Perang dan Cinta

Seumpama Matahari

Judul               : Seumpama Matahari
Penulis           : Arafat Nur
Penerbit         : Diva Press
Cetakan          : 1, Mei 2017
Tebal               : 144 halaman
ISBN                 : 978-602-391-415-9

Peperangan kadang dipandang hitam dan putih: kebaikan melawan keburukan. Padahal, dalam setiap peristiwa selalu ada kompleksitas, ada kisah-kisah lain yang juga harus diihat secara komprehensif agar kita tak mudah menghakimi. Kisah-kisah lain inilah yang jarang tercatat sejarah. Di sinilah, sastra bisa hadir untuk menyuarakannya. Novel berjudul Seumpama Matahari mengisahkan Asrul, seorang pemuda pejuang kemerdekaan Aceh. Jika selama ini kita mungkin memandang perang di Aceh hanya tentang tentara Indonesia yang bertempur mengamankan para pemberontak dari Gerakan Aceh Merdeka (GAM), novel ini mengajak kita melihatnya dengan perspektif lain, yakni sudut pandang pelakunya.

Sebagai pejuang, Asrul selalu hidup dalam kewaspadaan. Bersama kelompoknya, Asrul sering bergerilya di hutan dan bertempur melawan tentara nasional. Di mata Asrul, tentara telah berlaku semena-mena terhadap penduduk. “Mereka bebas membunuh siapa saja, tak soal salah benar. Lagipula, negara sudah melindungi mereka, memberikan payung hukum untuk membunuh siapa saja,” ucapnya (hlm 74). Itulah yang mendorong Asrul bergerak melawan dan bergabung bersama barisan pejuang.

Setelah beberapa waktu berjuang di Aceh, suatu ketika Asrul harus bersembunyi ke Riau karena terdesak keadaan. Di Riau, ia tinggal di kos-kosan selama dua bulan sampai akhirnya uangnya habis dan memaksanya menjadi gelandangan. Asrul tak mungkin pulang karena kondisi masih berbahaya. Dalam keadaan sulit tersebut, ia bertemu dua orang gadis bernama Putri dan Ana. Ternyata, Putri dan Ana juga berasal dari Aceh dan juga merupakan korban perang. Mereka kehilangan orang tua karena menjadi korban peluru kesasar tentara gerilya.

Berbeda dengan Asrul yang memilih terus melawan dengan menjadi pejuang, kedua gadis tersebut seakan telah merelakan segala yang mereka alami. Ketimbang terbelenggu dalam peperangan tak kunjung usai, Putri dan Ana memilih menyingkir dari Aceh. Mereka memilih fokus sekolah dan bekerja agar bisa mandiri, sampai akhirnya punya rumah sendiri di Pekanbaru.

Pertemuan tersebut membawa babak baru dalam hidup dan pemikiran Asrul. Pejuang itu tak bisa menolak tawaran untuk tinggal di rumah Putri dan Ana. Sebagai lelaki, Asrul sebenarnya malu dengan dirinya sendiri. Namun, kondisi membuatnya tak punya pilihan lain. Ia masih dalam bahaya untuk kembali ke Aceh, sedangkan ia sudah tak memiliki apa-apa lagi untuk hidup di pelarian. Selama menumpang di rumah tersebut, Asrul sudah berusaha agar tak terlalu membebani dengan bekerja sebagai buruh kasar pengangkut barang di pasar.

Kebaikan kedua gadis bersaudara tersebut, terutama Putri, membuat Asrul terpikat. Akhirnya tumbuh benih-benih cinta di hati Asrul pada Putri. Lambat laun, hidup bersama dua gadis yang lembut membuat jiwa pemberontak-pejuang dalam diri Asrul pelan-pelan menyusut. Namun, suatu ketika, Zen teman seperjuangannya menelpon dan memintanya pulang dan bergabung kembali bersama pasukan. Di sinilah terjadi dilema. Asrul ingin bisa bergabung bersama pejuang lain melawan pasukan tentara. Namun di sisi lain ia berat meninggalkan Putri, perempuan yang ia cintai sekaligus berjasa besar dalam hidupnya.

Asrul tetap memutuskan untuk pulang. Namun, ia pulang tanpa membawa amarah dan dendam pada tentara. Pertemuan dengan Putri dan Ana telah menyadarkannya bahwa perang tak akan membawa apa-apa kecuali penderitaan. “Aku juga ingin hidupku menjadi normal. Rasanya lebih indah daripada terus-menerus diburu-buru musuh,” kata Asrul (hlm 100). Baru semalam di kampung, Asrul langsung ditangkap tentara. Namun, ia menyerahkan diri dengan tenang. Ketika diinterogasi, Asrul mengungkapkan segala perasaannya.

Asrul bercerita, mulanya bergabung bersama pejuang karena terus dipanas-panasi lewat kisah kejahatan sebagian tentara yang telah membunuh bapaknya. Kejujuran Asrul membuat tentara memperlakukannya dengan baik. Bahkan, ia dibebaskan. Namun, Asrul harus berjanji tak akan kembali menjadi pemberontak. “Kupegang janjimu. Kalau kutemukan kau bersama pemberontak, langsung kutembak!” ucap komandan tentara (hlm 113). Pernikahan Asrul dengan Putri dan kabar kematian Zen menjadi penutup kisah ini.

Karya Arafat Nur, penulis peraih Khatulistiwa Literary Award ini telah menghadirkan sudut pandang berbeda dalam memandang perang. Pemikiran, hasrat, dan perasaan tokoh Asrul sebagai pejuang telah menghadirkan simpati pembaca. Kita pun mengerti, ia melawan karena perilaku semena-mena sebagian tentara. Selalu ada alasan di balik setiap perlawanan. Di samping itu, bagian ketika tentara membebaskan Asrul karena telah jujur dan berjanji kembali ke pangkuan negara, juga memberi gambaran bahwa tak semua tentara bertindak semena-mena. Pendeknya, novel ini menyadarkan kita agar tak mudah menggeneralisasi dan menghakimi.

(Tayang di Koran Sindo, edisi Minggu 6 Agustus 2017)

Iklan