Suara Musik Indonesia; Sejarah, Perkembangan, Masalah

Buku Budaya Musik Indonesia.jpg

Judul               : Budaya Musik Indonesia
Penulis             : Wisnu Mintargo
Penerbit           : Kanisius
Tahun             : Cetakan 1, 2018
Tebal               : 174 halaman
ISBN               : 978-979-21-5747-5

Akhir tahun 2018, terbit buku berjudul Budaya Musik Indonesia karya Wisnu Mintargo. Penulis yang menyelesaikan pendidikan S3 di Pascasarjana Seni Pertunjukan dan Seni Rupa UGM ini menyuguhkan ulasan beragam jenis musik di Indonesia mencakup sejarah kemunculan, dinamika perkembangan, juga pemaknaan dalam konteks budaya.

Beragam jenis musik di Indonesia dikisahkan kemunculannya. Dari keroncong, lagu nasional, lagu rakyat, musik tradisional, paduan suara, musik dangdut, musik pop, musik rock, musik jazz, hingga seriosa. Peninjauan musik secara historis dianggap mampu memotret “budaya musik” yang berkembang di negeri ini. Pemaparan sejarah dan perkembangan berbagai genre musik dianggap cukup untuk memunculkan judul “Budaya Musik Indonesia”.

Namun judul “Budaya Musik Indonesia” menyimpan persoalan. Buku ini tak menutup-nutupi hal tersebut lewat kata pengantar Prof. Drs. Triyono Bramantyo. Guru besar ISI Yogyakarta tersebut menyatakan, judul “Budaya Musik Indonesia” menyimpan problem sebab musik yang ada di Indonesia jauh lebih luas dan beragam. Selain itu, istilah “Budaya Musik” mengundang pertanyaan sebab istilah “budaya” dan “musik” bukanlah kata-kata yang sepadan untuk disandingkan. Tapi pembacaan tak mesti dibatalkan hanya karena persoalan judul. Pelacakan musik di Indonesia mesti dilanjutkan berbekal buku Wisnu.

Membaca buku ini memberi pemahaman bahwa perkembangan berbagai jenis musik di Tanah Air banyak dipengaruhi bermacam hal, baik kondisi sosial, politik, budaya, hingga pengaruh genre musik lain. Musik keroncong, misalnya, yang dikenal sebagai salah satu identitas musik Indonesia rupanya menyimpan perbedan pendapat terkait asalnya. Wisnu mencatat, ada yang mengatakan musik keroncong berasal dari Portugis yang masuk ke Indonesia sekitar abad ke-XV. Namun, ada pula yang mengatakan keroncong merupakan kesenian asli Indonesia.

Selain itu, ada pendapat lain bahwa musik keroncong adalah hasil pembauran antara musik Barat dan Timur, atau persilangan budaya bangsa Portugis dan bangsa Indonesia. Munculnya istilah “langgam keroncong” sesuai daerah seperti Jakarta, Semarang, Yogya, Surabaya, Surakarta, menggambarkan musik ini dipengaruhi musik tradisional setempat.

Penjelasan bergerak ke jenis-jenis musik lain. Sejarah kemunculan dan perkembangan setiap jenis musik selalu membawa kita pada potret zaman. Ini tak lepas dari sumber dan inspirasi musik yang sering dipengaruhi kondisi sosio-kultural masyarakat di masa itu.

Di buku ini, kita akan menemukan sejarah musik perjuangan yang mengalunkan derap dan pergolakan era penjajahan; semangat melawan penindasan dan tekad persatuan dan kemerdekaan, yang bisa dibaca dari lirik-lirik sarat narasi perjuangan dan nasionalisme. Musik rakyat dan musik tradisional mengalunkan keragaman etnis dan budaya Nusantara. Musik paduan suara perkembangannya diawali dari paduan suara di gereja-gereja, disokong kepopuleran perlombaan paduan suara di TVRI dan radio-radio, baik di masa Orde Lama maupun Orde Baru.

Bicara musik di Indonesia, dangdut mungkin menjadi jenis musik paling khas negeri ini. Tapi bukan berarti dangdut tak dipengaruhi musik lain. Wisnu mengungkap sejarah musik dangdut dengan mengawalinya dari perkembangan musik Melayu yang dibawa kepopuleran film Malaysia dan India di Indonesia kisaran tahun 1950, berkembang antara tahun 1955-1960 lewat kemunculan berbagai kelompok orkes Melayu.

Pada perkembangan pertunjukan orkes Melayu, bunyi gendang ostinato (teknik drone) semacam ketipung (tabla) kian menonjol, lalu muncul sebutan “musik dangdut”. Di masa-masa ini, muncul nama Rhoma Irama, musisi, penyanyi, dan penulis lagu yang sekarang dijuluki Raja Dangdut. Menurut William Frederick, pembaharuan musik Melayu oleh Rhoma Irama pada dekade tahun 1970-an membuatnya dianggap sebagai peletak dasar perkembangan musik dangdut di Indonesia.

Ketika bicara musik pop, rock, jazz, hingga musik kontemporer di Indonesia, Wisnu tak sekadar menerangkan sejarah serta dinamika perkembangannya, namun juga pandangan arah ideal perkembangan musik-musik modern tersebut. Musik memikat dan memengaruhi banyak orang sehingga perlu memikul tanggung jawab. Tentang musik pop, Wisnu memandang semua pihak perlu mendorong mendewasakan musik pop Indonesia agar aktivitas pengembangannya sehat dan sesuai pembangunan mental spiritual masyarakat.

Musik di Indonesia diharap memberi pengaruh baik bagi masyarakat. Musik dari luar negeri yang tak sesuai nilai-nilai masyarakat kita dibatasi. Baru-baru ini ada pembatasan beberapa lagu berbahasa Inggris oleh Komisi Penyiaran Indonesia Daerah (KPID) Provinsi Jawa Barat. 17 lagu dari luar negeri dibatasi sebab dianggap memuat lirik tak pantas dan dikhawatirkan berdampak buruk pada pendengar, terutama anak-anak. Lagu-lagu tersebut boleh diputar tapi dalam waktu dewasa, pukul 22.00-03.00 WIB.

Masalah     

Zaman terus bergerak. Industrialisasi musik mulai berkembang, membuat musik tak lagi sekadar bisa dinikmati di panggung dan gedung pertunjukan. Musik mulai bisa dinikmati dalam berbagai format rekaman, baik lewat radio, televisi, rekaman kaset, piringan hitam, CD, VCD, dan DVD. Tapi perkembangan industri musik tak diikuti pengakuan hak cipta (copyright). Pembajakan terjadi di mana-mana, merugikan musisi, penyanyi, dan penulis lagu.

Kisaran tahun 2000, masalah pembajakan musik diperparah dengan meluasnya jaringan internet dan orang menjadi bebas mengunduh lagu. Rendahnya pemahaman dan kepedulian masyarakat pada perlindungan hak cipta dianggap jadi faktor penyebab maraknya pembajakan musik di Indonesia. Undang-Undang No. 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta telah mengatur sanksi bagi pelaku pembajakan karya cipta. Namun, pembajakan masih menjadi persoalan besar di industri musik Indonesia sampai sekarang.

Belum lama ini sempat muncul draf RUU Permusikan demi melindungi pemusik dan mengembangkan industri musik nasional. Tapi 300 ribuan orang, baik musisi maupun publik luas meneken petisi menolak RUU tersebut karena dianggap membatasi musisi dalam berkreativitas, mendiskriminasi musisi autodidak, dan cenderung mengatur hal yang tak perlu diatur. Suara penolakan meluas sampai akhirnya pada 15 Februari 2019, Anang Hermansyah, yang mengajukan RUU tersebut menariknya kembali sebelum diajukan di DPR.

Persoalan hak cipta, pembajakan, hingga regulasi dan pembatasan mewarnai bunyi musik Indonesia. Pemerintah ingin meregulasi guna mendidik masyarakat menghargai karya seni musik, sehingga tak sembarangan melakukan pembajakan. Tapi regulasi tersebut justru dirasa berpotensi mengungkung pemusik. Aturan jangan sampai mereduksi fungsi dan peran musik sebagai produk budaya representasi persoalan dan realitas sosial di masyarakat.

Cerita dari dunia musik akan terus mengalir sebab musik akan terus mengalun mengiringi gerak zaman. Orang-orang akan terus mencipta, memainkan, dan mendengarkan musik. Ia (musik) mungkin bisa dipengaruhi, dijadikan komoditas, dipolitisasi, bahkan dibatasi dan dihadang oleh budaya, ideologi, gerakan, atau keyakinan tertentu. Tapi sebagai karya seni, musik akan terus mengalun, didengarkan, dinikmati, dan terus mengiringi kehidupan ini.

(Ulasan ini pernah tayang di Suara Merdeka, edisi 21 April 2019)

Iklan