Lima Rahasia agar Hidup Bahagia dan Bermakna

GEDSC DIGITAL CAMERA
Judul               : 5 Rahasia yang Harus Anda Temukan Sebelum Meninggal
Penulis             : Dr John Izzo
Penerbit           : Gemilang (kelompak Pustaka Alvabet)
Tahun              : cetakan 1, Desember 2014
Tebal               : 264 halaman
ISBN               : 978-602-71503-1-7

Hidup hanya sebentar dan membuatnya harus berarti. Setiap orang akan menemui kematian, namun tidak semua orang bisa menggunakan waktu semasa hidupnya dengan baik dan penuh makna. Buku ini hadir untuk mengungkap rahasia-rahasia dalam hidup yang perlu diketahui sebelum sesorang pergi meninggalkan dunia. Penulis memilih kata “rahasia” sebagai judul buku bukan tanpa alasan. Bahwa apa yang dikatakan sebagai sesuatu yang rahasia itu benar-benar ada.

Dalam buku ini, penulis menyusun lima rahasia dalam hidup. Lima hal tersebut disusun berdasarkan wawancara dengan ratusan orang yang telah menghabiskan sebagian besar umurnya dan merasakan kebahagiaan. Hal tersebut dilakukan karena pengalaman hidup sangat penting dan karena itu, belajar dari orang-orang yang lebih tua yang sukses, bijaksana, dan bahagia, bisa menjadi jalan untuk mendapatkan apa yang dikatakan “rahasia” tersebut di atas.

Ulasan dalam buku ini diawali dengan sebuah pertanyaan; apa yang sebenarnya kita cari dalam hidup. Teori Freud yang menyatakan bahwa dorongan utama dalam diri manusia adalah mencari kesenangan dan menghindari kesedihan, dalam buku ini ditepis. Penulis melalui pengalamannya mendengarkan cerita dari ribuan orang yang ia temui menepis teori tersebut. Penulis beranggapan bahwa hal yang paling diinginkan manusia adalah menemukan kebahagiaan dan menemukan makna kehidupan (hlm 18).

Kebahagiaan bukan berarti bersenang-senang. Melainkan kegembiraan hari demi hari yang menciptakan pengalaman yang kita sebut kebahagiaan. Dan kebahagiaan saja tidaklah cukup. Kita butuh hidup dengan makna. Jika kebahagian adalah tentang kegembiraan yang dirasakan hari demi hari, maka makna adalah perasaan bahwa kehidupan seseorang memiliki tujuan. Hidup penuh makna adalah hidup yang penuh keterhubungan. Keterhubungan dengan orang-orang sekitar untuk mengetahui bahwa keberadaan kita di dunia ini memiliki arti, memiliki makna (hlm 20).

Setelah mengetahui apa yang kita cari dalam hidup, kita mulai dikenalkan dengan lima rahasia itu satu per satu. Pertama, kita harus jujur kepada diri sendiri. Sikap jujur pada diri sendiri bukan perkara mudah. Orang lebih banyak tidak jujur dengan dirinya sendiri dan cenderung larut dengan apa yang datang dari orang lain. Biasanya bibit sikap tidak jujur terhadap diri sendiri sudah muncul sejak kecil. Alih-alih bertaya apa yang ingin kita lakukan dengan hidup kita, justru kita membandingkan diri kita dengan orang lain (hlm 42).

Rahasia kedua, adalah jangan menyimpan penyesalan. Setiap orang tentu pernah mengalami penyesalan dalam hidupnya. Penyesalan bukan untuk disimpan, melainkan dilupakan untuk segera bangkit.Tidak menyimpan penyesalan berarti hidup dengan keberanian, melangkah menuju apa yang kita inginkan, bukan lari dari apa yang kita takutkan (hlm 69-92).

Rahasia ketiga adalah, menjadi cinta. Semua orang butuh cinta, namun agar menemukan makna dalam hidup, kita tak hanya butuh dicintai.  Kita juga perlu mencintai. Inilah yang dinamakan menjadi cinta. Menjadi cinta, dapat dilakukan dengan tiga cara; mencintai diri kita sendiri, mencintai orang lain, dan kita memilih untuk menjadi cinta di dalam setiap interaksi kita (hlm 93-124).

Keempat adalah menikmati waktu setiap saat. Artinya, benar-benar menjalani setiap saat dalam hidup kita, bukan menghakimi,melainkan menjalaninya sungguh-sungguh. Kita tidak boleh terlalu memikirkan masa lalu atau masa depan, tetapi menjalani setiap saat dengan rasa syukur dan tujuan (hlm 125-141).

Terakhir, rahasia kelima adalah memberi lebih banyak daripada menerima. George, seorang ahli fisika berumur 71 tahun yang diwawancarai oleh penulis buku ini mengatakan, “cepat atau lambat Anda sadar bahwa Anda tidak akan membawa apa pun, tapi Anda bisa meninggalkan sesuatu” (hlm 153). Ungkapan George tersebut bermakna dalam. Bahwa kita tidak bisa membawa apa pun ketika kematian datang, namun orang-orang di sekitar kita dapat mengenang kita dengan apa yang kita tinggalkan semasa hidup. Maka dengan memberi lebih banyak, kita telah meninggalkan hal baik bagi orang di sekitar kita.

Tayang di Koran Jakarta edisi 30 JANUARI 2015

Iklan