Spiritualisme Pekerjaan Wong Cilik

Oleh Al-Mahfud

Beberapa hari lalu, setelah Maghrib dan buka puasa, dari dalam rumah, saya mendengar ayah berbincang dengan seseorang. Saya tak mengenal suara itu. Setelah melihat keluar, ternyata ayah sedang berbincang dengan seorang pencari kodok yang hendak numpang menitipkan sepeda motor di samping rumah.

Dari perbincangan tersebut, saya sempat mendengar banyak hal tentang lika-liku pekerjaan pencari kodok. Terutama pengalaman-pengalaman yang bagi kita mungkin mengerikan, namun biasa saja bagi seorang pencari kodok. Misalnya, berjalan berkilo-kilo meter menelusuri sungai, danau, dan tempat-tempat sepi di malam hari, hingga terjebak hujan dan harus tidur di sembarang tempat.

Bahkan, suatu ketika, karena terjebak hujan dan angin, si pencari kodok mengaku pernah tidur di bawah “gendoso” (alat untuk menandu jenazah) di sebuah makam karena tak ada pilihan lain. Ketika ayah saya bertanya, apakah ia tidak takut? Si pencari kodok menjawab santai sambil terkekeh, “Hehe, sudah biasa, Pak”.

Pekerjaan mencari kodok, burung, dan  hewan-hewan malam lain mengharuskan orang berkutat dengan pekat malam, hawa dingin, dan sepi, sehingga rasa takut harus disingkirkan jauh-jauh.  Kita bisa menemukan keberanian-keberanian serupa pada pekerjaan lain, terutama pekerjaan khas “wong cilik”. Pekerjaan yang menuntut keberanian, juga kerja keras yang seringkali tidak sepadan dengan pendapatan yang diperoleh.

Mengenai pekerjaan-pekerjaan orang kecil, saya jadi teringat sebuah buku karya sastrawan Imam Budi Santoso berjudul Profesi Wong Cilik. Buku kumpulan esai budaya yang pertama kali dicetak tahun 1999 tersebut menyajikan spiritualisme berbagai pekerjaan tradisional di masyarakat Jawa. Pada November 2017, buku tersebut diterbitkan ulang dengan judul serupa oleh Penerbit Basabasi Yogyakarta.

profesi-wong-cilik.jpg

Di buku tersebut, Imam Budi Santoso menuangkan pengalaman mengamati dan mewawancarai orang-orang yang menggeluti pekerjaan tradisional kisaran tahun 1970-an hingga 1990-an di berbagai daerah di Jawa. Berbagai profesi ditemui, dari pemikat perkutut, dukun bayi, juru kunci, pemanjat pohon kelapa, tukang cukur, penggali sumur, bakul jamu, pandai besi, jagal sapi, pemandu gunung, dan sebagainya. Pekerjaan-pekerjaan tersebut dulu masih banyak ditemui di masyarakat Jawa. Sebagian mungkin masih bisa kita temui di berbagai daerah.

Membantu sesama

Salah satu profesi yang dibahas Imam Budi Santosa adalah dukun bayi. Di Jawa, dukun bayi tradisional melaksanakan tulung bayi (menolong bayi) untuk membantu persalinan. Memang, mereka juga menerima pengganti jerih payah mereka, namun bagi para dukun bayi tradisional, niat untuk “membantu” proses persalinan adalah hal utama.

Seperti dikisahkan Imam Budi Santoso, dalam tradisi Jawa, seorang dukun bayi sudah terbiasa berjalan kaki sekian kilometer tengah malam buta demi membantu persalinan ketika dimintai tolong keluarga yang membutuhkan. Dalam kondisi apa pun, dukun bayi jarang menolak ketika sudah dimintai pertolongan. “Keselamatan bayi dalam persalinan adalah yang paling utama. Dia akan menjadi penerus kami yang tua-tua ini. Maka dengan cara apa pun saya akan berjuang habis-habisan menyelamatkan kelahiran setiap bayi,” jelas Mbah Mertosono, dukun bayi dari lereng Gunung Lawu kisaran tahun 1989.

Dedikasi dukun bayi tradisional tak diragukan. Meski tak jarang masyarakat membayar upah mereka dengan mencicil atau bahkan diberikan dalam bentuk hasil pertanian. Seperti gabah, jagung, ketela, atau juga kain untuk bahan pakaian. Orang-orang yang mereka bantu persalinannya kebanyakan memang berasal dari rakyat kecil. Mereka yang lebih mampu umumnya akan meminta tolong pada dokter atau bidan.

Menangani persalinan bukan perkara mudah. Menjadi dukun bayi butuh ketelitian, ketelatenan, dan tentu kesabaran. Kesalahan sedikit saja bisa berakibat buruk, baik pada sang ibu maupun pada jabang bayi. Tak sembarang orang, keterampilan dukun bayi umumnya diwariskan turun-temurun.

Kerena tugas yang tak mudah tersebut, para dukun bayi menjaga keterampilan, dedikasi, dan “niat” mereka. Bahkan, ketika dukun bayi melakukan kesalahan, apalagi sampai fatal, mereka percaya bisa mendapatkan sapu dhendha (hukuman, kutukan) dari empunya ilmu yang dipinjamnya. Ketika berbuat kesalahan, dukun bayi biasanya segera melakukan upacara penebusan atau pembersihan diri. Seperti berpuasa, selamatan, atau ziarah ke makam dukun bayi yang dulu mewariskan ilmunya.

Moral dan kejujuran

Para dukun bayi tradisional di Jawa menjunjung tinggi moralitas dan nilai-nilai kehidupan. Mereka, misalnya, tak mengenal kompromi soal aborsi. Bagi dukun bayi, melakukan aborsi artinya melanggar sumpah.

Memang, tetap ada oknum-oknum dukun bayi yang mau melakukan pengguguran kandungan.  “Mereka itu pengkhianat!” kata seorang dukun bayi yang cukup terkenal di kawasan Imogiri, Bantul, Yogyakarta, tahun 1992, seperti ditulis Imam Budi Santoso. Oknum-oknum dukun bayi tergiur ongkos jasa aborsi yang besar. Namun, dukun bayi tradisional umumnya berpegang pada moralitas dan benar-benar menjaga hal tersebut.

Semangat dan komitmen yang sama juga terpancar dari para pandai besi tradisional di Jawa. Jika dukun bayi melakukan tulung bayi, maka pandai besi memaknai pekerjaannya sebagai cara membantu para petani dengan menyediakan alat-alat pertanian. “Petani dan pandai besi itu sama saja. Hanya tugas dan amalannya yang berbeda,” kata Mitrosuwignyo, seorang pandai besi dari Pasar Boja, Kendal  tahun 1977.

Seperti dukun bayi yang menjunjung tinggi  moralitas dan sumpah pada guru yang mewariskan keahlian, pandai besi juga memiliki spirit yang sama dalam menjalankan pekerjaannya. Dari penelusuran dan pengalaman terhadap para pandai besi di Jawa, Imam Budi Santosa menemukan, umumnya mereka menolak pesanan senjata tajam, seperti belati atau pedang. Mereka hanya membuat alat-alat pertanian seperti sabit, parang, cangkul, dan sebainya.

Pesanan senjata tajam kerap ditolak para pandai besi sebab khawatir benda buatannya nantinya digunakan untuk melakukan kejahatan. “Saya tidak tahu bagaimana cara menangkal agar senjata itu nantinya tidak digunakan untuk berbuat jahat,” kata Ronodikromo, seorang pandai besi dari Pengging Boyolali pada tahun 1979.

Tawakkal

Selain dedikasi dan moralitas yang dijunjung, berbagai pekerjaan tradisional orang zaman dahulu kerap dijalani dengan spiritualitas tinggi lewat kepasrahan dan rasa syukur pada Yang Maha Kuasa.

Kisaran tahun 90-an, Imam Budi Santoso mengamati para tukang becak di daerah Yogyakarta. Meski dianggap “pekerja jalanan” yang lekat dengan budaya keras; bicara kasar, dan kotor, nyatanya banyak tukang becak memiliki sisi religiusitas tinggi dan mengamalkan ajaran agama dengan baik. Di samping kerap ke masjid dan tetap mengayuh becak saat puasa di bulan Ramadan, para tukang becak selalu menjaga sikap dan tindakan mereka di jalanan.

Jalanan bagi tukang becak tradisional adalah ladang tempat menabur kebaikan. Di samping mencari uang, para tukang becak mengaku mencari saudara. Mereka selalu menjaga kedekatan, baik dengan sesama tukang becak, penumpang, maupun pengguna jalan yang lain. Ketika ada barang penumpang yang ketinggalan, mereka berusaha mengembalikan.

Imam Budi Santosa menulis, rebutan penumpang antar tukang becak relatif jarang terjadi. Apalagi sampai memaksa penumpang naik, itu tak ubahnya seperti aib.“Biar sedikit, kalau memperolehnya tidak membikin orang lain merasa sakit, insya Allah jika dimakan tidak jadi selilit,” kata seorang tukang becak di Stasiun Tugu, tahun 1991. Kepercayaan akan rezeki dari Tuhan membuat mereka tak pernah berkecil hati menghadapi “persaingan”.

Berbagai mata pencaharian tradisional yang direkam Imam Budi Santosa dalam buku Profesi Wong Cilik tak sekadar berisi cerita orang zaman dahulu dalam mencari uang. Orang-orang berprofesi tradisional zaman dahulu menghadirkan diri mereka sepenuhnya dalam tiap pekerjaannya, memaknainya sebagai bagian dari laku spiritual dalam menjalani hidup. Bekerja berarti mengabdi, membantu, dan membangun harmoni dengan sesama.

Berbeda dengan budaya kerja modern yang cenderung hanya berorientasi keuntungan dan logika yang serba pragmatis, bermacam profesi “wong cilik” tersebut menggambarkan adanya dedikasi dan profesionalisme bekerja yang dibangun dari nilai-nilai luhur. Seperti solidaritas pada sesama, kepedulian, kebersamaan, kejujuran, hingga rasa syukur pada Sang Maha Kuasa.

Di tengah gempuran modernisme dan mentalitas kerja yang serba pragmatis, instan, bahkan sering menjerumuskan orang bertindak curang dan melakukan kejahatan dalam pekerjaannya, menelusuri dan mendalami lika-liku pekerjaan tradisional para “wong cilik” seakan kembali mengingatkan kita pada jati diri kita sebagai masyarakat tak bisa dipisahkan dari nilai-nilai spiritual dalam menjalani kehidupan.

Iklan