Keping Sejarah yang Renyah

indonesia-poenja-tjerita

Judul               : Indonesia Poenja Tjerita
Penulis             : @SejarahRI
Penerbit           : Bentang Pustaka
Cetakan           : 1, Juli 2016
Tebal               : xviii+226 halaman
ISBN               : 978-602-291-238-5

Selama ini membaca atau belajar sejarah terkesan sebagai aktivitas berat. Orang mesti berpikir serius dan tak bisa bermain-main ketika berurusan dan membicarakan peristiwa-peristiwa besar di masa lalu. Sejarah kemudian tak diminiati banyak orang. Tanpa terkecuali ketika membicarakan narasi sejarah Indonesia. Kesan tersebut coba dibongkar oleh @SejarahRI. Media online yang digawangi para pemuda ini berfokus pada edukasi sejarah Indonesia dengan penyajian yang berbeda dari sejarah pada umumnya.

Jika selama ini stigma tentang membaca atau belajar sejarah adalah sesuatu pekerjaan berat, cenderung tidak menarik minat, dan bahkan membosankan, media yang baru berumur empat tahun ini mencoba menampilkan sisi-sisi sejarah Indonesia yang tidak mainstream atau dalam kajian sejarah disebut “sejarah alternatif” atau “sejarah kecil”. Buku berjudul Indonesia Poenja Tjerita menghimpun berbagai cerita sejarah yang sebelumnya telah terpublikasi lewat akun @SejarahR1. Kejadian-kejadian yang tak banyak terekam dalam narasi sejarah pada umumnya, episode-episode sejarah yang tercecer dari bangunan-bangunan besar sejarah yang telah ada dan kita ketahui bersama, dikumpulkan dan disajikan dengan narasi yang ringan dan renyah.

Pembaca tak dihadapkan pada narasi panjang yang rumit dan menegangkan. Namun kita diajak menyimak keping-keping sejarah yang disajikan secara renyah sehingga membuat pembaca lebih rileks, bahkan kadang jenaka dan menyenangkan. Kita disuguhi berbagai narasi sejarah unik yang berkaitan dengan tokoh-tokoh besar. Seperti Bung Karno dan Sri Sultan Hamengkubuwono IX yang gemar blusukan, kisah Soeharto dan burung beo di belakang rumahnya, kesedihan B.J Habibe atas ditutupnya proyek pembuatan Gatotkaca N-250, sampai kisah Moedjair, lelaki asal Blitar penemu ikan mujair yang pernah diangkat menjadi Menteri Perikanan oleh pemerintah Indonesia.

Tentang Bung Karno, kita akan dihadapkan pada kisah unik dan jenaka. Selain dikenal garang di podium sebagaimana kita ketahui, beliau juga dikenal dekat dengan rakyat dan gemar menguping aspirasi rakyat dari jarak dekat dengan incognita atau menyamar. Suatu ketika, Bung Karno berkata pada Mangil Martowidjojo yang menjadi Komandan Datasemen Kawal Pribadi, “Yo Mangil. Bapak ingin keluar sebentar. Bapak ingin melihat umyeke wong golek pangan di Jakarta”. Beliau pergi ke daerah Senen, di gerbong kereta api mendekati para gelandangan. Namun, tiba-tiba seorang perempuan berkata keras, “Lho, itu kan suara Bapak! Itu Bapak, ya?” Sontak orang-orang mendekat. Mangil langsung membawa Bung Karno pergi (hlm 113-114).

Selain Bung Karno, kejadian serupa juga dialami Sri Sultan Hamengkubuwono IX saat menyamar menjadi sopir jip, bahkan sampai membuat seorang pedagang beras pingsan. Di samping jenaka, kisah tersebut menggambarkan pada era kemerdekaan, kita memiliki banyak pemimpin bersahaja.

Mengejutkan

Buku ini banyak menarasikan sajarah asal-usul suatu benda, istilah, atau serba-serbi yang ada di Indonesia. Mulai dari pemilik mobil pertama di Indonesia, kantor telepon pertama, surat kabar pertama, studio musik pertama, sejarah jalan tol, riwayat penerbitan buku, mata uang tertua, juga sejarah rokok, iklan lowongan kerja, panjat pinang, sampai riwayat judi. Dikisahkan pula sejarah berbagai kuliner Nusantara seperti sambal, gudeg, sampai Tahu Sumedang. Tak hanya unik dan asyik disimak, ada hal-hal di luar dugaan yang kita dapatkan dari kisah-kisah tersebut.

Misalnya kisah Raja Kasunanan Surakarta Pakubuwono X, orang Indonesia pertama yang memiliki mobil. Raja fenomenal Kasunanan Surakarta tersebut membeli mobil empat roda bermerek Benz pada tahun 1894. Menariknya, pembelian tersebut hanya berselang delapan tahun setelah Karl Benz–penemu mobil pertama di dunia, memproduksi mobil pertama. Kemudian, fakta bahwa mobil pertama masuk tahun 1891, melalui pembelian tersebut, membuat Indonesia berada dua tahun di depan penjajahnya waktu itu. Sebab, Belanda baru menerima mobil pertamanya di Den Haag pada 1896. “Dalam hal kepemilikan mobil, kita lebih maju dari kolonial Belanda”.

Sisi menarik lain dari sejarah alternatif adalah posisinya yang tak terpisahkan dari bangunan sejarah secara utuh. Hal yang terkesan ringan bukan tak mungkin menjadi jendela untuk melihat konteks sejarah yang lebih luas. Kisah asal-usul tukang cukur menggambarkan hal tersebut. Banyak tukang cukur di pinggir jalan berasal dari Garut dan Madura. Di Jakarta, populer tukang cukur “Asgar” alias Asli Garut. Penyebaran tukang cukur Asgar dan Madura ke seluruh Indonesia ternyata tak lepas dari konflik politik.

Pemberontakan Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DI/TII), antara tahun 1949-1950 membuat banyak orang Garut mengungsi ke berbagai daerah untuk menyelamatkan diri. Konon, untuk bertahan hidup, ada yang menjadi tukang cukur dan akhirnya sukses, sehingga banyak orang Garut mengikuti jejaknya. Jauh sebelumnya, konflik politik yang lebih klasik antara Trunojoyo dan Amangkurat II pada 1677 menyebabkan pengikut Trunojoyo dari Madura bermigrasi ke berbagai daerah. Tukang cukur menjadi profesi yang banyak dipilih, kemudian memunculkan pengusaha potong rambut Madura di mana-mana.

Kita juga didedahkan dengan berbagai sejarah yang terlewatkan, juga episode-episode yang masih menjadi misteri hingga sekarang. Seperti kisah Wikana, seorang tokoh proklamasi yang belum banyak dibicarakan, perancang lambang negara Gadura Pancasila, sampai sosok wanita misterius di puncak Monas. Beberapa sejarah yang masih abu-abu, yang umumnya membuat kita mengerutkan dahi, disuguhkan dengan kemasan renyah dan mengalir sehingga ketidaktuntasan kisah seakan tak kita persoalkan, sebab kita terlena dalam narasi sejarah yang seperti didongengkan. Seperti kata jurnalis Zanuddin H.M, apa yang dipilih @SejarahRI tersebut merupakan pilihan tepat di tengah budaya lisan yang masih kuat di masyarakat kita.

Ibarat bangunan, sejarah terdiri dari bagian-bagian berbeda yang kesemuanya membentuk bangunan sejarah secara utuh. Sejarah mainstream ibarat sisi bangunan yang paling banyak terlihat dan dibicarakan. Sedangkan sejarah kecil atau sejarah alternatif, sebagaimana dihimpun buku ini, menjadi bagian bangunan yang jarang tersentuh. Dengan menelusurinya, bisa dikatakan kita telah berupaya melihat sejarah secara lebih utuh.

(Resensi ini pernah tayang di Lampung Post, edisi Jumat 28 Oktober 2016)

resensi-buku-indonesia-poenja-tjerita-di-lampung-post-jumat-28-okt-2016

Iklan