Dinamika Sosial dalam Narasi Kemanusiaan

cover buku Seekor Burung Kecil Biru

Judul               : Seekor Burung Kecil Biru di Naha
Penulis             : Linda Christanty
Penerbit           : Kepustakaan Pupuler Gramedia (KPG)
Tahun              : cetakan 1, 2015
Tebal               : xi+134 halaman
ISBN               : 978-979-91-0826-5

Memahami peristiwa-peristiwa besar dalam sejarah kemanusiaan secara utuh, adalah hal yang sulit. Sejarah selalu menyimpan sisi lain, kompleksitas yang hampir tak mungkin secara komprehensif didedahkan buku sejarah. Dalam hal ini, sejarah butuh kisah-kisah “lain”, sudut pandang lain dari sumber-sumber baru demi pemahaman yang “lebih” menyeluruh dari sejarah itu sendiri.

Linda Christanty lewat buku kumpulan esai dan reportase berjudul Seekor Burung Kecil Biru di Naha menawarkan kisah-kisah yang menambah dinamisnya pemahaman akan sejarah kemanusiaan. Kedinamisan ini dapat melengkapi wawasan sejarah yang selama ini sudah dipahami. Sastrawan yang juga seorang wartawan ini menyuguhkan reportase, pengalaman, dan fakta dengan bahasa sastra yang khas, sehingga bacaan terasa ringan, dan pembaca seakan tak sadar sedang membaca peristiwa sejarah.

Bayangan peristiwa-peristiwa besar kemanusiaan dihadirkan kepada pembaca lewat dialog dengan orang-orang terkait peristiwa, juga kawan, kenalan, sampai keluarga sendiri. Dialog tersebut dijadikan “senjata” Linda untuk memberikan gambaran sekaligus pandangannya akan pelbagai peristiwa besar kemanusiaan.

Dalam kisah berjudul Berdamai dari Bawah, sastrawan kelahiran Bangka ini berkisah tentang Khatijah binti Amin, perempuan Aceh yang suaminya menjadi anggota pasukan pertama Hasan Tiro, pencetus Gerakan Aceh Merdeka (GAM). Selain disiksa dan disekap, Khatijah menjadi saksi kekerasan dan penyiksaan militer yang dirasakan warga saat itu. Kini, ia berusia 73 tahun. Ia belum dapat menghilangkan rasa marahnya terhadap orang-orang yang menyiksanya dulu. “Hati saya masih merah. Sesadis itu mereka lakukan, bagaimana mereka aniaya saya, begitulah Allah membalasnya,” kata Khatijah yang dikutip Linda (hlm 3).

Pengalaman masa-masa konflik, di satu sisi memunculkan ingatan akan kebencian. Namun kini semua sudah berlalu dan hidup harus berlanjut. Rekonsiliasi, penerimaan, keikhlasan, dibutuhkan untuk menatap masa depan. Dalam kisah lain, bentuk penerimaan tersirat lewat adegan saat Linda berdialog dengan Akiko, kawan perempuan dari Jepang yang bertanya tentang pendapat anak-anak muda Indonesia tentang penjajahan Jepang berpuluh tahun silam.

Linda mengingat, pada masa itu ratusan ribu perempuan Indonesia dijadikan budak seks atau jugun ianfu. Namun, Linda mengatakan, Akiko tak harus menanggung kesalahan generasi kakeknya. “Kami harus menatap masa depan, membuat dunia ini jadi tempat tinggal yang lebih baik bagi generasi baru,” tulis Linda dalam esai berjudul Seekor Burung Kecil Biru di Naha yang dipilih menjadi judul buku ini.

Hal tersebut mengisyaratkan penerimaan sikap Linda terhadap kawannya yang berasal dari Jepang, meski pendahulunya pernah menjajah negerinya. Linda memandang Akiko sebagai generasi baru yang harus digandeng untuk bersama membangun kehidupan yang lebih baik di masa sekarang dan melupakan kenangan buruk masa silam.

Tak hanya mengisahkan kehidupan manusia pasca konflik, Linda juga menggambarkan dinamisme hubungan manusia seiring perkembangan zaman. Ini tersirat dalam esai Rumah bagi Mereka yang Tua. Di sini, Linda membandingkan relasi dalam keluarga di Indonesia dan di Eropa atau Amerika. Waktu kecil, Linda hidup dalam keluarga yang menghendaki semua anak pergi melanjutkan pendidikan dan mempelajari kehidupan sendiri, sehingga ia terbiasa hidup jauh dari rumah. Namun, dalam satu kesempatan Ayahnya mengungkapkan kerinduan pada Linda. Linda tersadar, ternyata orang tua menginginkan anak-anak mereka pergi bukan untuk dilupakan, tetapi untuk dikenang.

Lain halnya di Amerika. Linda pernah mengunjungi situs http://www.prphil.com milik seorang psikolog dan penulis ternama Amerika, Dr. Phil McGraw. Di situs itu, ia mendapati saran-saran untuk orang tua yang kewalahan menghadapi anak-anak mereka yang sudah dewasa namun tak juga mandiri. Bahkan, banyak ibu-ibu meminta bantuan Dr. Phil untuk mendepak anak laki-lakinya dari rumah. Menurut situs ini, sekitar 14 juta anak dewasa di Amerika masih tinggal di rumah orang tua mereka (hlm 26).

Apa yang terjadi di Amerika menunjukkan betapa kehidupan sudah pesat berkembang. Semua dihitung dengan uang dan waktu; efisiensi. Sampai orang gelisah ketika anak-anaknya sudah dewasa tapi tak juga mandiri. Sementara di Indonesia, orang tua justru merindukan masa-masa mengasuh anaknya. Sebab, ketika dewasa, anak telah berubah menjadi mesin rutinitas pekerjaan. Mereka senang jika anak-anak berkunjung, bahkan tinggal bersama mereka.

Membaca tulisan demi tulisan dalam buku ini, kita diajak mendengarkan, berdialog, dan merenungi pergulatan sosial-psikologis manusia dalam kehidupan. Konflik, tragedi, sampai rekonsiliasi kemanusiaan digambarkan jujur sebagai peristiwa manusia dengan segala kemanusiaannya. Orang-orang yang dikisahkan Linda dalam 13 esai di buku ini benar-benar hidup. Linda berhasil “menyuarakan” mereka sebagai bagian tak terpisahkan dalam lapangan sejarah kemanusiaan. Ini memunculkan kesadaran baru bagi pembaca dalam memandang konflik atau tragedi kemanusiaan sebagai hal yang kompleks dan dinamis, bukan hanya melulu hitam dan putih.

(Tayang di Kabar Madura, Selasa 15 September 2015)

 

Iklan