Si Egois Bertualang Mencari Tuhan

 buku-the-geography-of-faith-eric-weiner

Judul               : The Geography Of Faith
Penulis             : Eric Weiner
Penerbit           : Qanita
Tahun              : Cetakan 1, September 2016
Tebal               : 500 halaman
ISBN               : 978-602-402-040-8

Eric Weiner, seorang penulis dan mantan koresponden National Public Radio (NPR) mencatat pengalaman menjelajahi tempat-tempat paling religius di dunia untuk mencari Tuhan. Keinginan tersebut muncul setelah ia terbaring lemah di rumah sakit dan seorang suster bertanya, “Sudahkah kau menemukan Tuhanmu?”. Pertanyaan yang membuatnya gelisah. Eric terlahir dari keluarga Yahudi, namun ia marasa harus “mencari” kepercayaannya sendiri.

Eric mengawali pencariannya dengan melihat jumlah agama-agama di dunia. Menurut David B. Barret yang melacak agama-agama di dunia sejak 1970-an, ada  9900 agama, dengan dua atau tiga agama baru muncul setiap hari. Terlalu banyak pilihan, Eric memangkasnya. Setelah dipangkas, tersisa delapan keyakinan. Eric sengaja tak memilih agama secara utuh, tapi aliran. Delapan aliran tersebut adalah Sufisme, Buddhisme, Fransiskan, Raelisme, Taoisme, Wicca, Syaminisme, dan Kabbalah. “Kubayangkan, lebih mudah memahami, katakanlah, Sufisme, daripada Islam secara keseluruhan, begitu pula Kabbalah dan Yudaisme,” tulis Eric.

Perjalanan pun dimulai. Eric pergi ke berbagai tempat di penjuru dunia yang mewakili delapan keyakinan tersebut. Eric mengawali dengan pergi ke Istanbul Turki dan ikut menari berputar-putar bersama para Sufi, kemudian bermeditasi bersama para Buddhisme di Tibet, tinggal bersama biarawan Fransiskan di salah satu sudut New York, sampai bergabung dengan penganut Raelian di Las Vegas. Eric selalu terbuka. Ia menerima setiap pandangan dari penganut masing-masing aliran dengan antusias. Hal ini membuat catatannya kaya pengetahuan tentang berbagai aliran tersebut. Selain hasil dialog dan pengalaman perjalanan, narasi Eric menjadi berisi karena ia sering memadukannya dengan hasil riset dan referensi dari buku-buku yang ia baca.

Eric mengalami kesadaran-kesadaran sepanjang perjalanan. Di Turki, setelah makan siang dan kenyang, ia sadar mengapa puasa menjadi perintah banyak agama, termasuk Islam. “Sulit mencari Tuhan dalam perut kenyang,” tulisnya. Bergaul dengan Sufi, Eric terpesona dengan pendekatan hati yang mereka gunakan untuk menuju Tuhan. Namun, dengan jujur Eric penasaran mengapa ia harus “tunduk–sebagaimana diajarkan Islam. Sebab Sufi bagaimanapun bagian dari Islam. Teman Eric, seorang Sufi, menjelaskan, tergantung motivasi ketundukan kita. “Apakah kau tunduk karena takut atau karena cinta? Jauh lebih mudah jika kita tunduk karena cinta” (hlm 90).

Eric melanjutkan perjalanan ke Kathmandu Nepal dan bertemu penganut Buddhisme. Ia mengaku, ada satu point dari Empat Kebenaran Mulia Agama Budha yang sesuai dengan yang ia rasakan: “Hidup adalah Penderitaan”. Namun, penderitaan Eric bukan karena kemiskinan atau bersifat meteri. Hidupnya kecukupan, bahkan ia mengaku beruntung memiliki istri cantik, penyayang, dan anak yang manis. Tapi, Eric tetap merasa menderita. Akhirnya, Eric sadar penderitaan bukan sepenuhnya buruk. Penderitaan terus mendorongnya mengamati segala hal yang tersembunyi di balik kehidupan.

Egois dan jujur

Catatan Eric menggambarkan keterusterangan. Ketika berkunjung ke penampungan tunawisma yang dikelola biarawan Fransiskan, sebuah ordo Katolik di New York, ia mengakui pengetahuannya minim tentang Perjanjian Lama dan Baru. Eric hidup di wilayah Kristen tapi sampai umur paruh baya, ia merasa tak tahu apa-apa tentang Alkitab. Di penampungan, Eric kagum dengan kesungguhan para biarawan dalam memegang sumpah mereka: sumpah kesucian, ketaatan, dan kemiskinan. Eric terpesona keikhlasan membantu orang lain dan kesederhanaan hidup mereka.

Namun, lagi-lagi, ketika ia berpikir apakah ia bisa menjadi seorang biarawan, dengan jujur Eric mengaku tak bisa. “Lagipula aku menyukai benda, dan sejujurnya aku menyukai pengalaman,” tulisnya (hlm 238-239). Dari lingkungan yang sarat kesederhanaan, Eric melanjutkan perjalanan menuju tempat yang penuh kesenangan. Adalah Raelian, sebuah agama berbasis UFO, pemuja teknologi secara ekstrem yang percaya umat manusia diciptakan ras asing dan pintar bernama Elohim.

Raelin merupakan agama sah dan diakui otoritas tertinggi lembaga pajak AS (IRS). Di lingkungan Raelian, Eric menemukan ajaran yang sulit ditemukan di banyak kepercayaan lain: bersenang-senang. Meski sempat menikmatinya, akhirnya Eric merasa hal tersebut tak sesuai pemikirannya. “Hedonisme adalah gaya hidup, bukan teologi,” tulisnya (hlm 284). Tapi Eric menghargai keunikan mereka.

Eric tak pernah puas. Ia melanjutkan perjalanannya ke China untuk mendalami Taoisme, memasuki dunia sihir Wicca, sampai merenungi diri sebagai seorang Yahudi di Yerussalem. Namun, di akhir perjalanannya, ia baru sadar jika pertanyaan suster–yang membuatnya gelisah–kurang tepat. “Tuhan bukanlah kunci mobil yang hilang. Dia bukanlah tujuan. Dia lebih dekat dengan urat leher kita, seperti yang dikatakan Muslim,” tulisnya.

Meski terpesona pada setiap aliran, Eric tak pernah berhenti untuk terus berpikir dan bertanya. Ia membahas sistem kepercayaan dengan sopan meski dengan karakternya yang egois, kental dengan spontanitas, kejujuran, dan gaya yang sering jenaka. Menyimaknya, selain terhibur, kita akan menemukan banyak inspirasi dan kearifan masing-masing aliran yang ada. Eric bahkan berpikir, ia perlu merancang kepercayaannya dengan menghimpun beberapa keyakinan; “Dia harus berfondasi Yahudi, tetapi ditopang Budha. Dia harus memiliki hati Sufi, kesederhanaan Tao, kebaikan hati Fransiskan, keriaan Raelian”.

(Pernah tayang di Koran Sindo, edisi 29 Januari 2017)

Iklan