Ketika Orang Mollo Menyelamatkan Tubuhnya

cover-buku-mollo-pembangunan-dan-perubahan-iklim

Judul               : Mollo, Pembangunan dan Perubahan Iklim
Penulis             : Siti Maemunah
Penerbit           : Penerbit Buku Kompas
Tahun              : Cetakan 1, 2015
Tebal               : xxii+106 halaman
ISBN               : 978-979-709-959-6

Banyak kearifan lokal tersimpan di berbagai daerah di Tanah Air. Salah satunya adalah kearifan memandang alam. Kepercayaan adat diwariskan turun-temurun dan menjadi pegangan hidup dalam menjalin relasi dengan alam sehingga tercipta keharmonisan. Namun, semakin hari, masyarakat adat mulai merasakan hadirnya gerak pembangunan yang mulai menggetarkan bumi. Mollo, Amanatun, dan Amanuban, merupakan tiga wilayah yang sekarang bernama Kabupaten Timor Tengah Selatan, Nusa Tenggara Timur. Buku ini, mendokumentasikan sikap dan gerak masyarakat adat tiga wilayah tersebut dalam menghadapi pembangunan dan perubahan iklim.

Penulis buku ini, Siti Maemunah, adalah seorang aktivis agraria yang telah 15 tahun menekuni daya rusak pertambangan terhadap masyarakat. Buku ini berisi catatan-catatan yang ia peroleh selama satu dekade (2003-2013) berinteraksi dengan masyarakat adat tiga wilayah tersebut. Orang Mollo lekat dengan ritual adat dalam berladang. Seperti ritual larangan menebang pohon (Na fae Haub), ritual tebas bakar, ritual doa tanam (ako pao hoe), ritual panen jagung (Seki Pena), dan Nun Ane atau panen padi. Ritual-ritual tersebut menjadi simbol yang terejawantah dalam laku masyarakat adat dalam memanfaatkan dan menjaga alam.

Perubahan mulai terasa semenjak penjajah Portugis dan Belanda. Wilayah hidup orang Mollo yang semula berpatok aturan adat harus berubah karena campur tangan penguasa. Ini masih disusul saat dan setelah kemerdekaan NKRI. Rentetan kebijakan: peralihan sistem swapraja menjadi kabupaten (1958-1960), kemudian terkonsolidasi dalam pemerintahan daerah (1960-1998), dan masa otonomi daerah (1999-sekarang) menyebabkan kekuasaan orang Mollo terhadap wilayah adat secara sistematis mengalami pelemahan (hlm 14).

Sederet kebijakan dan program tersebut berdampak besar bagi warga Mollo. Kebun dan hutan adat berubah menjadi hutan milik negara. Mata air hilang, ternak tak bisa merumput karena sabana dipagari, pohon-pohon hutan ditebas dan ditanami mahoni dan jati. Di samping itu, pemerintah mulai mengeluarkan izin-izin pertambangan yang merestui para investor membongkar batu di sekitar Mollo. Pada gilirannya, warga harus merasakan sumber-sumber air mulai tercemar dan bukit-bukit longsor akibat aktivitas pertambangan.

Di samping ancaman dari kebijakan pemerintah, orang Mollo, Amanatun, dan Amanuban juga harus menghadapi perubahan iklim. Sebenarnya, orang Mollo memiliki kecakapan membaca tanda-tanda alam yang membantu mereka dalam mengelola lahan. Namun, lambat laun tanda-tanda itu sulit diramalkan sebab perubahan iklim. Pada gilirannya, terjadi gagal panen dan krisis pangan sebab cuaca yang sulit diramalkan.

            Alam bagai tubuh

            Orang Mollo memiliki filosofi; fatu, nasi, noel, afu amasat a fatis neu monit mensian (batu, hutan, air, dan tanah bagai tubuh manusia). Air dianggap darah, sebab membagikan makanan ke tubuh, ke lahan, agar tanaman hidup dan tumbuh. Hutan menjaga lahan dan melindungi sumber air, seperti kulit dan rambut yang melindungi daging dan darah. Tanah bagai daging, membutuhkan makanan dari darah dan kuat ditopang tulang serta dilindungi kulit (hlm 22-28).

Filosofi yang mencerminkan cara pandang orang Mollo terhadap alam tersebut pada akhirnya menggerakkan mereka menyelamatkan alam: menyelamatkan tubuhnya sendiri. Menghadapi krisis pangan, mereka memulihkan ikatan-ikatan adat, menghidupkan kembali filosofi “makanan punya jiwa (uis maka’)” dengan menjaga keselamatan lahan. Konkretnya, mereka mengatur pola makan dan menanam tanaman pangan alternatif selain jagung dan beras. Di Desa Kiufatu, Amanuban, kawasan pesisir, mama-mama memasak garam dan membuat minyak kelapa serta menenun untuk menambah penghasilan.

Sebagai reaksi atas “perampasan” lahan akibat program pemerintah, pelan tapi pasti orang Mollo merebut kembali tanah nenek moyang mereka. Di Desa Leloboko, 78 keluarga petani berhasil mengambil kembali tanah mereka yang telah puluhan tahun diklaim Dinas Kehutanan sebagai tanah negara. “Kami tak mau jadi pengemis, kelaparan, jadi kami ambil kembali tanah-tanah kami,” kata Sole Tausuk, warga Leloboko sebagaimana dikutip Maemunah dalam catatannya.

Dapat dikatakan, Maemunah berhasil menyuarakan suara masyarakat Mollo dalam menghadapi masalah pembangunan dan perubahan iklim. Memang, buku setebal 106 halaman ini belum secara komprehensif merekam perjuangan orang Mollo. “Buku ini hanyalah sebagian kecil dari lapisan sedimen pengetahuan yang begitu kaya,” tulis Maemunah. Namun, catatan ini cukup membuka mata kita tentang problem lahan yang dihadapi masyarakat adat terkait pembangunan dan bagaimana mereka berjuang melawan. Di samping itu, kearifan orang Mollo, Amanuban, dan Amanatun dalam memandang alam, jelas menjadi pelajaran berharga yang menginspirasi banyak orang.

(Pernah tayang di Koran Pantura, edisi 11 Januari 2017)

Iklan
Tinggalkan komentar

2 Komentar

  1. Awesome..
    Alam selalu memmiliki ceritanya sendiri..

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: