Kata-Kata Penyembuh Luka

Luka Dalam Bara
Judul               : Luka Dalam Bara
Penulis           : Bernard Batubara
Penerbit         : Noura Books
Tahun             : Cetakan 1, Maret 2017
Tebal               : 108 halaman

Menulis bisa menjadi medium menyampaikan segala kegelisahan yang berkecamuk dalam relung hati terdalam. Apa-apa yang tak bisa atau tak sanggup tersampaikan lewat suara atau ucapan, kadang bisa tersampaikan lewat tulisan. Seperti yang dirasakan Bernard Batubara. Penulis kelahiran Pontianak ini mengaku bahwa saat ia marah, takut, gelisah, patah hati, cemas, cemburu, kadang ia tak bisa mengungkapkannya bahkan pada orang terdekatnya. Satu-satunya cara mengungkapkannya adalah lewat tulisan. Dari sana, jadilah kumpulan tulisan yang terhimpun dalam buku ini.

Kita akan melihat tulisan-tulisan pendek seperti biasa ditulis di buku catatan harian tentang perasaan dalam suasana tertentu atau di waktu tertentu atau di tempat tertentu. Tulisan-tulisan terdiri dari beragam bentuk. Ada yang berbentuk seperti sajak-sajak, cerita pendek, dialog, bahkan surat. Namun, penulis mengaku tak pernah menamai tulisan-tulisan tersebut. “Mereka bukan puisi, dan jelas bukan novel maupun cerita pendek,” tulisnya. Bara mengaku buku ini berisi penggalan kecemasan dan kesedihan yang ia rasakan, fragmen-fragmen perasaan aktual yang ia rasa harus segera dituangkan agar tak tinggal terlalu lama dalam hatinya.

Sebab, Bara berharap setelah menulis satu tulisan, kecemasan dan kesedihannya akan berkurang dan akhirnya sembuh. Ini menjadi alasan lain mengapa ia menulis. “Untuk menyembuhkan diri saya dari perasaan-perasaan yang tak ingin saya miliki, dari luka yang tidak ingin saya peram,” ungkap Bara (hlm 2). Ini bisa menjadi titik tolak kita dalam menikmati tulisan di buku ini. Motivasi “menyembuhkan diri” dari penulis tersebut begitu terasa lewat tulisan-tulisan yang tak sekadar menuturkan kesedihan, kekhawatiran, kecemasan–dan berbagai emosi “negatif” lainnya.

Lebih jauh, ada penerimaan, keikhlasan, bahkan motivasi untuk bangkit dan sembuh dari keadaan menyakitkan tersebut. Purnamaku tahu, semangatku memudar seketika, hasratku melemah begitu saja, binar di jiwaku meredup, saat ditinggalkan olehnya. Aku berdoa semoga sepasang sepatu merah itu bahagia dengan sepasang kaki baru yang dia topang. Semoga pemiliknya kelak mengerti bagaimana memori dan emosi dapat sangat terikat pada suatu benda (hlm 26).

Di samping itu, terlihat kelihaian Bara dalam merangkai kata menjadi kalimat-kalimat yang mengalir indah. Tak sekadar indah, kandungan makna yang tersimpan di dalamnya juga menjadi mudah tersampaikan lewat perumpamaan-perumpamaan apik dan unik. Fragmen berjudul “Melangkah”, menggambarkan kelihaian Bara dalam membahasakan makna cinta tanpa terjebak dalam haru-biru rasa yang berlebihan. Cinta dibahasakan dengan apa adanya, realistis, namun tak kehilangan keindahannya. Cinta bukan sekadar persoalan bagaimana melangkah bersama, tetapi juga tentang mempertahankan langkah pada saat salah satu mulai lelah, agar tetap mampu berjalan/Cinta bukan tentang berlari kencang mencapai tujuan, tetapi tentang menikmati perjalanan, langkah demi langkah, tidak penting gegas atau lambat (hlm 14).

Meski merupakan ungkapan perasaan yang dituangkan secara bebas laiknya di buku catatan harian, buku ini tetap menyimpan hal-hal yang layak diresapi dan direnungkan. Mulai tentang percintaan, relationship, dunia penulis, buku, bahkan sampai kritik terhadap pemerintah. Dalam sebuah tulisan berjudul “Surat-Surat untuk J (#3)” kita diajak merasakan kegelisahan penulis karena keadaan kota “Y” yang padat dan macet karena gencarnya pembangunan. Pembangunan dan kemajuan yang terus digenjot menyimpan dilema karena di saat bersamaan menyebabkan berbagai persoalan, termasuk ketidaknyamanan yang dirasakan orang karena padatnya kota.

Lagi, dalam fragmen berjudul “Surat-Surat untuk J (#6)” kita diajak merasakan suasana sebuah kota yang gersang dan diselimuti kabut asap yang menghalangi pandangan. Tulisan tersebut diberi tanda “Kota P, 2 Agustus 2014; 5:59 WIB/Kamar”. Kita menduga kota yang dimaksud adalah kota Pontianak tempat kelahirannya yang sering kali dilingkupi kabut asap akibat pembakaran hutan yang biasa terjadi: Kami terbiasa hidup dengan asap/Kabut yang setiap hari menghalangi pandangan kami di jalanan dan mengadang udara segar masuk ke paru-paru itu bukan kabut dingin seperti di pegunungan, melainkan kabut asap yang gerah da menyesakkan (hlm 52)

Bagi penulis, hal yang sering mengisi pikiran berkaitan dengan menulis itu sendiri; proses kreatif menciptakan tulisan, hingga suka-duka-problema yang dirasakan penulis. Dalam fragmen berbentuk dialog berjudul “Menulis dan Mencintai”, tergambar bagaimana dilema dialami penulis yang awalnya murni berkarya karena kesenangan, kemudian harus menghadapi masa-masa di mana ia sudah dewasa dengan tanggungjawab yang menyertainya, sehingga tak bisa lagi berkarya sesuai kesenangan. Seorang penulis seakan harus bisa bernegosiasi dengan idealismenya sendiri untuk bisa bertahan hidup: Kamu harus membuat dunia yang orang-orang lain sukai padahal kamu tidak begitu menyenanginya. Semua demi mencari uang dan menggulirkan roda hidupmu (hlm 68).

Buku tipis yang tampil elegan dengan hard cover ini akan mengajak pembaca merasakan perasaan-perasaan intim yang dirasakan penulisnya. Meski bersifat personal, pembaca akan mendapatkan renungan-renungan reflektif yang bisa mengasah perasaan dan pikiran agar lebih terbuka sehingga bisa mengatasi segala problem perasaan seperti sakit hati, rindu, kecemasan, dan kekhawatiran.

(Pernah tayang di Jawa Pos Radar Mojokerto, edisi Minggu 16 Juli 2017)

Iklan