Teknologi Informasi dan Budaya Literasi

“Jika ingin menghancurkan sebuah bangsa dan peradaban, hancurkan buku-bukunya;
maka pastilah bangsa itu akan musnah”
(Milan Kundera)

Membangun Indonesia berarti memberdayakan segala aspek yang ada di negeri ini untuk mencapai kemajuan dan kesejahteraan. Di era modern, pembangunan manusia diupayakan untuk membentuk manusia unggul yang mampu bersaing dan survive dengan kemajuan zaman. Maka diperlukan pemberdayaan serius, terutama dalam aspek pengetahuan dan skill atau keterampilan. Kemudian untuk membangun manusia yang berkepribadian, diperlukan pemberdayaan dalam aspek moral dan religius.

Dalam konteks perberdayaan manusia, buku tempat mengikat pengetahuan menjadi salah satu hal yang penting. Sejarah membuktikan, tokoh-tokoh besar yang berpengaruh merupakan sosok-sosok yang lekat dengan buku. Di Indonesia, Soekarno, Muhammad Hatta, Moh Yamin, dan masih banyak lagi, merupakan beberapa nama tokoh yang dalam perjalanan hidupnya tak pernah lepas dari buku. Hal tersebut menggambarkan bahwa tokoh-tokoh besar memiliki kesadaran tinggi terhadap pentingnya membaca. Wakil presiden pertama, Muhammad Hatta bahkan pernah berkata, “Aku rela dipenjara, asalkan bersama buku, karena dengan buku aku bebas”.

Aktifitas membaca, mengamati, menganalisis, menulis, dan berbagai bentuk kerja literasi lainnya merupakan proses belajar memberdayakan manusia. Hal tersebut akan membentuk pribadi yang tak hanya berpengetahuan luas, namun juga bekepribadian kuat. Ide-ide besar, gagasan cerdas, analisis tajam dan pemikiran mendalam yang berpengaruh besar di masyarakat luas, tak muncul begitu saja, namun banyak dipengaruhi kerja literasi yang telah menjadi bagian hidup. Kerja yang kemudian mengantarkan seseorang menjadi lentera-lentera yang mencerahkan kehidupan orang lain bahkan bangsanya secara luas. Namun, bagaimana minat membaca masyarakat kita saat ini?

Berdasarkan studi “Most Littered Nation In the World” yang dilakukan Central Connecticut State University pada bulan Maret 2016 lalu, Indonsia dinyatakan menduduki peringkat ke-60 dari 61 negara soal minat membaca (Kompas, 29/8). Tragis. Orang lebih suka menonton ketimbang membaca. Anak-anak muda lebih gemar pergi ke tempat hiburan dan pusat perbelanjaan ketimbang ke perpustakaan atau toko buku. Kita pun bertanya, mengapa minat baca kita begitu rendah?

Menurut penulis, ada banyak faktor yang bisa dirangkum dalam 3 hal; (1) kurangnya kesadaran pentingnya investasi pengetahuan, (2) kurangnya dukungan sarana-prasarana, dan (3) buku yang harganya relatif mahal. Ketiganya sebenarnya saling berkaitan. Kurangnya kesadaran pentingnya investasi pengetahuan dengan belajar, lewat membaca, berkaitan dengan kebiasaan dan pengaruh lingkungan sekitar (keluarga, teman, guru sekolah, dll). Sementara perpustakaan atau sarana membaca yang minim dan kurang representatif membuat orang memandang buku sebelah mata dan akhirnya malas membaca. Buku bukan benda yang akrab dengan kita. Membaca pada akhirnya menjadi aktivitas yang langka.

Teknologi informasi dan budaya literasi

Melihat berbagai faktor yang menyebabkan minimnya minat baca masyarakat tersebut, kemajuan pesat dalam bidang teknologi informasi dan komunikasi bisa menjadi salah satu alternatif untuk mengatasinya. Karakteristik yang ditawarkan kemajuan teknologi adalah kepraktisan, kecepatan, dan bisa jadi, murah. Berbagai kelebihan tersebut mestinya mampu dimanfaatkan untuk, paling tidak, berkontribusi dalam meningkatkan minat baca dan membangun budaya literasi masyarakat.

gambar-1-peluang-aplikasi-baca-dalam-meningkatkan-minat-baca-masyarakat

Saat ini telah cukup banyak aplikasi-aplikasi yang menawarkan kemudahan untuk membaca. Seiring dengan kemajuan teknologi, muncul buku digital atau e-book, di mana seseorang bisa membaca buku elektronik dari perangkat masing-masing. Para pengembang start up juga telah banyak melahirkan berbagai aplikasi yang memungkinkan kita mengunduh buku, surat kabar, atau majalah digital dan membacanya, baik berbayar maupun gratis. Beberapa aplikasi tersebut misalnya, Moco, SCOOP Newsstand, Goodreads, Wayang Force, Buqu, Wattpad, dll. Selain itu, ada pula aplikasi perpustakaan digital yang diluncurkan pemerintah. Misalnya, iJakarta yang diluncurkan Badan Perpustakaan Daerah Pemerintah Provinsi DKI Jakarta.

Kehadiran berbagai aplikasi dan fasilitas tersebut kita harapkan paling tidak memberikan dampak positif bagi peningkatan minat baca kita. Misalnya, kepraktisan dan kemudahan yang ditawarkan setiap aplikasi bisa menjawab persoalan minimnya sarana prasarana baca. Kemudian biaya yang relatif murah, bahkan ada yang gratis, bisa menjadi alternatif di tengah mahalnya harga buku di toko-toko buku. Memang, kemunculan berbagai aplikasi tersebut tidak serta merta menumbuhkan minat baca masyarakat. Sebab persoalan minat baca adalah persoalan kompleks yang dipengaruhi banyak faktor sebagaimana disinggung sebelumnya. Namun, kemunculan aplikasi-aplikasi tersebut setidaknya mampu memberi harapan, terutama bagi generasi muda agar bisa menumbuhkan budaya baca.

Yang menjadi persoalan adalah, bagaimana menarik minat masyarakat, terutama remaja, lewat berbagai aplikasi tersebut. Artinya, selain menyediakan e-book atau kemudahan membaca, yang juga perlu diperhatikan selanjutnya adalah bagaimana kemudian aplikasi-aplikasi tersebut bisa menawarkan hal-hal menarik yang digemari remaja. Harapannya, teknologi tak sekadar menjadi media yang menyediakan sarana membaca, namun juga bisa menciptakan atau membangun budaya berliterasi

Belajar dari kesuksesan media sosial

Kesuksesan Facebook, Instagram, Google Plus, Youtube, Twitter, dll. dalam memengaruhi banyak remaja bisa dijadikan bahan pelajaran untuk menggaet minat dan perhatian remaja kita. Berbagai media sosial tersebut telah menciptakan banyak tren yang berpengaruh luar biasa bagi kehidupan orang-orang di seluruh dunia. Kepopuleran istilah-istilah semacam selfie, meme, vlog, dubsmash, dan masih banyak lagi di kalangan remaja, menggambarkan bahwa media sosial telah menjadi budaya atau bagian tak terpisahkan dari kehidupan orang-orang sekarang.

Aplikasi-aplikasi baca mesti lebih dikembangkan agar bisa populer di kalangan remaja kita. Harapannya, para remaja akan semakin mengenal berbagai aplikasi tersebut, semakin dekat dengan berbagai macam bacaan, ada interaksi yang intens antar pengguna, dan dari sana terbentuklah kebiasaan atau budaya literasi–lewat diskusi atau berbincangan bahan bacaan, telaah buku, dan berbagai bentuk aktivitas literer lainnya.

Pertanyaan berikutnya, bagaimana menarik perhatian para remaja terhadap aplikasi baca?

Kita bisa belajar dari para pengembang start up yang telah sukses, tentang bagaimana mereka bisa menggerakkan jutaan orang untuk berpindah atau memigrasikan banyak aktivitas ke dalam perangkat mobile. Dalam konteks mengembangan budaya literasi, berarti bagaimana mendekatkan orang-orang yang tak bisa lepas dari gadget atau perangkat mereka dengan buku atau bacaan. Tentu, kita bukan hendak membuat gerakan besar-besaran untuk meninggalkan buku kertas dan perpustakaan menuju buku digital di gadget kita masing-masing. Kita sedang bicara tentang kontribusi teknologi dalam mengembangkan minat baca dan budaya literasi.

Pada tahun 2013, Facebook merampungkan sebuah studi terhadap pengguna telepon pintar di Amerika. Orang-orang ditanya tentang bagaimana perasaan mereka tentang aktivitas sosial dan berkomunikasi di telepon pintar. Hasilnya, banyak perasaan muncul; ada yang ingin bergaya, terkoneksi, senang, ingin tahu atau tertarik, dan produktif. Di antara semua itu, ada dua sentimen terkuat, yakni “terkoneksi” dan “senang” (George Berkowski: 2014). Hal tersebutlah yang kemudian dijadikan patokan para pengembang start up untuk merancang sebuah aplikasi yang bisa memfasilitasi dan menawarkan hubungan emosional sebagaimana hasil penelitian tersebut.

gambar-2-dua-hal-yang-penting-dikembangkan-aplikasi-baca

Apa yang hendak penulis ungkapkan adalah bagaimana aplikasi-aplikasi baca yang menyediakan buku digital bisa mengembangkan lebih jauh suatu bentuk aplikasi yang bisa menawarkan perasaan terkoneksi dan perasaan senang dari para penggunanya. Ini merupakan kunci kesuksesan berbagai aplikasi yang telah mendapatkan jutaan bahkan miliaran pengguna di seluruh dunia, yang pada gilirannya membentuk budaya media sosial saat ini.

Sebenarnya sudah ada beberapa aplikasi baca yang memungkinkan para pengguna saling bekomentar dan bahkan berdiskusi lebih jauh lewat grup di aplikasi tersebut. Kita berharap semakin banyak orang tertarik dan menggunakannya agar ke depan aplikasi-aplikasi baca semakin banyak dan berkembang. Kita sadar meningkatkan minat baca dan menumbuhkan budaya literasi butuh kerjasama berbagai pihak. Baik pembiasaan lingkungan sekitar (orang tua atau keluarga), dukungan sekolah, maupun dari pemerintah lewat ketersediaan sarana prasarana dan program-programnya.

Namun, ketika orang-orang mulai tertarik membaca buku dan mulai membincangkan hasil membaca dan pengetahuan mereka dengan orang lain lewat aplikasi di telepon pintar masing-masing, maka saat itu bisa dikatakan teknologi informasi dan komunikasi telah turut mendorong tumbuhnya minat baca masyarakat. Dengan kata lain, teknologi telah berkontribusi dalam pembangunan sumber daya manusia Indonesia.

(Al-Mahfud)

Iklan