Kisah Penyekapan dan Pertanyaan tentang Dunia Luar

ROOM; Emma Donoghue
Judul               : Room
Penulis             : Emma Donoghue
Penerbit           : Noura Books
Tahun              : Cetakan 1, Agustus 2016
Tebal               : 420 halaman
ISBN               : 978-602-385-136-2

Penculikan dan penyekapan menjadi salah satu bentuk kejahatan paling kejam yang menggambarkan sisi gelap manusia. Telah banyak kasus terjadi di berbagai belahan dunia tentang bagaimana seseorang diculik kemudian disekap atau dikurung bertahun-tahun hingga terpisah dengan dunia luar. Lebih kejam, tak jarang penyekapan dibarengi tindakan kekerasan, penyiksaan, pemerkosaan, dan bentuk-bentuk tindakan tak berperikemanusiaan lainnya.

Emma Donoghue, dalam novel yang berujudul Room menyuguhkan kisah getir dan mengharukan yang dituturkan seorang anak berusia lima tahun bernama Jack. Bersama ibunya, yang ia panggil “Ma”, Jack dikurung lelaki yang ia sebut “Nick Tua” dalam ruangan tertutup atau “Kamar” berpengaman canggih selama tujuh tahun. Mulanya, Ma diculik Nick Tua saat berumur tujuh belas dan dikurung dalam Kamar tersebut. Selama dikurung, Ma dijadikan budak seks oleh Nick Tua. Hingga dua tahun kemudian, Jack lahir dan menemani Ma di dalamnya.

Seperti kabut yang perlahan memudar hingga menampakkan pemandangan di baliknya, pembaca awalnya dihadapkan pada penuturan spontan, aneh, dan abstrak seorang bocah lima tahun tentang kehidupan di dalam Kamar, sebelum pelan-pelan menemukan arah cerita. Bagi Ma, kurungan tersebut tentu menyiksa dan menyedihkan. Namun bagi Jack, kehidupan dalam Kamar tak menjadi “masalah” karena ia tak tahu jika di luar sana ada dunia yang utuh—dunia sesungguhnya yang luas. Selama tujuh tahun mereka bertahan hidup dengan kiriman makanan mingguan dari Nick Tua. Jack menyebutnya “Traktiran Minggu”.

Pilihan Emma menjadikan Jack sebagai penutur cerita memungkinkan kita merasakan hal-hal serba tak pasti, keterangan-keterangan tak utuh sejak awal cerita, yang justru memantik rasa penasaran sehingga ingin terus menelusuri lembar-lembar cerita. Pikiran polos bocah lima tahun yang secara psikologis dalam tahap perkembangan; penuh pertanyaan (rasa ingin tahu), melihat suatu pekerjaan dari “menyenangkan atau tak menyenangkan” atau “enak tak enak”, dll., menjadikan penuturan terasa lebih memikat untuk disimak ketimbang, misalnya, menjadikan Ma sebagai penutur ceria. Bisa jadi, cerita akan sekadar berisi narasi kesedihkan–dengan standar kehidupan orang dewasa yang sebelumnya pernah merasakan kehidupan bebas di dunia luar.

Konsepsi dunia dalam pikiran Jack hanya terbatas di dalam Kamar. Ia memang memiliki pengetahuan lain dari menonton TV dan buku. Ia melihat orang-orang dan rumah-rumah di TV, tapi Ma mengatakan semua itu tak nyata. Tapi kadang Jack bisa melihat benda secara langsung dan itu membuatnya bingung. “Rumput ada di TV, juga api, tapi bisa datang ke Kamar jika aku memanaskan buncis” (hlm 78). Setelah Jack berusia lima tahun, Ma akhirnya menjelaskan yang sebenarnya: di luar ada dunia yang luas dan semua yang dilihat Jack di TV adalah nyata. Nick Tua adalah orang jahat yang menculik Ma ketika sembilan belas tahun dan mengurungnya di Kamar dan kemudian Jack lahir. Mereka berdua sedang dikurung, jadi harus keluar dari Kamar tersebut.

Ma punya ide gila untuk melarikan diri; Jack harus pura-pura mati, digulung dalam karpet agar Nick Tua membawanya keluar dan menguburnya. Mati-Truk-Menggeliat keluar-Lompat-Lari-Seseorang-Pesan-Polisi-Obor Las, Jack harus mengingat urutan langkah pelarian yang diajarkan Ma. Jelas ia sangat takut, itu belum pernah ia lakukan sebelumnya. Meski tak berjalan mulus, akhirnya aksi pelarian berhasil. Saat truk Nick Tua berhenti di lampu merah, Jack menggeliat keluar dari karpet dan melompat turun. Meski sempat tepergok Nick Tua, Jack berhasil bertemu seseorang yang kemudian memanggil polisi. Nick Tua sempat kabur namun akhirnya berhasil ditangkap. Polisi datang ke lokasi Kamar dan Ma diselamatkan. Apakah kisah kemudian berakhir? Tidak.

Kasus penculikan dan penyekapan Jack dan Ma menjadi berita yang tersebar luas. Televisi dan koran-koran gencar memberitakannya. Orang-orang menaruh simpati dan melihat Jack sebagai bocah pemberani. Namun, Jack masih terguncang. Ia harus menghadapi dunia baru yang sama sekali berbeda dengan yang ia ketahui. Jack merasa ketakutan, keterkucilan, bahkan kadang merindukan kehidupan dalam Kamar. “Aku aman di dalam Kamar, dan Luar itu menakutkan”. Sembari didampingi Ma, berkenalan dengan Nenek, Paman, Bibi, Jack belajar banyak hal di dunia luar: sopan santun, istilah-istilah, benda-benda baru, dan segala penyesuaian sosial yang tak pernah dipikirkan sebelumnya. “Ada terlalu banyak aturan yang harus kuingat,” kata Jack.

Di bagian ketika Jack dan Ma telah berada di dunia luar inilah, kita dihadapkan pada hal-hal yang kadang ironis dan memantik refleksi tentang kehidupan. Jack banyak menuturkan kalimat yang menunjukkan pertentangan dalam pikirannya. Bangunan pengetahuan yang ia dapat selama di Kamar sering berbeda dengan yang terjadi di dunia luar. Tentang waktu, “Di Luar, waktu bercampur, Ma terus mengatakan, ‘Pelan-pelan, Jack,’ dan ‘Tunggu’ dan ‘Selesaikan sekarang’ dan ‘Cepat Jack” (hal 244). Saat hendak mandi di rumah Nenek, Jack berpikir, “Dalam Kamar kami kadang-kadang telanjang dan kadang berpakaian, kami tidak pernah memikirkan itu” (hal 354). Tentang orang-orang di dunia yang selalu sibuk; “Dalam dunia aku memperhatikan orang-orang hampir selalu tertekan dan tak memiliki waktu….Dalam Kamar, aku dan Ma punya waktu untuk segalanya” (hal 360).

Novel yang menjadi buku terbaik versi New York Times 2010 dan telah diterjemahkan dalam 35 bahasa ini pada bagian-bagian tertentu seperti menggambarkan bahwa kurungan tak selalu tak bisa memberi kebebasan. Kehidupan dalam Kamar bagi Jack, serba teratur, jelas, kadang juga bebas—lepas dari keterikatan dengan siapa pun, selain Ma. Sementara di dunia luar, dalam banyak hal dipenuhi aturan yang tak membebaskan dan penuh ketidakpastian. Pembaca, di saat bersamaan seperti diajak melihat (mempertanyakan?) hal-hal pakem dalam sistem kehidupan–lewat pikiran polos dan spontan seorang bocah yang menghabiskan lima tahun pertama hidupnya dalam Kamar yang terisolasi dari dunia luar.

Lebih jauh, pembaca biasa jadi akan sampai pada pertanyaan-pertanyaan seperti: benarkah kehidupan di alam bebas ini benar-benar lebih bebas, atau—dalam pengertian tertentu, lebih menarik, dan–lebih jauh–lebih manusiawi, ketimbang dunia tertutup dalam kurungan? Mungkin ini beberapa di antara hal yang dimaksud Audrey Niffenegger dalam ungkapannya tentang novel ini, “Buku yang bahkan ketika selesai dibaca masih menyisakan pemikiran-pemikiran yang terus bermunculan”. Emma tak mengisahkan fantasi, sebab kasus penculikan dan penyekapan yang dialami seseorang sampai bertahun-tahun memang ada dan terjadi di dunia nyata. Kenyataan tersebut semakin memperkuat kekuatan kisah dalam novel yang menjadi Finalis Man Booker Prize 2010 ini, seolah-olah penulis sedang mengisahkan kejadian nyata. Dengan cerdas,  terampil, dan masuk akal, Emma memperlihatkan betapa besar dampak yang diakibatkan dari penyekapan, kurungan, dan pengasingan, terlebih bagi seorang anak.

(Tayang di koran Haluan Padang, Minggu 5 Maret 2017)
Resensi ROOM Haluan

Iklan