Memahami Perubahan Sosial (Resensi Buku Dimuat Di Koran Jakarta)

cover buku Perubahan Sosial

Judul               : Esai-esai Sosiologi Perubahan Sosial
Penulis             : Sunyoto Usman
Penerbit           : Pustaka Pelajar
Tahun              : cetakan 1, Januari 2015
Tebal               : 324 halaman
ISBN               : 978-602-229-382-8

Perubahan sosial menjadi keniscayaan perkembangan zaman. Perubahan sosial berbicara tentang mengapa dan bagaimana kondisi sosial berubah, serta dampaknya. Buku berjudul Esai-esai Sosiologi Perubahan Sosial dari Sunyoto Usman ini berisi dua puluh esai tentang akar dan proses perubahan sosial. Setiap esai disusun secara cermat dan sistematis. Selain itu, pada masing-masing esai, ditawarkan solusi terkait masalah yang sedang diulas.

Pemberdayaan masyarakat menjadi kunci dalam menghadapi perubahan sosial. Masyarakat akan turut aktif atau terseok-seok mengahadapi perubahan, bergantung pada bagaimana pemberdayaannya. Dalam hal ini, penulis mencermati masalah pemberdayaan selama ini belum menempatkan masyarakat sebagai pelaku utama. Alhasil, masyarakat kehilangan ruang pengambilan kebijakan strategis terkait kepentingan publik.

Maka penulis menggagas pengembangan model pemberdayaan yang tetap mengedepankan prinsip-prinsip budaya lokal dan mampu meredakan dampak negatif pasar bebas (hlm 50). Konkretnya, gagasan tersebut dilakukan dengan mengevaluasi kerangka pemberdayaan masayarakat yang telah dilakukan selama ini.

Diantaranya dengan memilih lokasi atau desa sebagai sasaran observasi, mengidentifikasi support for empowerment (sejauh mana masyarakat memiliki akses informasi terkait kegiatan pemberdayan), mengidentifikasi assets and capabilities, baik secara individu maupun kolektif, dan terakhir, mengidentifikasi development autcomes, yaitu melihat seberapa jauh desa telah mengalami perkembangan (hlm 66).

Selain soal pemberdayaan, perubahan sosial mengimplikasikan modal sosial yang cukup. Karena modal sosial berpengaruh pada sikap inovatif dan produktif masyarakat dalam menghadapi perubahan. Untuk memahami hal ini, penulis mencontohkan kisah kehidupan kelompok pedagang angkringan sebuah kampung di Yogyakarta yang mampu bertahan, meski dilanda krisis ekonomi yang berat.

Hasilnya menyebutkan bahwa pedagang angkringan tersebut memiliki nilai lebih yang membantu mereka tetap bertahan. Diantaranya, mereka mengembangkan trust, rasa saling percaya antar pedagang dan pemasok barang. Kedua, mengembangkan commitment, sikap saling menjaga dan melindungi antar pedagang dengan pemasok—hanya menjual makanan dari partnernya saja. Ketiga, mengembangkan reciprocity, sikap saling memberi keuntungan satu sama lain (hlm 70-71). Keberhasilan mereka bertahan, membuktikan bahwa modal sosial sama pentingnya dengan modal fisik, modal finansial dan modal keterampilan.

Modal sosial tak lepas dari pendidikan. Dengan demikian—dalam proses perubahan sosial—pendidikan menempati posisi sentral yang menentukan; pendidikan akan memunculkan generasi unggul yang turut membangun rakyat, atau justru sebaliknya; menjadi tempat lahirnya bibit-bibit koruptor yang menyengsarakan rakyat. Dalam hal ini, institusi pendidikan harus dapat mengembangkan kebebasan akademik, menyemai etika bisnis yang memberdayakan, dan kegiatan penelitian diarahkan untuk menghasilkan alternatif bagi kebijakan rezim yang berkuasa. Bukan untuk membuat legitimasi (280-281).

Selain soal pendidikan, korupsi menjadi sorotan tersendiri kaitannya dengan perubahan sosial. Kepercayaan publik bergantung pada sejauh mana pemerintah dapat menjaga kepercayaan itu sendiri. Penulis membagi respon masyarakat terhadap kasus korupsi menjadi tiga kategori. Pertama, masyarakat yang masa bodoh terhadap pelbagai tindak korupsi. Kedua, masyarakat yang melakukan perlawanan secara radikal dengan mengerahkan kekuatan yang dimiliki. Ketiga, masyarakat yang menawarkan alternatif-alternatif pemberantasan korupsi (hlm 317).

Saat ini, sedang terjadi tarik-menarik antara kalangan yang pasrah dengan kalangan yang melakukan perlawanan dan yang menawarkan alternatif pemberantasan korupsi. Kalangan yang disebut terakhir, harus bekerja keras karena dihadapkan pada realitas sulitnya memerangi korupsi. Sementara kalangan yang pasrah, kini makin memperoleh pembenar. Terutama ketika kesenjangan ekonomi semakin tinggi, integritas lembaga peradilan rendah, dan sanksi hukum terhadap koruptor dirasa masih ringan.

(Tayang di Koran Jakarta edisi Kamis 12 Maret 2015)

Iklan