Puisi, Kata, Kritik

Cover Buku Silsilah Kata

Judul               : Silsilah Kata
Penulis             : Alexander Robert Nainggolan
Penerbit           : Basabasi
Cetakan           : 1, Desember 2016
Tebal               : 124 halaman
ISBN               : 978-602-391-331-2

Dunia baru saja merayakan Hari Puisi Internasional atau World Poetry Day, pada tanggal 21 Maret kemarin. Peringatan Hari Puisi Dunia bermula pada penyelenggaraan pertemuan UNESCO ke-30 di Paris yang berlangsung pada bulan Oktober-November tahun 1999. Organisasi pendidikan, keilmuan, dan kebudayaan PBB tersebut mengungkapkan bahwa manusia memiliki kebutuhan atas estetika. Dan puisi dapat memenuhi kebutuhan tersebut.

Namun, pada dasarnya puisi tak sekadar menawarkan estetika melalui keindahan diksi atau kata-kata di dalamnya.  Puisi juga sering menjadi media menyuarakan apa saja yang tak tersuarakan di setiap kejadian dalam kehiduoan. Di tengah kehidupan modern yang serba sibuk dilindas rutinitas dan waktu yang terasa begitu mahal, puisi ibarat bening kolam di tengah padang pasir yang gersang. Membaca puisi seakan membuat kita berhenti sejenak; memberi jeda pada putaran roda kehidupan; memberi tanda dan arti pada setiap jejak kejadian, sehingga kemudian kita berpikir dan merenungi tiap kejadian dengan bening kolam renungan kata agar mampu berkaca.

Meski buku puisi bukan jenis buku favorit yang dicari kebanyakan pembaca, terutama di Indonesia, namun kenyataannya para penyair terus berkarya dan buku-buku puisi terus lahir. Seperti yang terlihat dari penyair Alexander Robert Nainggolan lewat buku puisi terbarunya yang bertajuk Silsilah Kata (Basabasi: Desember 2016). Alex menulis puisi dengan tema beragam. Tentang hujan, keluarga, kota, perempuan, acara televisi, dan, terutama, tentang puisi itu sendiri.

Setiap puisi menyimpan kisahnya sendiri; mengingatkan pada suasana sedih, riang, dalam sepi dan keramaian—yang menjadi rekam kejadian yang dialami penulisnya. “Menulis puisi adalah sebuah upaya untuk merawat ingatan,” tulis Alex dalam pengantarnya.

Puisi tentang puisi
Menariknya, banyak puisi-puisi Alex yang mencoba memuisikan puisi itu sendiri. Beberapa judul puisi terlihat menjadikan puisi sebagai bahan menggarap puisi. Seperti dalam puisi Kronologi Puisi, Langkah Puisi, Sedalam Puisi, dan Di Dalam Puisi. Melalui puisi-puisi tentang puisi tersebut, penyair seperti mencoba menggambarkan proses kreatif penciptaan sebuah puisi, sifat-sifat puisi, kedalaman puisi, sekaligus menarasikan bagaimana puisi-puisi itu kemudian ditangkap pembacanya dan mendapatkan nasibnya sendiri-sendiri.

Membaca puisi berjudul Kronologi Puisi, kita bisa merasakan bagaimana penulis mencoba menjelaskan puisi itu tercipta–secara kronologis. Berawal kegelisahan yang muncul dari renungan yang jauh di alam batin, kemudian menyeruak, namun kadang sulit dituangkan dengan serta-merta; mulanya ia sehamparan sunyi/mungkin di sebuah sabana/hijau yang berebut/terkadang enggan masuk/.

Kelahiran sebuah puisi tak kemudian membawa bahagia. Puisi harus menunggu; melewati jalan panjang sebelum sampai ke pembaca. Namun, bagi seorang penyair, penantian itu merupakan bagian dari perjalanan kreatif yang menghadirkan kepuasan batin, sehingga tak ternilai; mungkin seperti ibu/yang menanti jabang bayi/perih luka kelahiran/yang tak bisa ditebus oleh lebat hujan/.

Idealisme puisi yang tak lelah menyimpan makna dan mengajak penikmatnya untuk melakukan permenungan dan selalu mengedepankan kebijaksanaan, seringkali membuatnya (puisi) bernasib nahas, lelah, dan tersingkir dari hingar-bingar kehidupan. Langkah puisi adalah langkah kesunyian. Kita simak puisi berjudul Langkah Puisi berikut; Kau adalah langkah puisi/yang menghilang dari sepi ke sepi/saat hujan rindang rebah di halaman rumah/tak sempat berbenah/hanya getar kata yang lelah/seharian capek mengantar makna/kau adalah langkah puisi/yang berjalan di sudut kota/sekadar mengingat sejumlah tempat/di mana masih ada getar kenangan di sana.

Alex bahkan tak hanya menggambarkan proses terciptanya puisi lewat puisi-puisinya. Bahkan, lebih jauh, ia juga mengisahkan sejarah atau silsilah bahan baku puisi itu sendiri; kata. Dalam puisi berjudul Silsilah Kata—yang dijadikan judul buku ini, terlihat Alex menggambarkan bagaimana kata-kata itu pada mulanya telah ada sejak Nabi Adam mulai bercakap, kemudian berkembang seiring laju sejarah peradaban manusia. Bukankah ia telah lebih dahulu ada?/saat adam mulai bercakap/menghimpun pengap kerumunan manusia/dari tulang yang meriang/liat tanah yang cokelat/

Kata kemudian terus dieja, meski manusia tak pernah benar-benar mampu menuliskannya secara utuh setiap apa yang dirasa dalam bentuk kata-kata. Kata-kata terus berkembang, terus bermunculan seiring rupa kejadian kehidupan di dunia, yang bermula dari diturunkannya Nabi Adam dari surga ke bumi karena dosa telah memakan buah khuldi. Meski bertahun-tahun engkau belajar menulis puisi/bertahun-tahun engkau belajar mengucapkan segala yang mungkin ada/hanya khuldi yang menjeratnya, seperti adam, jauh sebelum kata pertama mulai berpijar.

Kritik
Tak semua puisi Alex R Nainggolan di buku Silsilah Kata membicarakan tentang puisi. Banyak pula puisi-puisi yang merekam kejadian-kejadian keseharian, seperti suasana kota, sungai, hujan, sampai suasana dalam rumah atau keluarga. Di samping itu, beberapa puisi terlihat menggambarkan kegelisahan sekaligus kritik penyair tentang pelbagai realitas mutakhir.

Misalnya, tayangan acara televisi saat ini yang banyak diisi acara-acara kurang mendidik. Kita simak puisi berjudul Wajah Televisi berikut; Berjejalan masuk ke kotak televisi/menelusup ke dalam kerumun yang beku/wajah tersenyum/atau airmata sinetron yang diawetkan/layaknya makanan siap saji. Banyak tayangan televisi saat ini hanya mengejar rating yang bergantung selera pasar, yang kemudian membawa dampak buruk bagi penonton yang terlanjur keranjingan.

Acara-acara lebih memilih menjual kesenangan dan hiburan ketimbang sebuah tontonan yang mendidik dan mendewasakan. Di sana tubuh kita setara dengan nominal angka/kejar tayang bersama hari/atau peringkat tontonan yang paling banyak/lalu menjelma menjadi busa-busa celoteh/bersama nyanyian erotis/atau pinggul yang bergoyang/layaknya kecubung mekar/maka hiruplah setiap jejalan candu/sampai tandas dan engkau menggelepar.

Buku puisi Silsilah Kata menawarkan pengalaman berbeda dalam menikmati puisi. Sebab, penulis seperti tak langsung berpuisi, namun—lewat puisi-puisi tentang puisi—seperti mengenalkan terlebih dahulu bagaimana puisi—bahkan kata–itu pertama-tama muncul, hingga kemudian berkembang dan bisa kita eja dan nikmati hingga sekarang ini. Kemudian dari sana, kita baru diajak bertualang menyelami kejadian demi kejadian, kritik kehidupan, maupun rekam pelbagai peristiwa keseharian. Baik yang menyenangkan, menyedihkan, sepi, senyap, maupun yang hingar-bingar.

/Al-Mahfud

 

Iklan