Belle, Simbol Kekuatan dan Ketulusan Perempuan

Cover Novel Beauty And The Beast

Judul               : Beauty And The Beast
Penulis           : Madame de Villeneuve
Penerbit         : Qanita
Tahun            : Cet. 1 Februari 2017
Tebal              : 244 halaman
ISBN               : 978-602-402-054-5

Tahun ini, tepatnya tanggal 17 Maret 2017 kemarin, Walt Disney baru saja merilis versi live-action dari Beauty And The Beast setelah sebelumnya merilis film animasinya pada tahun 1991. Kisah klasik yang sudah ada sejak 400 tahun lalu ini menyimpan daya pikat yang seakan tak pernah luntur. Meski sudah berkali-kali diadaptasi ke dalam pelbagai pertunjukan opera, serial televisi, maupun film layar lebar, kisah yang ditulis Gabrielle-Suzanne Barbot de Villeneuve ini masih saja menarik untuk kembali dihadirkan sampai saat ini.

Novel Beauty And The Beast sendiri menghadirkan kisah menakjubkan tentang ketulusan hati, cinta, pengorbanan, dendam, juga pelbagai misteri yang tersimpan di dalamnya. Kisah ini digerakkan tokoh utama, seorang perempuan bernama Belle. Ia adalah perempuan cantik yang berbudi baik, berhati mulia, yang hidup bersama seorang ayah dan saudara perempuan dan laki-lakinya. Suatu ketika, sang ayah, seorang saudagar kaya, mengalami bangkrut dan membuat hidupnya beserta anak-anaknya jatuh dalam kemiskinan.

Tidak seperti saudara perempuan lain yang mengeluhkan kondisi, Belle menjadi satu-satunya anak perempuan yang memberi dukungan dan perhatian pada sang ayah saat terpuruk. Bahkan, kelak Belle pula yang menyelamatkan ayahnya ketika ia harus menyerahkan diri pada raksasa buruk rupa bernama Beast, untuk menebus kesalahan sang ayah terhadap raksasa tersebut. Sang ayah tentu tak tega mengorbankan anaknya untuk menyelamatkan nyawanya sendiri. Namun, Belle membulatkan tekad dan mempertaruhkan nyawanya dengan mendatangi sang raksasa.

Di istana ajaib yang hanya dihuni Beast, sang raksasa, kita diajak merasakan kegalauan Belle. Kekhawatiran tak terbukti. Meskipun kesepian karena di istana hanya ada ia dan sang raksasa, Belle mendapat pelayanan terbaik lewat hal-hal ajaib yang terjadi; makanan enak yang selalu tersedia, tempat tidur mewah, layar pertunjukan ajaib di jendela istana, dan kelinci dan burung-burung yang menemaninya di halaman istana. Semua disediakan sang raksasa Beast. Meski kata-katanya kasar dan kaku, Beast tak pernah menyakiti Belle.

Sampai suatu ketika, Beast, sang raksasa menyatakan niatnya untuk menikahi Belle. Inilah awal kegalauan Belle. Belle tak bisa begitu saja melupakan segala kebaikan raksasa tersebut. Namun, ia juga berpikir betapa mengerikan menikah dengan raksasa buruk rupa. Di satu sisi, selama hidup di istana itu, Belle terus bermimpi bertemu seorang lelaki misterus yang memikat hatinya. Lelaki itu begitu nyata di pikiran Belle, sampai-sampai ia mencarinya di sekeliling istana ketika terbangun.

Kita akan melihat bagaimana Belle mengambil keputusan-keputusan penting dalam hidupnya—yang sekaligus menentukan jalannya cerita. Di tengah kegalauan ajakan menikah dari Beast, serta bayangan lelaki misterius pujaan hati yang terus hadir dalam mimpinya, Belle harus menentukan sikap. Ketika akhirnya raksasa Beast mengalami sekarat saat Belle tak kunjung kembali ke istana setelah diizinkan pulang ke rumah menemui keluarganya selama beberapa waktu, Belle begitu tersentuh dan yakin bahwa Beast, raksasa itu tulus mencintainya. Belle akhirnya bersedia menikah dengan sang raksasa.

Belle yang berani menerima ajakan menikah sang raksasa kemudian membuka misteri demi misteri di balik istana tersebut. Secara mengejutkan, Beast, raksasa buruk rupa itu berubah menjadi seorang lelaki tampan. Ternyata, Beast adalah pangeran yang dikutuk peri jahat menjadi raksasa buruk rupa. Kutukan itu menghilang setelah ia berhasil mendapatkan seorang perempuan cantik; Belle. Belle belakangan menyadari bahwa lelaki misterius yang selalu datang di mimpinya adalah orang yang sama dengan sang pangeran tersebut; Beast; raksasa itu sendiri.

Perempuan spesial

Bellle berhasil mengesampingkan egonya (berharap pada lelaki misterius) dan mengutamakan kebaikan nyata dari sang raksasa, yang akhirnya membawanya mendapatkan apa yang ia angan-angankan (lelaki misterius dalam mimpinya). Seiring misteri yang tersingkap, datang seorang Ratu didampingi peri. Sang Ratu tak lain adalah ibu dari Beast yang sudah lama menunggu putranya terbebas dari kutukan. Namun, Ratu tak merestui pernikahan putranya dengan Belle, sebab Belle berasal dari keturunan rendah. Sang Peri menjelaskan bahwa kebaikan hati dan segala pengorbanan Belle jauh lebih berharga daripada sekadar garis keturunan bangsawan.

Tokoh Belle menjadi spesial. Sebagaimana dikatakan Andityas Prabantoro, penerjemah novel ini, tokoh Belle berbeda dengan tokoh perempuan dalam dongeng-dongeng umumnya yang butuh pertolongan. Misalnya di cerita Cinderella, Putri Salju, Putri Tidur, dll. Sebaliknya Belle, di novel ini tampil sebagai tokoh sentral yang menentukan jalannya kisah. Belle menjadi penyelamat ayahnya, juga pangeran dari kutukan mengerikan. Dari sana, lanjut Andityas, novel ini sarat dengan ide-ide emansipasi perempuan yang tergolong maju untuk zamannya. Segala kebaikan, ketulusan, dan pengorbanan Belle akhirnya mengetuk hati Sang Ratu sehingga merestuinya untuk menikah dengan anaknya, sang pangeran.

Beauty and the Beast telah berhasil menghadirkan sosok perempuan luar biasa bernama Belle. Ia  menjadi simbol perempuan yang selalu menjaga ketulusan hati dan sikap baik kepada siapa saja, meski terus mendapat kejadian-kajadian mengejutkan, menyakitkan, dan berat untuk dihadapi, bahkan tak bisa diterima akal sehat. Dengan teguh, Belle menghadapinya dengan keikhlasan, kejujuran, dan ketulusan, sehingga ia akhirnya mendapatkan segala kebaikan yang telah ia tanam.

Iklan