Kampung Indonesia dalam Lensa

Buku Kampungku Indonesia
Judul              : Kampungku Indonesia
Penulis          : Stevano Romano
Penerbit        : Mizan Pustaka
Tahun           : Cetakan 1: 2016
Tebal              : 172 halaman
ISBN               : 978-979-433-945-9

Sering kita mendengar adanya orang luar negeri yang sangat mencintai Indonesia karena keindahan alam dan kekayaan budayanya. Bahkan, saking cintanya, mereka sampai hidup bertahun-tahun, bahkan menetap di Indonesia untuk mempelajari budaya kita. Sementara itu, generasi muda kita sendiri semakin hari semakin keranjingan budaya luar negeri. Kita belum sadar dengan kelebihan yang kita miliki. Hal tersebut merupakan satu dari banyak kesadaran yang muncul setelah melihat foto-foto dalam buku Kampungku Indonesia ini.

Adalah Stevano Romano, seorang fotografer kelahiran Roma yang mengabadikan suasan kampung-kampung di Indonesia. Melalui foto-foto hasil jepretan kameranya, Stevano menggambarkan bagian-bagian dari wajah kampung: wajah alami anak-anak kampung yang penuh gelak tawa, senyum hangat ibu-ibu dan perempuan kampung, sampai pemandangan sederhana di teras-teras rumah, dapur, pasar tradisional, hingga persawahan, sekolah, dan tempat-tempat ibadah.

Setiap objek yang dibidik Stevano menggambarkan kecintaannya pada suasana sosial masyarakat kita, terutama masyarakat kampung. Bahkan, sejak pertama kali mengunjungi tanah Sunda tahun 2011 dan mendengar lagu Sunda, lelaki kelahiran Roma yang telah menikah dengan perempuan Indonesia ini merasa bahwa dulunya adalah orang Sunda. “Terkadang, saya merasa bahwa dalam kehidupan terdahulu, saya adalah seorang anak kecil yang berlarian di sawah di salah satu kota yang pernah saya kunjungi, mungkin Bandung, Banten, atau Kawarang,” tulisnya.

Kita tak akan melihat gambar atau potret gemerlap kehidupan dari wajah-wajah penuh make-up dengan mode pakaian terkini–sebagaimana sering kita lihat di layar kaca. Sebaliknya, kita diajak melihat wajah alami manusia dari kampung. Tak ada kepalsuan, serba alami dan jujur. Memandang dan meresapi tiap foto di buku ini, membuat kita sadar akan banyak hal. Selain tentang kesederhanaan, pikiran kita juga akan sampai pada nilai-nilai atau kearifan hidup yang tersirat di setiap potret tentang kampung. Potret wajah orang kampung, senyum bocah, ketekunan para petani di sawah, sampai pedagang di pasar, pada gilirannya mengantarkan alam pikir kita pada kehidupan yang sarat kesederhanaan, kejujuran, dan kedamaian.

Memandangi foto terasa lebih mengesankan. Sebab ada waktu meresapi momen-momen tertentu yang diabadikan dalam gambar. Hal yang sulit dirasakan ketika memandang secara langsung, di mana momen-momen berkelebat cepat tanpa bisa benar-benar kita resapi. Di buku ini, hanya ada satu-dua kalimat yang menjelaskan gambar. Dominasi gambar ketimbang teks seperti mengajak kita lebih “melihat” ketimbang “membaca”. Kita diajak lebih dalam meresapi setiap gambar sehingga sampai pada permenungan tentang kehidupan kampung yang memancarkan kehangatan dan kemanusiaan.

Menyimpan makna

Foto-foto Stevano tak sekadar mendokumentasikan suasana. Ada pesan tersampaikan dari setiap potret yang dihasilkan. Saat melihat suasana penuh kebersamaan antar ibu-ibu di teras rumah di kampung, kita seperti diajak untuk melihat lebih dari sekadar kebersamaan. Seorang ibu yang menggendong anaknya sembari duduk dan berbincang dengan tetangga, atau seorang ibu yang mencari kutu rambut seorang nenek, merupakan pemandangan kampung tradisional yang tak sekadar berbicara tentang kebersamaan dan keakraban.

Lebih jauh, suasana tersebut mencerminkan adanya sikap saling mengerti, kejujuran, dan kepedulian antar warga kampung, yang pada gilirannya membentuk kehidupan yang nyaman, tentram, dan bahagia. Kita mungkin sulit menemukan suasana tersebut di kota-kota besar, apartemen, atau perumahan mewah. Tak hanya hubungan antar manusia, Stevano dalam foto-foto karyanya juga seperti berusaha menangkap dan menyiratkan hubungan manusia dengan alam lewat foto-foto para petani yang sedang menanam padi di sawah atau ibu-ibu yang mencuci baju di sungai.

Ketika memotret suasana pasar tradisional dengan bermacam sayuran dan berbagai jenis buah segar dan warna-warni yang dijajakan pedagang, Stevano seperti ingin menggambarkan keterkaitan atau bagaimana hubungan manusia dengan alam yang tak terpisahkan–saling bergantung. “Salah satu hal yang paling menarik perhatian di kampung ialah banyaknya perempuan menjual buah-buahan, yang memperlambangkan hubungan dengan bumi, warna, dan kandungan gizinya,” tulisnya (hlm 31).

Tak berhenti di sana, di bagian akhir, Stevano menghimpun potret suasana di tempat-tempat ibadah, seperti masjid dan madrasah dalam bab “Cahaya Manis dari Kampung”. Selain hubungan antar manusia dan manusia dengan alam,  Stevano juga seperti berusaha merekam hubungan manusia (kampung) dengan Tuhan lewat suasana hikmat ibadah di masjid, pengajian, dan anak-anak yang belajar mengaji di madrasah di kampung-kampung.

Ketika pembangunan gedung bertingkat semakin pesat, terutama di kota-kota besar, apa yang disuguhkan Stevano di buku ini menjadi sangat bermakna. Sebab kita tak pernah tahu bagaimana nasib kampung-kampung tersebut di masa mendatang. Tak hanya soal fisik, dalam konteks budaya modern yang serba materialis, nilai-nilai kehidupan tradisional masyarakat kampung yang penuh kearifan penting untuk kembali dihayati. “Saya telah melihat bagaimana Jakarta berubah dengan cepat, saya khawatir beberapa tradisi lama akan lenyap dengan segera,” tulisnya.

(Tayang di Harian Singgalang, edisi 30 Juli 2017)

Iklan