai sejauh itu. Atau mungkin aku saja yang kurang berpengalaman. Barangkali banyak penulis di luar sana yang seperti itu? Semoga.

(Tayang di Riau Pos edisi Minggu 7 Juni 2015)
Esai Riau Pos 7Juni2015smal

Iklan