Omong Kosong Akhir Tahun (sebuah kisah)

#‎Omong kosong akhir tahun
(bagian 1)

Sebenarnya sudah sejak seminggu yang lalu, lelaki X mulai menaruh perhatian pada gadis E. Ia melihatnya sekilas, tepatnya pada suatu sore yang gerimis ketika melintasi jalan di sebelah gedung yang ada di sebelah utara tempat ini. Dan segala tanda itu ia rasakan sebagaimana lelaki dari belahan bumi manapun ketika sedang merasakan kahadiran sesuatu perasaan yang membuatnya merasa begitu kuat dan begitu lemah di saat yang sama, orang-orang menyebutnya, jatuh cinta.

Akan tetapi baru hari ini lelaki X mendapatkan kesempatan untuk kembali bertemu dengannya. Tepatnya, tadi pagi, ketika ia dan teman-temannya kebetulan sedang berkumpul dan ternyata, secara tidak sengaja gadis E ada di antaranya. Saat itu pula, lelaki baru menyadari jika beberapa teman gadisnya telah mengenal baik gadis E. Dan lelaki X tidak akan melewatkan kesempatan yang bisa dikatakan jarang seperti yang terjadi pagi itu.

Namun, sebelum melihat apa yang benar-benar akan dilakukan lelaki X, ijinkan saya untuk memberi gambaran sekilas. Pada posisi seperti itu, setidaknya ada 3 cara yang bisa digunakan lelaki X untuk mendekati gadis E. Pertama, ia akan langsung menghampirinya, berkenalan, berbasa-basi, dan mulai berbincang dengannya sambil berusaha ikut berbaur dengan teman-temannya yang lain. Kedua, ia akan meminta salah satu temannya, teman gadisnya terutama, yang sudah mengenal gadis E itu, untuk mengenalkannya –secara langsung, baru kemudian ia mulai berbincang dan berbasa-basi ria dengan mereka, khususnya dengan gadis E.

Ketiga, ia tidak, atau belum akan melakukan apapun pada kesempatan itu. Ia menggunakan informasi-infirmasi tambahan yang datang, dengan sangat hati-hati dan melakukannya step by step. Misalnya, –karena pada kesempatan itu ia baru mengetahui jika teman-teman gadisnya juga mengenal gadis E, ia sekedar mencoba meminta nomor ponsel gadis E kepada teman-teman gadisnya itu. Dan dengan nomor itu, ia akan mulai melakukan pendekatan dengan jurus-jurus usang ala anak ABG melalui pesan-pesan singkat gratisan.

Nah, saya rasa terlalu panjang penjelasan dari saya, –jadi maaf atas kelewatan ini. Baik, mari kita lihat apa yang benar-benar dilakukan oleh lelaki X. Oh. Begitu. Sial, jelas ini penghinaan. Lelaki X tidak melakukan salah satu dari tiga perkiraan yang saya buat. Tidak satu pun. Ia justru memilih, melakukan hal yang sangat riskan, ekstrem untuk ukurannya.

Pagi itu, ia berlagak dekat dengan salah satu teman gadisnya, –yang paling akrab, untuk melihat bagaimana reaksi gadis E; cemburu, tersinggung, terganggu, atau –yang paling mungkin, biasa-baisa saja; acuh, mendiamkan, atau malah –yang saya harapkan, senang; setuju; dengan sendirinya; merestui.

Dan pagi itu aku harus merelakan selembar kertas biru harus meluncur secara mulus dari dalam dompetku ke dalam dompet seorang temanku karena aku kalah bertaruh; gadis E memperlihatkan gerak-gerik cemburu dan memilih berpaling dari tempat itu. Dan lelaki X tersenyum puas dan membuatku seperti ingin mengumpat sekencang-kencangnya pada seekor cicak yang ikut menggerutu di dinding seolah ikut bersorak atas kekesalanku.

#‎Omong kosong akhir tahun
(bagian 2)

Sebenarnya aku tak pernah memaksamu untuk terus menyimak kisah ini. Namun jika kau memutuskan untuk terus mengikutinya, aku menghargai itu sebagai bentuk penghargaan pula. Paling tidak, pada malam Desember–yang kebetulan kali ini malam Minggu–yang tak jarang gerimis, tak ada hal yang lebih menyenangkan –barangkali– untuk dilakukan oleh pemuda manapun kecuali sekedar membuka facebook dan membaca status-status kawanmu.

Dan jika secara tak sengaja kau melihat kiriman ini dalam laman berandamu, jika kau tak keberatan kau bisa membacanya sembari menikmati keripik singkong pemberian tetanggamu tadi sore. Terlebih jika kau sedang merasa kesal atau kesepian atau gabungan dari keduanya yang seakan membuatmu merasa menjadi seseorang yang paling menderita di dunia. Jika benar demikian, sungguh aku turut berduka cita dan aku semakin menyarankan kepadamu untuk tetap khusyuk pada tempat di mana sekarang kamu duduk dan membaca omong kosong ini lebih lanjut.

Sebelumnya telah kujelaskan dengan begitu gamblang, betapa hari itu menjadi hari yang mengesalkan. Tak lain karena ulah lelaki X yang masih membuatku merasa seakan tidak terima dan hingga saat ini masih membuatku tak percaya akan apa yang telah ia lakukan. Dengan apa yang telah terjadi–paling tidak dengan langkahnya yang bisa dibilang brilian dengan berhasil membuat gadis E berpaling dengan muka masam pagi itu –sebagai tanda akan “ketakhlukkan” pada lelaki X, setidaknya kau pun menjadi tahu betapa lelaki X telah menjadi lelaki yang mempunyai daya pikat yang seakan turun dari langit dan sekan dengan sendirinya membuatnya dengan mudah dapat menggaet gadis mana pun yang ia kehendaki.

Namun begitu, harus kuakui hingga saat ini aku masih begitu yakin bahwa ada sesuatu yang membuat lelaki X menjadi seperti itu. Ada sesuatu yang dilakukan lelaki X sebelumnya, barangkali semacam ritual khusus yang membuatnya bisa seperti itu. Mungkin ia telah bertapa di ujung perbukitan utara selama empat puluh hari dan empat puluh malam, atau puasa selama bertahun-tahun, atau memakai semacam jimat atau lebih konkretnya batu sakti yang secara tidak sengaja ia temukan mendekam dalam saku celana kakeknya yang telah lama meninggal.

Betapa tidak. Semua orang di wilayah itu (aku sempat hendak menyebutnya “kampus” namun kemudian kuurungkan niatku itu karena betapa aku menyadari tingkat sensitivitas yang berbeda yang bersemayam dalam perasaan umat manusia) tentu mengenal siapa gadis E. Dan untuk menggambarkannya, ijinkan saya mengutip ucapan seorang teman yang kukenal yang kesehariannya sibuk mengamati gadis-gadis di wilayah itu, sehingga dengan kegemarannya tersebut, ia menjadi begitu handal dan fasih dalam menggambarkan watak perempuan dan andai saja ia bukan seorang lelaki, saya yakin ia nyaris menjadi semacam peramal yang kemungkinan besar akan membuka lapak di pinggir-pinggir jalan untuk menjual jasa meramal secara ilegal.

O, ya. Baik. Aku hampir lupa untuk menunjukkan kutipan omongannya itu. Bukankah itu yang kita tunggu-tunggu? “Dia itu gadis yang hanya akan tertarik dengan tiga jenis lelaki; kaya, tampan, atau gabungan dari keduanya!” Begitulah kata temanku itu pada suatu senja merah dan tak gerimis yang sebelumnya, kami –aku, temanku itu, dan beberapa teman yang lain– telah dibuat tak berkedip oleh gadis E yang waktu itu kebetulan lewat di depan kami.

Namun aku sungguh menyadari kau tak akan sepenuhnya sepakat dengan ungkapan temanku itu. Kau mungkin bisa juga berpendapat bahwa kali ini gadis E sudah berubah dan bisa menerima lelaki (dalam hal ini adalah lelaki X) dengan pertimbangan yang baik. Dan aku memang tak pernah memintamu untuk percaya pada ungkapan siapapun.

Jadi biarlah segala kemungkinan yang muncul dari spekulasi-spekulasi atas apa yang telah terjadi sejauh ini itu ada sebagaimana adanya. Tak perlu terlalu kau percayai, pun tak perlu kau enyahkan begitu saja. Biarkan semua berjalan dan kau hanya perlu tetap duduk diam di tempatmu dan biarlah segala urusan ini menjadi urusanku. Dan jika kau mulai terusik karena pesan-pesan singkat pacarmu yang malam ini mulai berdatangan, kumohon untuk berkenan meladeninya dahulu sebelum kembali duduk khusyuk di situ dan meneruskan menelusuri kisah ini. Aku tak akan pernah bertanggung jawab jika sampai terjadi masalah dengan hubungan kalian. Paling tidak aku sudah mengatakannya.

Baik, mari kembali pada urusanku untuk melanjutkan kisah ini. Dan urusanku itu hanya akan mulai menemui titik terang ketika kita kembali melihat bagaimana kisah selanjutnya antara lelaki X dan gadis E sebetulnya. Namun untuk menuju pada kisah itu kembali, mau tidak mau kita harus berurusan dulu dengan sebuah acara pada siang hari yang terik pada sebuah tempat yang sama persis dengan kejadian di mana kisah bagian pertama terjadi.

“Mengapa kemarin kau tiba-tiba pergi?” dengan segala hormat, aku bertanya pada gadis E pada acara itu. Aku bertanya dengan nada yang sudah terukur sehingga kupastikan meskipun terdengar pelan namun leleki X yang waktu itu ada di sebelahku –lebih tepatnya bersembunyi di balik sebuah papan triplek lebar berukuran 6×4 meter (kau tahu, bagaimanapun ini tetaplah “permainan” kami)–tatap mendengarnya dengan baik.
“Aku tak nyaman dengan tingkah temanmu itu,” jawabnya datar, wajahnya masam.
“Tak nyaman? Maksudnya?”
“Tak pernah sebelumnya aku melihat sebuah kepercayaan diri yang terlampau berlebihan seperti itu. Dan ketika itu terjadi dan sengaja ditunjukkan kepadaku, aku tak kuasa melihatnya dan kuputuskan untuk berpaling”
Aku diam sejenak, merasakan semacam kabar baik yang sebentar lagi rasanya menjadi semakin baik. Aku juga mulai merasakan hawa kegelisahan di wajah lelaki X.
“Kau tahu kemana aku pergi ketika itu?”
Aku hanya menggeleng. Dan belum sempat gadis E menjawabnya lagi, kita harus berhenti tepat di sana. Karena secara tidak sengaja perhatian kita semua tertuju pada sebuah suara gedebum yang seperti sesuatu terjatuh berantarkan dan bersama-sama dengan papan triplek yang membentuk pemandangan yang tak enak untuk dilihat. Dan ketika itu terjadi, aku tersenyum puas karena ternyata sumber kerusuhan itu adalah lelaki X yang tidak sengaja terjatuh dari persembunyiannya.
“Satu sama ( 1-1 )” batinku puas.

#Omong kosong akhir tahun

(bagian 3; terakhir)

Sempat muncul dalam benakku untuk tidak melanjutkan saja kisah ini dan menjadikannya semacam gumam atau keluh kesah atau celoteh ringan yang biasa dilontarkan di waktu jeda sebagaimana terlihat dari bayak status-status pada umumnya. Namun karena aku sudah terlanjur membuatmu masuk lumayan jauh pada kisah ini, muncul semacam rasa tanggung jawab yang saya rasa tidak berlebihan jika aku tuntaskan saja demi sebuah tanggungjawab tersebut.

Maka pada bagian ini, ijinkanlah aku untuk melanjutkan kisah ini. Terakhir, kau sudah tahu betapa pagi itu lelaki X mengalami peristiwa memalukan yang membuatnya harus mengubur dalam-dalam harapannya terhadap gadis E. Mungkin kau akan bertanya mengenai pertanyaan gadis E yang sempat terlontar yang belum jelas kelanjutannya sebagaimana terlihat pada akhir bagian kedua kemarin. Mengenai hal itu, kau harus mengerti betapa perasaan seorang wanita sudah tidak bisa diharapkan untuk dipahami ketika ia kehilangan mood-nya, kecuali kau memaksanya dengan perkataan-perkataan yang memaksa yang aku yakin kau tidak setega itu.

Dan dengan peristiwa kerusuhan yang muncul dari robohnya papan triplek dan beberapa lenguh lelaki X pagi itu, kau bisa mengira sendiri bagaimana perasan gadis E ketika itu. Dan jika kau sudah mengerti, maka kau tak perlu menanyakan apa-apa terkait gadis E, apa lagi menanyakan kelanjutan pertanyaannya sendiri yang menanyakan ke mana ia pergi pada kisah bagian pertama. Baik, sekarang tidak ada yang bisa kita lakukan untuk mengetahui lebih jauh kisah ini kecuali mencoba mengerti hal mendasar yang harus aku sebutkan pada kisah ini sebagai alasan mengapa semua ini (bagian pertama-kedua) terjadi. Dan untuk mengetahui hal mendasar itu, kita harus kembali menuju pada hari di mana aku dan lelaki X membicarakan tentang malam tahun baru yang akan segera tiba.

Terkait malam tahun baru itu, aku dan lelaki X telah membicarakannya pada suatu pagi, tepat dua hari sebelum peristiwa “kemenangan” lelaki X dariku, yang pada akhirnya terkuak bahwa itu hanya salah tangkap dan jika kau benar-benar menyimak dengan mata sehat dan pikiran waras, kau akan memberi skor 0-1 untukku, karena lelaki X tak pernah meraih kemenangan apapun sejauh ini –dan hal ini membuatku bersemangat untuk mengambil kembali hakku yang telah dengan sangat sembarangan disita oleh lelaki X (selembar uang 50ribu). Ketika itu, aku dan lelaki X duduk santai di depan kelas usai memeras otak seharian karena gempuran soal semesteran lima mata kuliah yang mengharuskanku menggoreskan pena yang kupinjam pada seorang teman sampai habis pada lembaran-lembaran folio.

Dan penderitaan itu bukan satu-satunya hal yang membuatku letih, karena sebelum menulis jawaban, kau tau, aku harus memahami terlebih dahulu tiap soal yang sialnya dari soal-soal yang ada pada lima mata kuliah itu, hanya ada dua mata kuliah yang menurutku beres kukerjakan dan tidak perlu membuatku khawatir ketika menerima hasilnya nanti. Dan tiga sisanya –yang menurutku kukerjakan dengan tanpa kesadaran sepenuhnya karena bulir-bulir keringat yang terasa terus mengalir dari dahi dan hal itu membuat semacam kepenatan dan rasa putus asa yang kupikir hanya akan hilang setelah melakukan tidur panjang selama seharian—adalah berisi pertanyaan tak menjurus yang kupikir begitu menjebak karena sebelumnya Pak Dosen telah meminta kami –aku, lelaki X, dan teman lain satu kelas, untuk membaca tiga buah buku yang pada akhirnya tak disinggung sama sekali dalam pertanyaan itu.

Yang harus kukatakan di sini barangkali adalah ketika mengerjakan soal mata kuliah terakhir, karena itu momen yang langsung bersinggungan dengan adegan duduk di depan kelas sebagaimana kusebutkan sebelumnya. Sebagaimana yang kuungkapkan pada akhir paragraf sebelumnya, pada saat mengerjakan soal mata kuliah terakhir itu aku merasa bahwa dari tiga butir soal yang ada itu tak satupun yang jika kubaca mengingatkanku akan pembahasan-pembahasan pada buku yang direkomendasikan oleh dosen pengampu. Soal-soal itu justru lebih mengingatkanku pada masa sekolah dasar, tepatnya ketika kelas tiga di mana aku mengalami suatu peristiwa yang membuatku seharian dalam kelas menahan rasa malu yang tak terkira karena bentuk pipiku yang menggelembung yang seakan membuatku nampak seperti menyembunyikan suatu makanan yang tak kunjung kutelan.

Jika kau bertanya mengenai bentuk pipi itu, maka simaklah kisah singkat berikut; Musibah itu menimpaku pada suatu sore ketika bakat usil seorang teman yang juga tetanggaku sedang getol membuatnya berulah. Ia mengoyak sarang lebah yang bersemayam di sebuah pohon mangga samping rumah. Maka berhamburlah puluhan lebah menyerang kami dan aku yang sudah berlari sekuat tenaga ternyata tak bisa menghindari satu sengatan tajam sekaligus perih yang mendarat tepat di pipi kananku. Dan begitulah benjolan di pipi itu kemudian memalukanku ketika keesokan harinya aku harus menjalani rutinitas sekolah dan berurusan dengan teman-teman sekelasku yang lain dengan pipi menggelembung seakan menyembunyikan semacam permen lolypop berukuran jumpo yang tak habis-habis dilumat.

Untuk membuatmu segera lega, baiknya kita kembali pada adegan di depan kelas antara aku dan lelaki X dan perbincangan tentang tahun baru itu.

“Apa kau sudah punya rencana untuk malam tahun baru nanti,” tanya lelaki X padaku.
Aku tak segera menjawab karena ketika itu pikiranku masih belum pulih dari kepeningan karena soal-soal semesteran yang baru saja kukerjakan dengan sembarangan. Sehingga hal itu membuat lelaki X menepuk pundakku dan membuatku terkaget dan kembali bertanya padanya perihal pertanyaan yang baru saja ia lontarkan yang tak sepenuhnya kudengarkan.

“Tahun baru nanti, mau ngapain?” lelaki X menegaskan sekali lagi.
Jika kau merasa risi karena adegan ini semestinya terjadi antara seorang lelaki dan perempuan, aku juga merasa demikian. Namun melihat gerak-gerik lelaki X yang masih cuek seperti biasanya, aku lega. Paling tidak aku tak menunjukkan tanda-tanda ia mulai berubah feminim.

“Memangnya kenapa?” tanyaku datar.

Dan belum sempat lelaki X menjawabnya, perhatian kita harus mengarah pada seorang perempuan –yang kelak kusebut sebagai gadis E—yang lewat di hadapan kami yang membuat aku dan temanku itu untuk beberapa detik tak melakukan aktifitas apapun kecuali menganggap pemandangan yang hadir di hadapan kami sebagai suatu pemandangan yang membuat kami merasa tak ada alasan untuk tak memandangnya.

Dan usai melihat pemandangan itu, lelaki X menantangku untuk melakukan taruhan; siapa yang bisa menghabiskan malam tahun baru bersama gadis E, maka ia berhak untuk mendapatkan dua lembar kertas merah bergambar sepasang proklamator kemerdekaan –yang masing-masing dari kantong kami sendiri. Dan begitulah kejadian demi kejadian terjadi –sebagaimana kau simak dari kisah bagian pertama sampai sekarang.
Maka tibalah kita di akhir kisah di mana pada akhirnya tidak ada seorang pun dari kita berdua –aku dan lelaki X—yang bisa menghabiskan malam tahun baru dengan gadis E. Namun jika kau benar-benar menyimak kisah ini dari pertama, kau mungkin akan bertanya soal langkahku yang belum terlihat dalam mendekati gadis E. Sebenarnya aku hendak menyertakannya di antara peristiwa-peristiwa yang terjadi sejauh ini, namun kemudian kuurungkan niat itu karena ternyata tak semenarik perjuangan lelaki X. Baik, upayaku itu terhitung singkat karena kulakukan setelah kejadian di mana lelaki X membuat kerusuhan dengan terjatuh bersama papan triplek tempatnya bersembunyi.

Usai kejadian itu, aku mendekati gadis E tanpa menyinggung sama sekali soal peristiwa memalukan yang dialami oleh lelaki X. Aku datang sebagaimana seseorang lelaki yangbelum terlampau akrab dengan seorang wanita dengan pertanyaan-pertanyaan basa-basi yang pada akhirnya –setelah mendengar jawaban dari gadis E atas pertanyaan-pertanyaan basa-basi itu –membuatku berkesimpulan bahwa sebaiknya aku tak melanjutkan upaya itu. Maka begitulah aku berpisah dengan gadis E dengan “damai”–paling tidak aku tak berpisah dengan gadis E dengan sesuatu yang memalukan seperti yang dilakukan oleh lelaki X.

Dan tanpa terasa sekitar lima menit lagi, tahun berganti. Dan sudah tak ada yang bisa kuceritakan lagi di sini karena kau sudah mengerti akhir kisah antara aku, lelaki X, dan gadis E dari dua paragraf sebelum paragraf ini. Dan jika kau masih bersikeras untuk tetap menyimak kisah ini, kuharap kau tak kecewa karena aku hanya bisa menyuguhkan padamu adegan-adegan di mana aku dan lelaki X pada akhirnya menghabiskan malam tahun baru bersama.

Di bawah langit yang gemerlap dengan hingar-bingar cayaha kembang api, dan beratus-ratus bahkan beribu-ribu pasangan pemuda-pemudi yang saling membual dan mengucap janji dan omong kosong dan juga harapan-harapan naif dan juga harapan-harapan bijak sekaligus optimis dan suara letusan kembang api yang terdengar berisik dan beruntun bercampur ribuan doa yang terucap dari ribuan mulut malam itu aku dan lelaki X duduk di atas pagar kantor pemerintah yang terletak tepat di sebelah selatan alun-alun kota.

Sambil menikmati suguhan pesta kembang api malam itu, aku mengucapkan terima kasih padamu yang masih bersedia menyimak sampai titik ini, dan untuk itu, di malam tahun baru ini, mari kita berdoa semoga kau tetap dikaruniai kesehatan dan keimanan dan semangat untuk tetap menjalani hidup di tahun yang baru esok dengan kesadaran penuh sebagai seorang manusia yang kelak akan menemui ajal dan harus meninggalkan jejak dan bekal yang cukup untuk kehidupan sesudahnya. Barangkali, baiknya kita juga berdoa untuk gadis E –yang mungkin saat ini sedang bergelayut manja di bahu seorang pria di suatu tempat yang entah—semoga ia juga diberi kesehatan dan tidak tersinggung dengan ungkapan-ungkapanku yang sembarangan dalam kisah ini.

Lelaki X, yang ada di sampingku tiba-tiba memanggil setelah sedari tadi aku melihatnya hanya memandang seorang gadis di bawah sana yang sendirian dan tanpa pasangan yang seakan sengaja datang malam ini ke keramaian ini untuk mendapatkan seorang pasangan.

“Apa?” kataku.

“Kemarilah!” jawabnya.

Oh, ternyata lelaki X juga hendak menyampaikan sepatah dua patah kata padamu, wahai pembaca yang budiman.
“Terima kasih sudah menyimak kisahku yang telah ditulis oleh temanku ini. Meskipun aku yakin apa yang ia ceritakan hanya omong kosong belaka, namun semoga kau bisa mengambil manfaat yang (mungkin) ada di dalamnya,” katanya.

Langit masih penuh dengan hingar-bingar cahaya petasan dan tanganku merasakan tetesan gerimis yang mulai turun.

TAMAT-

*Cerita ini sebelumnya sudah saya posting di akun FB saya dalam tiga bagian.

Iklan