Rahasia Waktu dan Jalinan Hati Tiga Dimensi

cover novel Anomali Hati.jpg

Judul               : Anomali Hati
Penulis             : Lubis Grafura
Penerbit           : Mojok
Cetakan           : 1, 2018
Tebal               : 178 halaman
ISBN               : 978-602-1318-67-6

Waktu menyimpan banyak rahasia. Tak seorang pun tahu batas usia masing-masing. Waktu yang terus berjalan juga bisa mengubah segalanya; mengantar manusia dari satu masa ke masa lain, dari kejadian ke kejadian lain. Di novel Anomali Hati ini, kita akan disuguhi kisah menarik tentang percintaan sepasang anak manusia yang dipisah oleh perbedaan waktu.

Novel mengisahkan petualangan Alendra, mahasiswa pasca-sarjana ilmu fisika yang mengalami kejadian aneh. Mahasiswa cerdas dan berprestasi di bidang fisika tersebut menjalin kedekatan dengan Sheli secara tak sengaja setelah seseorang di kampus salah mengirim pesan. Sheli adalah mahasiwa S1 psikologi semester akhir. Alendra dan Sheli saling bertukar pesan sehingga terjalin kedekatan di antara keduanya. Anehnya, mereka hanya bisa berkomunikasi melalui pesan singkat dan surel. Mengirim gambar atau video call selalu gagal.

Lebih aneh lagi, mereka selalu gagal bertemu. Terjadi serentetan kebetulan yang tak logis. Pertama, mereka tidak pernah bisa saling menelpon satu sama lain. Panggilan selalu berujung pada suara operator yang mengatakan bahwa nomor tidak terdaftar. Kedua, mereka tidak pernah bisa saling bertemu. Ketika Alendra menyepakati hari tertentu, Sheli selalu tidak bisa datang menjelang hari pertemuan. Begitu juga sebaliknya. Itu berlangsung berkali-kali dan mereka merasa ada yang aneh dengan hal tersebut.

Sampai suatu ketika, Alendra menyadari ada selisih waktu antara ia dengan Sheli. Hal itu disadari setelah mereka janjian bertemu di Taman Belajar kampus namun tak berhasil bertemu. Saat menunggu Alendra di sana, Sheli melihat kecelakaan yang dialami seorang dosen tua, sedangkan Alendra tidak. Alendra baru melihat kecelakaan itu 30 hari setelahnya, persis yang diceritakan Sheli. Alendra tersadar jika saat itu mereka berada di tempat yang sama, namun dalam waktu yang berbeda.

Kisah terus bergerak seiring upaya Alendra mengungkap kejanggalan yang ia alami. Selain ingin bertemu Sheli, sebagai mahasiswa fisika, Alendra begitu antusias mengungkap fenomena yang dialaminya. Ia menyebutnya “Anomali Waktu”. Ia mencari berbagai lireratur tentangnya,  namun tak menghasilkan apa-apa. Kisah semakin menarik ketika hari demi hari, mereka mendapati selisih waktu keduanya terus menyusut. Mereka berharap jika nanti waktu keduanya sejajar, mereka akan bisa bertemu.

Namun, Sheli khawatir jika semuanya akan sia-sia dan ia kehilangan semua kedekatannya dengan Alendra. “Takut jika waktu sejajar dan kita tak saling mengenal satu sama lain,” ucapnya (hlm 116). Sedangkan Alendra, meskipun sebenarnya sama khawatirnya, berusaha terus meyakinkan Sheli bahwa mereka akan bertemu dan semua akan berakhir baik-baik saja.

Ketika selisih waktu keduanya tinggal dua hari, Alendra berhasil menelfon Sheli. Mereka juga bisa berkirim foto sehingga untuk pertama kalinya Alendra bisa melihat wajah cantik Sheli. Ini sempat menerbitkan harapan di hati keduanya. Namun ketika mereka merencanakan pertemuan di Taman Belajar esok harinya, saat waktu sesajajar, mereka kembali tak bisa saling menghubungi. Ketika mereka kembali bisa saling bekomunikasi, Sheli mendapati waktu di jamnya berjalan mundur.

Jam Sheli pukul 12.11 berjalan mundur menuju menit sepuluh. Sedangkan, jam Alendra menunjukkan pukul 11.49 berjalan maju menuju menit lima puluh. “Apakah waktu kita akan benar-benar pararel?” tanya Sheli (hlm 140). Alendra optimis mereka akan bisa bertemu, namun Sheli merasa sudah begitu putus asa dengan semuanya. Semakin dekat, komunikasi makin banyak hambatan dan upaya mereka untuk bertemu selalu gagal.

Sheli menyerah dan memilih memanfaatkan waktu yang tersisa tersebut untuk saling mengungkapkan perasaan masing-masing lewat telefon. Kita dibawa pada adegan percakapan di detik-detik akhir. Sheli mengaku sangat senang mengenal Alendra, meski hanya bisa berkirim pesan, tak bisa bertemu. Alendra pun mengungkapkan semua perasaan terdalamnya pada Sheli, hingga waktu mereka benar-benar habis dan sambungan telefon terputus.

Usai percakapan tersebut, Alendra tak putus asa. Ia mengajak Helvinda bertemu dan memintanya mengajak Sheli. Helvinda adalah teman dekat Sheli. Namun, ketika mereka bertiga bertemu, apa yang dikhawatirkan Sheli terjadi: Sheli yang diajak Helvinda tak mengenal Alendra. Betapa Alendra sedih. “Sebelum jarak menambah deret angka-angkanya menjadi ribuan kilometer jauhnya, bahkan mustahil ditempuh, hati kita pernah sedekat ini,” ucap Alendra sembari menunjukkan jari telunjuk dan jari tengahnya. “Inilah anomali hati. Hati selalu memilih beragam alasan yang tak dapat dimengerti oleh rasio,” katanya (hlm 147).

Di samping kisah unik hubungan Alendra dan Sheli yang berbeda dimensi waktu, ada banyak bagian dalam novel yang menyimpan pesan-pesan dan renungan kehidupan. Dalam beberapa percakapan, pengarang sering menyelipkan kritik dan sentilan tentang realitas kehidupan saat ini. Mulai isu pemanasan global, korupsi, terorisme, hingga era sosial media. Melalui kisah ini kita juga belajar pentingnya memanfaatkan waktu sebaik-baiknya. Karena waktu, kita belajar untuk memperbaiki apa yang telah lalu. Meski begitu, ada hal-hal yang tak bisa diubah siapa pun ketika waktu telah tiba, yakni takdir kematian.

(Naskah ini pernah tayang di Harian Singgalang, edisi 6 Januari 2019)

Iklan
Tinggalkan komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: