Perjalanan yang Mengubah Segalanya

Cover Novel Panggilan Hati
Judul                  : Panggilan Hati
Penulis              : Priya Kumar
Penerjemah    : Nadya Andwiani
Penerbit           : Baca
Tahun               : Cetakan 1, Maret 2017
Tebal                 : 228 halaman
ISBN                   : 978-602-6486-08-0

Masalah hidup sering membuat orang mengarahkan telunjuk pada orang lain untuk disalahkan. Kita jarang berkaca dan evaluasi diri. Padahal, segala yang kita dapatkan tak pernah lepas dari apa yang kita lakukan sebelumnya. Inilah yang tersirat dari novel karya penulis berbakat asal India ini. Novel berjudul asli The Calling; Unleash Your True Self ini mengisahkan perjalanan Arjun, lelaki yang hidupnya berantakan. Rumah tangganya di ujung tanduk dan karirnya sebagai pemimpin pemasaran mandek.

Di tengah persoalan itu, Arjun mendapat semacam panggilan untuk melakukan perjalanan di gunung Himalaya, menuju ke Hemkund Sahib. Siapa sangka, perjalanan tersebut menjadi awal perubahan besar dalam diri Arjun. Arjun ditemani anak muda bernama Chandu sebagai kuli angkutnya. Arjun dan Chandu masing-masing menunggang keledai dan melakukan perjalanan menembus jantung Himalaya yang penuh salju. Setelah perjalanan panjang, mereka bertemu seorang sadhu yang melakukan Sadhna di atas sebongkah batu.

Anehnya, sadhu mengaku tugasnya telah selesai dan kedatangan Arjun adalah untuk menggantikannya dan membebaskannya. Arjun tentu keberatan karena ingin melanjutkan perjalanannya sendiri. Setelah berdebat, sadhu memberi solusi untuk memberi Arjun sebuah tes. Jika Arjun berhasil, ia boleh pergi. Jika gagal, Arjun harus menggantikannya melakukan Sadhna di atas batu. Arjun hanya perlu lolos satu tes saja dari tiga tes yang diberikan. Sadhu mulai mencabut batang tanaman dan membuat garis melingkar di tanah selebar enam puluh meter, kemudian ia pergi. Arjun, Candhu, dan kedua keledai mereka harus berada di dalam lingkaran, tak boleh keluar sampai sadhu kembali datang.

Dari tiga tes yang diberikan, tak satu pun Arjun berhasil melewatinya. Pada tes pertama, Arjun gagal karena tak melakukan apa-apa dalam lingkaran selama ditinggal sadhu. Arjun hanya bertahan di lingkaran itu. Padahal, banyak kejadian terjadi. Ada bau busuk dari bangkai anak rusa, keledai yang terus meringkik gelisah, tanah gersang dan rumput yang mengering. “Duduk diam di ruang dan duniamu, lalu tak melakukan apa-apa merupakan aib bagi kecerdasan yang dianugerahkan padamu,” kata sadhu (hlm 131). Ini menjadi simbol bahwa setiap orang harus aktif berkontribusi bagi dunianya; keluarga, pekerjaan, lingkungan sekitar. Tak sekadar bertahan hidup tanpa melakukan apa-apa.

Arjun tertegun dan menyadari kebodohannya. Tak ingin mengulangi kesalahan, ketika tes kedua, Arjun segera mengubur bangkai anak rusa, membebat luka keledai dengan kain sehingga hewan itu berhenti meringkik, mencabuti rumput kering dan mengolah tanah sehingga rumput baru tumbuh bersemi. Sempat bangga dan merasa dirinya berguna, Arjun tetap dinyatakan gagal oleh sadhu. Sebab, ia tidak mengikutsertakan Candhu dalam tindakannya. “Setiap orang di dunia memiliki peran penting dalam tujuan kita, terutama orang yang merupakan bagian dari perjalanan kita,” kata sadhu (hlm 152). Arjun sadar, ia menyepelekan kehadiran Chandu yang telah menemaninya sepanjang perjalanan.

Pengalaman tes pertama dan kedua membuka banyak pemahaman baru bagi Arjun. Ia tak ingin gagal di tes terakhir yang sangat menentukan. Di tes ketiga, sadhu meminta Arjun agar tidak membiarkan perubahan apa pun terjadi. Arjun pun frustasi dan pesimis dengan tantangan tersebut. Ia berpikir, setiap orang tentu tak punya kuasa atas segala perubahan di sekitarnya. Sadhu pun datang dan menjelaskan bahwa Arjun lagi-lagi telah gagal. Sebab Arjun kembali mengeluh dan tak semangat. Artinya ia telah berubah, padahal tantangannya adalah tidak membiarkan perubahan apa pun terjadi. “Satu-satunya kekuatan yang kau miliki adalah terhadap keadaanmu sendiri,” tegas sadhu (hlm 170).

Kata-kata sadhu membuat Arjun merenungkan hidupannya. Tentang istrinya yang ingin berpisah, juga kariernya yang mandek. Ia sadar bahwa semua itu karena kesalahannya sendiri. Arjun merasa rendah diri sebagai suami dan di saat bersamaan terus mencari kesalahan istrinya, sehingga rumah tangganya hancur. Tentang karirnya, Arjun sadar ia telah berbohong tentang bakat, pendidikan, dan kemampuannya saat melamar kerja. “Aku telah melukis gambaran yang lebih besar daripada diriku yang sebenarnya” (hlm 192). Ketika akhirnya tak bisa menjalankan tugas dengan baik, Arjun menyalahkan rekan kerjanya sehingga pekerjaanya banyak masalah.

Arjun harus menjalankan Sadhna-nya dengan duduk diam di atas sebongkah batu sampai waktu yang tak ditentukan. Namun, perjalanan Arjun telah mengubah segalanya. Arjun yang pengeluh, pesimis, dan selalu menyalahkan orang lain telah berubah menjadi sosok percaya diri, berpikir positif dan ingin selalu menebarkan kebaikan dan manfaat pada orang lain. Novel ini mengajak kita menyadarkan siapa diri kita, mengapa kita diciptakan dan apa yang harus kita lakukan selama hidup di dunia.

(Naskah ini pernah tayang di Koran Jakarta, edisi 3 Mei 2017)

Iklan