Menanam Pohon Cinta di Dunia Maya (Sebuah Refleksi)

Oleh: Al Mahfud

Keributan di dunia maya karena hoax, provokasi, dan ujaran kebencian ibarat badai. Ia berhembus dan meluluhlantahkan sendi-sendi persaudaraan, persatuan, dan kemanusiaan. Ujaran kebencian menghembuskan rasa curiga, menanamkan rasa benci, dan mendorong siapa saja untuk menebarkan cacian, makian, bahkan fitnah. Kemudahan berekspresi di media sosial membuat penetrasi konten-konten negatif makin hari makin menjadi-jadi. Dunia maya butuh suatu sandaran yang bisa dijadikan orang-orang sebagai tempat berteduh dan menyelamatkan diri ketika badai kebencian berhembus.

Melihat kerusakan, keributan, dan pertikaian yang bisa diakibatkan badai kebencian, kita semua, sebagai bagian dari warga dunia maya atau warganet, punya tanggung jawab untuk ikut berkontribusi mengatasi persoalan tersebut. Jika penyebaran ujaran kebencian ibarat badai dan angin kencang yang merusak, kita bisa menanam pohon-pohon cinta sebagai tempat bersandar. Pohon cinta akan menjadi penjaga sekaligus tempat bagi warga dunia maya untuk berlindung dan berteduh dari kencangnya badai kebencian yang melanda.

Pohon cinta di dunia maya berwujud konten-konten positif yang memuat pesan-pesan cinta, kasih sayang, dan persaudaraan sesama manusia. Akarnya terbuat dari ajaran-ajaran dan prinsip mendasar yang sudah diyakini dan tertanam dalam diri setiap orang, baik ajaran agama, nilai-nilai moral kemanusiaan, hingga spirit kebangsaan. Akar tersebut akan tumbuh dan memunculkan batang yang terbuat dari rasa saling menghargai dan menghormati yang berdiri kokoh dan menjulang tinggi.

Kemudian dari batang tersebut, tumbuh cabang-cabang dan ranting-ranging rasa saling menyayangi, mencintai, peduli, empati, dan simpati. Dari ranting-ranting ini, tumbuh daun-daun hijau yang rimbun berupa kebersamaan dan rasa persaudaraan. Dan akhirnya, pohon cinta tersebut akan berbuah manis: buah-buah keharmonisan dan perdamaian. Pohon cinta, dengan demikian adalah rangkaian pertumbuhan cinta yang menghasilkan buah keharmonisan dan perdamaian.

Di dunia maya atau media sosial, pohon cinta bisa kita tanam bersama dengan memproduksi konten-konten positif mengenai berbagai hal. Baik tentang ajaran agama yang damai, moderat, toleran, prinsip-prinsip kemanusiaan, keadilan, kesetaraan, hingga nilai-nilai kebangsaan dan nasionalisme. Nilai-nilai tersebut merupakan modal berharga yang mesti terus kita tanam dan sebarkan, tanpa terkecuali di media sosial.

            Bagaimana pohon cinta bekerja

Ketika pohon cinta sudah kita tanam, atau konten positif sudah kita buat dan kita sebarkan (share) di media sosial, pohon tersebut akan tumbuh dengan sendirinya ketika mulai dilihat dan dibaca warganet. Ketika konten positif tersebut mulai dibaca dan dicerna pembacanya, pada saat itu benih-benih cinta mulai bekerja. Jadi, pohon cinta tumbuh dan berkembang dalam pikiran dan perasaan pembacanya. Benih tersebut meluruhkan segala hal-hal negatif yang bercokol di dalam hati dan pikiran, mencerahkan pikiran dan cara pandang orang, sehingga menyadarkan orang tentang arti penting saling menyayangi dan menjaga keharmonisan dengan sesama.

Selanjutnya, pohon cinta yang tumbuh dalam hati dan pikiran setiap orang akan menampakkan batang yang kokoh. Seperti sudah digambarkan sebelumnya, batang tersebut adalah rasa saling menghargai dan menghormati, yang kemudian tertanam dalam diri seseorang dan menyadarkannya untuk selalu menghargai dan menghormati orang lain. Batang yang berdiri dan menjulang tinggi ini harus kuat. Oleh karena itu, ia mestinya dibangun dari prinsip dan nilai-nilai mendasar seperti ajaran agama, nilai-nilai kemanusiaan, dan nilai-nilai kebangsaan.

Kemudian, batang pohon cinta menumbuhkan cabang, ranting dan daun-daun yang rimbun, yang tidak lain adalah rasa saling menyayangi, mencintai, sikap peduli, dan empati yang tumbuh subur dalam hati dan pikiran seseorang. Dengan sikap-sikap tersebut, jelas seseorang akan selalu berusaha menjalin hubungan yang baik dengan sesama. Melihat sesama manusia dengan cinta dan kasih sayang. Peduli dengan saudara yang sedang butuh pertolongan, dan berempati dengan sesama yang sedang dilanda kesusahan.

Jika cabang, ranting, dan daun-daun ini semakin merimbun dalam diri seseorang, mustahil ia akan memiliki kebencian terhadap orang lain. Ketika proses pertumbuhan pohon cinta tersebut sudah sampai di sana, maka orang tersebut akan menikmati buahnya: kehidupan bersama yang damai dan harmonis.

Menanam pohon cinta di dunia maya adalah hal mulia yang memberi dampak tak sementara. Pohon cinta menjadi investasi perdamaian yang bisa terus dibaca dan akan terus menumbuhkan benih-benih cinta, tidak hanya pada banyak orang saat ini, namun juga pada generasi-generasi selanjutnya. Sebab, kita tahu, konten di dunia maya tidak akan hilang jika tidak ada yang menghapus atau memblokirnya. Jejak digital konten positif akan abadi dan terus memberi pencerahan, inspirasi, dan kesadaran orang untuk berbuat baik pada sesama. Jadi, pohon cinta menjadi bentuk ikhtiar kita untuk mewariskan perdamaian pada generasi mendatang.

Jika setiap orang menanam pohon cinta di media sosial, bisa dibayangkan betapa rimbun dan sejuknya linimasa kita. Semakin banyak orang yang membaca dan melihat konten positif atau pohon cinta yang kita tanam, semakin banyak pula pohon-pohon cinta yang tumbuh dalam diri setiap orang. Dengan demikian, semakin banyak pula investasi perdamaian kita untuk generasi selanjutnya, guna menciptakan kehidupan yang damai dan harmonis di masa mendatang.

(Artikel ini pernah tayang di Harian Analisa, edisi 7 Februari 2019)

Iklan